MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
tidak akan menyerah


__ADS_3

Dhiva tidak menggubris pertanyaan Ika perihal Namanya yang berbeda dengan yang diucapkan saat perkenalan pertama kali saat melamar menjadi pembantu.


Ika mendekati Dhiva yang terduduk di tepi Kasur lantai tersebut. Sebenarnya jika disebut dengan kamar sepertinya kurang layak karen sama sekali tak memenuhi standar jika ditempati seorang manusia.


“Ipah sebenarnya nama kamu siapa?”


“Ak-aku” tunjuk Dhiva pada diri sendiri.


“Ya, kenapa kamu sangat gugup Ketika ku tanya siapa nama kamu sebenarnya? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?”


Dhiva mengusap wajahnya gusar hingga menyebabkan polesan hitam itu terhapus oleh jari tangannya sendiri.


“Sebentar” ucap Ika sambil memegang wajah Dhiva yang kelihatan belang antara bekas tompel dengan kulit asli mapun tompel itu sendiri.


Diusapnya tompel Dhiva dengan tisu yang sudah dicelup air lalu diusapkan ke wajah Dhiva.


“Stop!” Dhiva mencekal tangan Ika agar tidak lancing meskipun sesama rekan kerja.


“Maaf” ucap Ika lirih.


“Tolong ini privasi aku, tolong hargai aku sebagai teman” pinta Dhiva.


Ika mengangguk perlahan mendengar permintaan Dhiva, tapi di dalam pikirannya masih menyimpan seribu pertanyaan buat Dhiva agar suatu saat mau jujur tanpa ditutupi semua masalahnya.


“Baiklah tapi lain kali jika kamu ada masalah pasti aku akan membantumu sekuat tenagaku” ujar Ika.


“Ok” jawab Dhiva tanpa bersuara seperti kode pada Ika agar tidak bertanya macam-macam lagi.


Ika melangkah keluar dari kamar Dhiva dia terus bertanya-tanya sendiri siapa Dhiva sebenarnya? Apakah mungkin detektif yang sedang mengintai gerak-gerik perbuatan keluarga Aldo, ataukah justru malah pembunuh bayaran yang diminta untuk membunuh target di kediaman Aldo? Semua hal tersebut cukup membingungkan bagi Ika.


‘Ya Allah semoga cepat terungkap semua kejahatan Tuan Aldo beserta keluarganya agar kami para pembantu tidak ketakutan terus padanya, aamiin….’ Ucapan do’a Ika didalam hatinya.


Saking larut dalam pikirannya membuat Ika tidak tau kalau di depannya ada majikan laki-laki yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua hingga menimbulkan tabrakan.


Brughh


“Ma-maaf tuan, saya tidak lihat” ujar Ika yang menundukkan kepalanya tidak berani menatap majikannya itu karena terlalu takut akan kena marah.


“Minggir lo dari hadapan gue!” usir Aldo.


Secepat kilat Ika minggir dari hadapan majikannya, Ika menghela nafas Panjang ternyata majikannya tidak marah kepadanya dan sepertinya sedang berbunga-bunga entah mendapatkan lotre ataukah apa?


&&&


Seperti biasa Dhiva selalu kebagian membersihkan kamar milik om dan tantenya yang ada di samping kamar tamu tapi agak ke dalam tempatnya. Kamar yang sangat unik begitu juga penerangannya tidak boleh terlalu terang karena Ado lebih menyukai kegelapan seperti dirinya.


Walaupun Aldo sudah menguasai harta kakek Bimantara, tapi rasa dia belum cukup karena gajinya dari CEO gadungan pun belum bisa dipercaya hampir seluruh oleh pemegang saham.


Bahkan Aldo berambisi juga untuk menguasai seluruh Indonesia dengan kekayaannya, semua masyarakat pun tak akan mengetahui jika dia juga mempunyai bisnis haram yang tidak tersentuh oleh pihak berwajib.


Aldo menerima telfon dari negeri seberang sana yang merupakan anak buahnya yang diperintah untuk meng-handle cabang di luar negeri.

__ADS_1


Aldo:


“Halo”


Xx:


“………..”


Aldo:


“Bagus, barang sudah dikirim. Hati-hati dan waspada, lo tidak sebebas di Indonesia”


Xx:


“………….”


Aldo:


“Bonus lo akan gue transfer”


Tut


Aldo tertawa lantang, dia sangat puas dengan kinerja anak buahnya yang ada di dalam negeri juga di luar negeri.


‘Ha…………….ha…………….ha………… sebentar lagi gua akan jadi orang terkaya nomor satu di Indonesia. Ha…………..ha……………ha……………’


Aldo berjalan ke ruang makan karena hanya memang dia yang telah ditunggu oleh anggota keluarganya untuk makan siang.


Saat tepat duduk di depan Dion, Aldo melihat putra kesayangannya terdapat luka lebam juga dimukanya, dipandanginya dion seklias namun sudah mengenali jenis lebam itu pasti karena serangan dari seseorang.


“Iya pa”


“Kenapa wajah kamu itu bonyok?”


“Itu tuh gara-gara pembantu jelek, dia nyerang Dion padahal Dion nggak salah”


Gleg


Ika menelan salivanya mendengar ucapan Dion ternyata hanya fitnahan yang dilontarkannya. Ingin rasanya Ika menyela dan memberi tahu tentang kejadian yang sebenarnya tapi merasa takut akan semakin diamuk oleh majikannya itu.


“Pembantu jelek yang mana? Setahu papa ada satu tuh cewek, masa iya cewek berani nonjok muka kamu?” Aldo terkekeh.


“Kalau si tompel cewek itu adeknya tompel cowok itu pa” sungut Dion.


“Kalau gitu sih biar papa aja yang kasih pelajaran buatnya. Kamu tinggal lihat aja pembalasan dari papa setelah makan Bersama ini”


Semua anak-anak Aldo mendengarkan celotehan tersebut, bahkan mereka juga berniat untuk mengerjai pembantu yang berani menentang Aldo dan Eren.


“Panggilkan pembantu baru yang berani menghajar putra kesayangan gue!” teriak Aldo pada salah satu pembantu setelah selesai makan siang Bersama.


“Ba-baik tuan” ujar Ika, biarpun mempunyai nama tapi semua majikannya sering memamggil dengan sebutan pembantu karena dianggap kastanya paling rendah menurut Aldo.

__ADS_1


Begitu mendapat panggilan dari Aldo gegas Daffa menuju ruang makan yang menjadi tempat favorit keluarga Aldo berkumpul.


Identitas Daffa masih aman sampai sekarang ini belum diketahui oleh om dan tantenya jika dia adalah keponakannya yang sengaja ingin dibunuhnya saat masih kecil, justru Daffa kini sudah beranjak dewasa dan bisa saj membalaskan dendamnya dan juga dendam orang tuanya.


“Lo yang pembantu baru itu?!” tanya Aldo dengan nada membentak.


“I-iya tuan” jawab Daffa yang dibuat seolah takut untuk menambah penyamarannya yang berhasil mengecoh semua orang di rumah ini.


“Lo sini!” teriak Aldo lagi dengan lantang.


Daffa mendekat sedikit ke depan Aldo.


Plak


Plak


“Itu tamparan buat lo yang udah ngebuat wajah anak gue lebam!” Aldo menyeringai melihat Daffa yang meringis menahan sakit di wajahnya.


Dugh


Dugh


“Itu tendangan buat lo yang udah berani nendang perut anak gue!”


“Lo mau ngeluh? Awas jika gue ngelihat lo ngeluh sakit! Gue lempar lo ke neraka!” lanjutnya lagi.


Dhiva berlari kecil memasuki ruangan saat dia mendengar suara lantang sang majikan yang enghajar pembantu di rumah itu.


Dhiva sangat terkejut saat mendapati kakaknya yang terhuyung ke belakang menahan sakit, pasti itu ulahnya omnya yang sengaja menindas para pembantunya kini.


“Tu-tuan sa-saya mohon, ja-jangan sakiti kakak sa-saya tuan” pinta Dhiva yang kini menunduk di depan Aldo.


“Lo sama kakak lo sama-sama berwajah buruk dan menjijikkan. Pergi kalian dari ruangan ini! Bisa muntah gue jika terus melihat kalian berdua disini!”


“I-iya tu-tuan” ucap dhiva terbata.


Dhiva Kembali ke kamar dengan memapah tubuh kakaknya, hal yang buruk dan sangat konyol adalah sekarang ini dengan masuk ke dalam rumah yang bagai neraka di dalamnya.


Dhiva menyibak tirai kamarnya lalau mendudukkan kakaknya di atas Kasur lantainya.


“Kakak hiks……hiks………hiks………….” Tangis Dhiva pecah di hadapan kakaknya, dia sudah tak tahan lagi melihat kakaknya akan tersakiti seperti ini.


“Dek sudah” ujar Daffa sambil memegangi perutnya.


“Kakak kita pulang aja ya kak, atau kita ke rumah Emir aja ya kak, hiks……..” ajak Dhiva yang belum bisa menghentikan isak tangisnya.


Daffa menggelengkan kepalanya, bagi Daffa hal ini adalah suatu tantangan yang harus diselesaikan agar bisa menumpas kejahatan yang dilakukan oleh keluarga kejam di rumah ini.


“Kak, aku takut di rumah ini kak” ucapp Dhiva sambil menyeka air matanya.


“Ada kakak dek”

__ADS_1


“Tapi kak, aku nggak mau mati konyol di rumah kita sendiri kak”


Daffa mendekap erat Dhiva, Daffa akan selalu menyemangati adiknya agar tidak menyerah sebelum menang mengambil apa yang menjadi haknya.


__ADS_2