MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Hamil 12 minggu


__ADS_3

Lea beserta kedua orang tuanya sudah berada didalam ruangan poli obgyn.


"Silahkan berbaring dulu ya bu" ucap dokter cantik itu sambil tersenyum mengembang dibibirnya.


"I-iya dok" jawab Lea gugup.


Eren sangat kecewa, wajahnya sangat masam begitu pula dengan Aldo.


Bukan seperti ini yang diinginkan, tapi harapan Lea menjadi gadis yang berkelas, menikah dengan putra konglomerat, menjadi sosialita, tapi kenyataan tak seindah angan-angan.


Biasanya Lea akan menjadi gadis yang beruntung sedunia, tapi kini semuanya hancur karena kelakuannya yang buruk.


"Lihat nih bunda, detak jantungnya sudah terdengar kencang kan?" tunjuk dokter cantik itu pada layar monitor.


"Sudah besar kan bun, visa lihat kan ya? Sudah umur 12 minggu lo ya"


Ha....


Mulut dua orang itu menganga, sudah selama itu kehamilan putri kebanggaannya? Bahkan kedua orang tuanya tidak tahu sama sekali jika putri mereka dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Dokter, sa-saya tidak percaya dok" kata Eren yang syok, hingga tubuhnya hampir saja luruh ke lantai kalau tidak didekap Aldo.


Dokter dan perawat saling melemparkan pandangan, akhirnya mereka faham jika apa yang dialami gadis itu adalah sebuah kesalahan.

__ADS_1


"Sebentar bapak/ibu boleh saya memberi saran mengenai putri anda?"


Dengan terpaksa Aldo menganggukkan kepalanya, rasanya berat sekali bagi Aldo, apalagi ini bukan kejadian pertama yang dialaminya.


18 tahun yang lalu Eren juga sangat menyakitkan hatinya kalau bukan demi Dion dan Lea pasti dia akan pergi sejauh mungkin.


Eren yang tidak mau jujur tentang bapaknya Shelva, dan kebenciannya berlanjut sampai sekarang.


"Tolong jaga kehamilan putri anda bapak dan ibu, jangan sampai dibuat stress, akan sangat berpengaruh pada janin yang dikandungnya" saran dokter cantik.


"Jangan lupa dijaga asupan gizi buat janin dan ibunya"


"Iya dok kalau begitu kami permisi dulu" pamit Aldo sambil memapah tubuh sang putri.


@@@


Aldo menggebrak meja dengan kerasnyakerasnya, hingga membuat Eren dan Lea takut lalu menundukkan kepalanya.


"Bikin malu!" teriak Aldo dengan kencangnya.


"Sekarang katakan siapa yang telah menodai kamu?"


Lea tak berani menjawabnya, hanya linangan air mata yang berderai jatuh membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


"Jawab j*l*ng!" umpat Aldo dengan kemarahan yang sudah menguasi kepalanya.


Eren yang tidak tega melihat putri tersayangnya dibentak, dimarahin habis-habisan oleh ayahnya, dia berdiri lalu mengusap punggung suaminya.


"Papa tenang dulu, kasihan Lea, jangan sampai dia syok pa" lerai Eren agar suaminya meredakan sedikit amarahnya.


"Ooo kamu bela anak tak tau diri ini ya? Pantas saja kelakuannya seperti itu, memang menurun dari siapa kalau bukan kelakuanmu?"


"Pa.... " Eren menutup mulutnya, aib yang sudah berusaha ditutupinya ternyata dibuka sendiri oleh sang suami.


"Apa? Memang bener kelakuanmu sama dengan anakmu!"


Aldo duduk sambil meminum air dalam gelas.


"Urus sendiri masa depanmu, papa nggak mau tau! Jangan meminta bantuan dari papa lagi! Ngerti!" hardik Aldo, lalu meninggalkan istri dan anaknya yang masih duduk disofa di dalam ruang keluarga.


@@@


Daffa yang mengintip dari balik pintu dapur senyum-senyum sendiri, baginya hal itu adalah pertunjukan yang terbaik yang dilihatnya selama didalam rumah opa nya.


"Kakak kenapa senyum-senyum?" bisik Dhiva ditelinga Daffa tapi cukup mengagetkan nya.


"Dua target sudah aman, tinggal Eren dan Aldo yang akan kita eksekusi merek!" Daffa menyeringai, kini saatnya menyusun strategi untuk merebut harta peninggalan mama papa mereka.

__ADS_1


__ADS_2