MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Keluarga Daffa


__ADS_3

"Dan juga mereka selalu mendapatkan...........hiks...........hiks.........hiks....." Bu Marni tidak mampu berkata-kata lagi jika mengingat penderitaannya merawat Daffa dan Dhiva.


"Jangan dilanjutkan bu jika ceritanya sangat membuat ibu bersedih" ucap Emir.


Sejenak Bu Marni mengingat masa lalu majikannya, memang dia tidak tau secara langsung bagaimana kehidupan mama Sherly dan papa Angga, tapi berkat informasi pembantu di rumah tersebut yang mengalami gangguan pada pita suaranya telah memberikan banyak surat pada Bu Marni.


Hidup papa Angga berubah total, setelah kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh dan seperti lenyap ditelan bumi, dan mama Sherly yang tiap hari disiksa oleh saudaranya dan juga iparnya. Dan mama Sherly seperti hilang bagaikan ditelan bumi sama dengan papa Angga.


Entah apa yang terjadi pada keluarga Bimantara, keluarga konglomerat tapi penghuninya tiba-tiba hilang satu-persatu.


Emir menepuk bahu Bu Marni hingga membuatnya tergagap saking kagetnya.


"Eh setan-setan"


"Ibu ada-ada aja deh, saya bukan setan"


"Maaf nak Emir, ibu latah hingga salah sebut" ujarnya dengan wajah sendu.


"Sudahlan bu, nggak pa-pa. Bu bolehkah saya yang gantian nungguin Dhiva, maklum kangen banget"


"Apakah nak Emir nggak capek?"


"Nggak kok bu. Saya pasti kuat, ibu jangan menganggap saya lemah lo. Bahkan saya lebih kuat daripada kak Daffa" ujarnya sembari terkekeh.


"Baiklah nak Emir, ibu percaya"


"Maaf bu saya angkat telfon dulu"


Emir segera meninggalkan Bu Marni yang masih duduk selonjoran di ruang tunggu ICU.


Setelah mengangkat telfon Emir akhirnya kembali ke tempat semula, karena dia sudah menawarkan diri untuk menjaga Dhiva di ruangan ICU.


Setelah mengirim pesan pada Daffa, Emir berlalu menginggalkan Bu Marni dan Daffa yang kini sedang istirahat ruang tunggu ICU.


&&&

__ADS_1


Di ruang kerja pak Hans Indra.


"Ser, tadi apakah sudah aman kamu menaruh gas beracun diparfum Dhiva?" tanya Hans Indra lalu menyuruh putrinya duduk di kursi depan meja kerjanya.


"Udah dong pa, sudah Serel pastikan nyawa Dhiva tidak tertolong" ujar serelia dengan tersenyum licik.


"Bagus, kerja bagus. Papa juga pengen dapet mantu kayak tuan muda Emir. Kamu harus bisa dappatkan cintanya Ser" ucapnya.


Serelia menganggukkan kepalanya, lalu Serelia membuka galeri ponselnya, banyak foto Emir yang diambil secara sembunyi-sembunyi mauupun secara terang-terangan di depan Emir langsung.


Deg deg deg


Deg deg deg


Detak jantung Serelia semakin kencang, senyum Emir yang banyak dia koleksi di ponsel semakin menumbuhkan cintanya yang tumbuh subur walaupun tanpa dipupuk.


"Ser, maafkan papa yang tidak bisa membuat kamu menjadi peringkat satu nak" sesal Hans Indra, sebenarnya dia tau kalau hal itu berdosa bagi siapapun yang telah tega dia sakiti, tapi Hans Indra yang selalu berbat kotor dan menutupinya agar tidak terlihat siapapun tak pernah menyesal sama sekali dengan perbuatannya.


"Nggak pa-pa Pa. Serel bangga sama Papa, Serel pasti akan menghancurkan Dhiva bagaimanapun caranya pa"


"Bagus anak papa, papa sangat mendukungmu nak"


&&&


"Ma, papa sangat puas dengan pencapaian kita saat ini" ucap seorang lelaki paruh baya yang masih dalam posisi tidur disamping istrinya.


"Mama juga pa, akhirnya kita bisa merebut semua yang dipunyai Sherly, dan siapa yang sekarang dielu-elukan kalau bukan keluarga kita, ya kan pa?"


"Ma, kira-kira dua anak dari saudaramu itu masih hidup apa nggak ma?"


"Kejadiannya sudah berlalu sangat lama ya pa? Delapan belas tahun yang lalu kan pa? Mama sudah menduga dua bocah itu bakalan mati kelaparan. Ha........ha..............ha.............." suara lantang penuh dengan kebencian yang mendalam semakin menggema di dalam kamar.


Daffa dan Dhiva tak pernah mengetahui jika selama ini harta dari keluarganya yang dikelola om dan tantenya sangatlah tak terhitung dari sekian banyak aset dan juga beberapa cabang perusahaan dan juga juga usaha kuliner yang sudah ada beberapa cabang di luar kota juga.


Bahkan selama ini Daffa dan Dhiva hidup penuh dengan ujia dan cobaan, terutama para tetangga yang julid yang selalu mencemooh Daffa dan Dhiva apalagi Bu Marni yang selalu mendapat julukan 'wanita nakal'.

__ADS_1


"Pa, apakah kita sudah bisa membalik nama semua aset kepemilikan dan juga perusahaan dan cabangnya menjadi milik kita?" suara berat khas tante Eren yang terus-terusan membujuk suaminya.


"Entahlah ma kayaknya sulit banget" jawab suaminya, yang mempunyai nama Aldo.


"Bagaimana kalau semua datanya kita palsu saja?" usul tante Eren.


Aldo mengangguk-nganggukkan kepalanya pelan tanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh istrinya tadi.


Sepertinya keluarga tante Eren sangat keterlaluan, mereka sudah boleh menempati dengan gratis malahan merebut semua apa yang dipunyai oleh mama Sherly dan papa Angga.


Saat Aldo dan Eren berjalan bersisihan menuruni tangga, mereka sungguh melihat pemandangan yang tidak mengotori mata. Gimana mata nggak kotor kalau melihat putra sulungnya yang sangat dibangga-banggakan membawa wanita nakal ke rumah dan sedang bercumbu mesra di sofa panjang di ruang keluarga, tempat bersantai bersama.


"Dion, kamu bawa wanita nakal lagi ke rumah?" pertanyaan papa Aldo yang menggema di seluruh ruangan membuat Aldo menghentikan aktivitas panasnya dengan wanita yang disewanya.


Memang bukan nakal seperti yang dijumpai dijalanan, wanita nakal itu sangat berkelas, maklum aja Dion yang ikut bermandikan uang berkat kekayaan kakek Bimantara mampu untuk menyewa wanita nakal dengan biaya sewa yang mahal itu.


"Ck! Papa sangat mengganggu kegiatan ku pagi ini!" sewot Dion.


"Kamu yang apa-apaan Dion! Papa nggak suka kalau kamu selalu bawa wanita bekas ke rumah papa ini!" hardik papa Aldo.


"Daripada bawa nakal ke rumah terus, mending kamu pacarin itu anak walikota biar papa juga ikut punya nama besar seperti mereka" lanjut papa Aldo, emang dasar keluarga serakah.


"Tapi pa, pacaran dengan anak walikota itu butuh modal gede banget pa"


"Ya nggak apa-apa pasti papa modalin jika kamu berhasil pacaran, apalagi jika dengan sukarela nyerahin tubuhnya padamu, pasti itu akan jadi senjata ampuh agar kamu cepat menikahi anaknya walikota" ucap papa Aldo dengan bangga.


Mama Eren yang mendengar rencana dua lelaki di depannya tersenyum bahagia dan bangga, lamunannya terbang tinggi saat membayangkan bisa shopping dengan besannya yang menyandang sebagai istri walikota.


"Ma...." panggil papa Aldo sambil menepuk bahu istrinya pelan.


"Pa-papa, ngagetin aja"


"Mama ngelamunin apaan sih? Kok segitunya banget hingga nggak dengar saat papa panggil"


"Nggak kok pa. Mama cuma ngebayangin aja saat kita jadi besan walikota" jawab mama Eren sambil cengar-cengir.

__ADS_1


Mama Eren memicingkan matanya saat ia melihat sekilas si wanita nakal yang belum diantarkan pulang oleh Dion kelihatan tersenyum mengejek mama Eren.


"Apa kamu lihat-lihat? Dion..........usir wanita sialan ini dari rumah mama!"


__ADS_2