MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
gara-gara air pel


__ADS_3

“Nak Ipah pagi ini kamu ya yang gantiin Ika ngepel, tiba-tiba Ika demam jadi tidak bisa bekerja hari ini” kata bik Sumi sembari menyerahkan kain pel yang diambil dari ruang belakang.


“Iya bik, saya akan kerjakan. Tapi kerjaan saya yang nyetrika sama bersih-bersih halaman depan dan belakang belum bik” ujar Dhiva memohon.


Bik Sumi terkekeh melihat ekspresi Dhiva saat ini, tompel palsu itu seperti gerak-gerak sendiri seperti ingin mengelupas.


Bik Sumi menyentuh pipi Dhiva sekilas, dugaan bik Sumi memang bukan apa-apa tompel itu, mungkin tanda lahir yang sedari bayi dan semakin lebar saat beranjak dewasa.


“Maaf nak, bibik lancang”


“Nggak apa-apa bik, walaupun ini jelek dan bahkan orang sering bilang tompel ini menjijikkan tapi Ipah senang bik” jawab Dhiva.


“Iya, bibik juga tidak menghina kok nak, Cuma bibik takut saja jika tompelmu itu sakit berarti bukan tompel biasa”


Dhiva menggelengkan kepalanya seolah memberi tahu jika tompelnya hanyalah palsu untuk menutupi penyamarannya, tapi dia urung memberi tahu jikalau penyamarannya bocor usaha untuk menyelamatkan harta papanya bisa gagal total.


“Ipah ngepel dulu ya bik” pamit Dhiva kemudian beranjak ke ruang tengah kemudian Lorong di sekitar kamar Lea dan Shelva.


Dhiva menggunakan kain pel seperi yang biasa Ika pakai, jika masih agak basah pasti akan mengelap dengan kain pel yang sudah kering lainnya.


Tapi sungguh apes kali nasib Dhiva…


Sreett


Bluk


Nona muda alias mak lampir alias Lea terpeleset dengan air pel yang masih dalam keadaan basah di Lorong sekitar kamar Lea dan Shelva, dia menjerit, mengumpat bahkan menyumpahi Dhiva karena memang Dhiva kali ini yang mengambil alih pekerjaan Ika.


“Dasar j*l*k, g*bl*k! Ngepel aja lo gak becus! Berapa lo digaji sama mamah gue? Untuk beli baju gue yang tidak bagus pun nggak cukup gaji lo!”


“Ma-maaf nona, saya benar-benar tidak tahu non” ucap Dhiva terbata, walau bagaimanapun harus diselesaikan dengan baik-baik, bukan malah sibuk mencari pembenaran diri terus menerus, batin Dhiva.

__ADS_1


“Sini lo!” bentak Lea.


Suara Lea yang lantang membuat Shelva bangun dari tidurnya, tepatnya tidur kedua setelah sholat subuh.


Shelva keluar kamar lalu menghampiri kakak perempuannya yang tengah mengintimidasi seseorang pembantu agar lebih berhati-hati dalam bekerja dan mengutamakan keslematan bagi penghuni rumah.


“Kakak udah, kakak nggak usah memperpanjang masalah ini apalagi kalau sampai ketahuan papa dan abang” ucap Shelva yang memang nada bicaranya merendah yang berbeda dengan Lea.


Lea berbalik menatap tajam mata Shelva, “Maksud kamu apaan dek? Kamu membelanya?” Shelva melotot seolah biji matanya hendak keluar begitu saja.


“Bukan kak, Shelva hanya ingin kakak menjadi orang yang berbesar hati mau memaafkan kesalahan orang yang walaupun itu besar” tutur Shelva agar mengenai hati kakaknya tapi entah itu akan menjadi petuah, atau hidayah dari sang Maha Pencipta jikalau Lea mau memaafkan begitu saja.


“Bukan urusan kamu! Ngerti!” bentak Lea yang wajahnya berjarak sepuluh centi meter dari wajah adiknya.


Shelva hanya bisa mengelus dadanya mendengar bentakan kakaknya, memang semua keluarganya bagai keturunan dari iblis yang kelakuan semua minus seperti setan, tapi hanya menyisakan satu anak yang baik hati bagi semua orang, tapi justru dibenci oleh keluarga Shelva sendiri.


Byuuurrr


Air pel kotor yang dalam timba itu disiramkan dari rambut Dhiva hingga membuat Dhiva basah kuyup, kejadian-kejadian buruk sungguh seperti mengintai dirinya dan juga kakaknya.


“Ha…………..ha………….ha…………itu pantes lo dapetin! Udah jangan nangis! Cengeng banget sih!” Lea semakin mendekat ke arah bahkan sudah dua kali menoyor kepala Dhiva.


“Apa lo lihat-lihat gue?! Emang enak basah-basahan kayak gitu! Itu belum seberapa dibanding dengan sakit saat gue jatuh tadi!” lanjut Lea lagi.


Lea yang akan menampar Dhiva menghentikan sejenak saat dipanggil oleh seseorang dilantai bawah, begitu menjawab panggilan itu membuat Lea lupa jika akan menampar pipi Dhiva yang masih tertutup penyamaran.


“Iya pa, Lea meluncur ke bawah”


Singa betina sudah berlari ke arah induknya, kini tinggal seekor kelinci yang lembut masih mematung di depan Dhiva.


“Enggak usah sedih, kalau kamu butuh bantuan, hubungi aku aja di nomor ini” ujar Shelva sambil menyodorkan kertas kecil yang sudah ia siapkan kepada pembantu siapapun.

__ADS_1


Dhiva menerima bantuan Shelva yang mau mengeringkan lantai depan kamarnya, Dhiva merasa heran dengan kelakuan om dan tantenya itu, seolah nggak ada niat untuk memberikan kebahagiaan kepada Shelva yang juga merupakan putri mereka. Terlihat jelas dimata Shelva ada banyak luka yang disembunyikannya di dalam hatinya itu.


&&&


Ari ini seperti biasa Bu Marni berjualan gado-gado di tempat mangkalnya, tapi walaupun bu Marni menjaga barang dagangannya tapi tidak dengan hatinya yang entah kemana, sepertinya hati Bu Marni sedang Bersama Dhiva dan Daffa yang berada di rumah nya sendiri tapi bagaikan hidup di neraka.


Dada bu Marni berdenyut ada yang sakit dihatinya jika mengingat kedua anak angkatnya, seandainya bisa memilih pasti bu Marni akan menghalangi kepergian anak angkatnya yang ingin menyelamatkan kekayaan orang tuanya tapi sangat beresiko tinggi.


“Bu beli gad-gado satu” ucap pembeli yang masih memperhatikan bu Marni yang masih diam saja, “Bu………..” panggilnya lagi sembari menggoyang-goyangkan lengan bu Marni.


“Eh i-iya, maaf” bu Marni menyeka tetes air mata yang jatuh di pipinya, “Mau beli berapa mbak?”


“Satu saja bu. Maaf yang tadi ya bu sudah mengagetkan”


Bu Marni menggelengkan kepalanya, lalu meracik gado-gado seperti biasa, gado-gado Bu Marni adalah yang paling favorit karena bahannya juga berkualitas, termasuk juga sambalnya.


Saat setelah kepergian pelanggan bu Marni, ada sekelompk gadis yang masih muda dan cantik seprti Dhiva menghampiri bu marni yang masih duduk bengong di balik gerobak gado-gado milikny bu Marni sendiri.


Salah satu gadis itu yang memesan gado-gado pada bu Marni, dia memperkenalka diri sebagai sahabat Dhiva yang paling akrab, bahkan masalah keluarga pun semua sahabatnya juga mengetahui. Persahabatan mereka bukan persahabatan biasa, namun sudah seperti saudara dan bagian keluarga.


“Ibu…….” Sapa Sinta, jika dengan orang tua Sinta pasti akan menjadi kucing peliharaan, tapi jika dengan orang yang jahat pasti akan melawan.


“Iya saya sendiri, apakah anak-anak cantik ini mencari putri ibu?” tanya Bu Marni sambil memandang wajah mereka bergantian.


“Bu gimana keadaan Dhiva sekarang?”tanya Veli karena dia memang sedang dilanda rindu berat yang menyiksa.


“Ma-af” jawab bu Marni yang tak sanggup menatap wajah para gadis di depannya.


“Bu Marni bolehkah saya tau keadaanya bik?”


“Dhiva tiak di rumah nak, Dhiva ke kota untuk menjalankan misinya………”

__ADS_1


__ADS_2