
Semua para tamu undangan melongo dibuatnya, siapapun tau Tuan Haruga Prasetyo. Seorang pebisnis kondang yang sukses dari usia mudanya hingga saat ini mempunyai putra yang sudah lulus SMA, perusahaannya sudah mempunyai puluhan cabang yang tersebar di Indonesia.
“Ta-tapi”ucapan Hans Indra terbata-bata.
Lendy Anggara menghadap tamu undangan sambil memegang microphone di tangan kanannya. “Mohon maaf para penonton, kami sudah membuat gaduh dan kacau acara ini” Lendy melirik Hans Indra sekilas dengan lirikan tajam yang sarat akan makna.
“Perlu saya luruskan disini para tamu undangan, sebenarnya Tuan haruga adalah donor terbesar di Yayasan milik yang terhormat bapak Hans Indra, karena kebetulan putra Tuan Haruga memang bersekolah di SMA ini. Putra tuan Haruga yaitu tuan muda Emir Ghifari Prasetyo”
Suasana makin ramai dan tidak bisa dikendalikan, mungkin mereka semua terkejut dengan Emir yang tiba-tiba adalah putra konglomerat, yang notabene ikut neneknya didesa tapi hidup dengan kesederhanaan yang diajarkan neneknya selama enam tahun Bersama sang nenek.
“Mohon maaf para tamu undangan sekalian mohon untuk tenang sebentar” ucap MC yang langsung diturutin oleh semua tamu undangan.
Lendy melanjutkan lagi perkataannya sekaligus info untuk semua orang yang ada di aula tersebut. “Tuan haruga sangat membenci adanya kecurangan dan tipu muslihat, bagaimana jika sampai berita ini terdengar langsung di telinga Tuan haruga, pasti beliau akan kecewa berat dan entah bagaimana dengan kelanjutan masa depan sekolah ini?”
Suasana makin hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, dan ikut memikirkan dengan kelangsungan hidup sekolah ini di masa yang akan datang.
Tanpa pikir Panjang lagi dan tanpa meminta persetujuan dari pihak manapun, dengan berat hati Tuan Hans Indra menjatuhkan harga dirinya dengan berlutut di depan asisten Tuan Haruga. Wah-wah palagi kalau udah ketemu sama bos besar, pasti hans Indra bingung mau ngapain, yang pasti lebih dari sekedar berlutut kan.
“Eh-eh tuan Hans, kenapa anda berlutut? Tolong jangan lakukan hal ini di depan para tamu undangan. Ini akan sangat mempengaruhi kewibawaanmu” terang Lendy yang merasa tak enak hati.
“Tidak apa-apa tuan, yang penting Tuan Haruga masih akan tetap menjadi donator terbesar di Yayasan yang saya miliki ini” cicit Hans Indra yang membuat tamu undangan tercengang.
Dari sekian banyak tamu undangan sudah dapat menyimpulkan bahwa Hans Indra ayahnya Serelia sangat tergila-gila dengan harta dan mengenyampingkan harga drinya asal hidupnya bertumpukan dengan harta.
Disisi lain Serelia mengepalkan tangannya, dia sangat kecewa dengan sikap ayahnya yang menjual harga dirinya hanya demi uang, yang tentu saja sumbangan uang dari Tuan Haruga
Sebagian untuk kesenangannya sendiri dan keluarganya, baru sisanya untuk kemajuan Yayasan.
__ADS_1
“Papa, kenapa papa berbuat kayak gitu? Sungguh memalukan! Dhiva, walaupun aku kalah dalam hal ini, kupastikan besok kamu hanya tinggal nama!” Serelia benar-benar marah dan berlalu dari aula tersebut.
&&&
“Baiklah para tamu undangan semuanya, sekarang saya bacakan ulang untuk peringkat pertama kelas dua belas diraih oleh Ananda Dhiva Puspita. Kepada Ananda Dhiva dan wali dimohon naik ke atas panggung”
Prok prok prok
Prok prok prok
Suara tepuk tangan sangat riuh menyambut kemenangan Dhiva sesuai dengan edaran kelulusan yang sudah diterima oleh wali murid kelas dua belas semuanya.
Dhiva mendapat bucket bunga mawar yang besar dari pihak sekolah, dan ada bucket bunga lily kesukaannya. Dhiva tersenyum Bahagia kala membaca pengirim bucket bunga liliy tersebut yang tak lain adalah kekasihnya, Emir.
“Baiklah para tamu undangan untuk acara yang terakhir adalah ramah tamah dan sesi foto. Silakan dinikmati hidangan yang telah kami sediakan” ucap MC dan mengakhiri acara dengan penuh khidmat.
Dhiva mengambil segelas jus kesukaannya dan memilih duduk menyendiri didepan aula tepatnya di pinggir taman bunga. Serasa banyak kesedihan yang tersirat di wajah cantiknya.
Daffa tersenyum lebar Ketika melihat Dhiva yang duduk menyendiri.
“Dek, ngapain disini sendirian?” tanya Daffa yang membuat Dhiva terkejut bukan main sampai mengelus dadanya.
“Ka-kakak. Aku hanya ingin cari angin aja”
“Kamu kan udah mendapatkan peringkat sesuai dengan file yang dikirimkan ke semua wali murid. Apa yang kamu cemaskan lagi?”
Dhiva memejamkan matanya, menghirup udara dalam-dalam. “Aku hanya ingat ibu, kenapa ibu tadi tidak kita ajak untuk berkumpul Bersama dalam acara bahagiaku kak?”
__ADS_1
“Tapi dek, ibu itu sangat sensitive, jika tadi ibu disini dan melihat pengumuman yang tidak sesuai justru ibu akan sangat kecewa dan mempengaruhi tekanan darahnya” penjelasan Daffa sangatlah masuk akal dan Dhiva menerima alasan yang diungkapkan oleh kakaknya.
“Ayo kita pulang dek, tadi kamu dapet banyak kado-kado dan bucket bunga dari teman-temanmu. Gimana kita ambil lalu dibawa pulang atau gimana?”
Mendengar perkataan sang kakak, dhiva mengingat kalau tadi juga dapat bucket dari Emir dan paperbag yang berisi hadiah dari sang pacar.
Mendengar perkataan sang kakak, dhiva mengingat kalau tadi juga dapat bucket dari Emir dan paperbag yang berisi hadiah dari sang pacar.
mber kebahagiaan ibu nak”
Bu marni dan kedua anaknya menangis sebentar, tangis Bahagia yang mereka tumpahkan hari ini. Rasa bangga yang terukir dibibir bu Marni karena telah membesarkan Daffa dan Dhiva yang menjadi murid cerdas dan berbakti pada orang tua.
Kini saatnya unboxing kado yang sebanyak tiga kantong kresek besar, dengan cekatan Daffa membantu Dhiva untuk meletakkan kado-kado tersebut ke lantai.
“Dek, ini kok ada kado yang bungkusnya aneh ya?” Daffa mengamati bungkus kado yang terbilang kecil seukuran genggaman tangan Daffa.
“Oh biarin aja dulu kak. Aku ingin membuka kado dari Emir dulu, pasti dia kasih aku yang nggak akan aku lupain” gumam Dhiva lalu membuka paperbag dari Emir yang tadi dititipkan oleh Lendy asisten Tuan Haruga dan merangkap asisten tuan muda Emir.
“Wow boneka winnie the pooh kesukaanku. Makasih sayang” gumam Dhiva sambil mencium boneka winnie the pooh berkali-kali.
Kini saatnya lagi unboxing kado yang tadi disodorkan oleh kakaknya. Keliihatannya Cuma kado kecil saja, tapi apa salahnya membukanya daripada penasaran.
Dhiva kagum, ternyata kado kecil itu adalah merk parfum branded yang lagi booming, mungkin dari seseorang yang punya banyak uang hingga dengan sukarela menjadikannya kado buat Dhiva.
Dhiva menyemprotkan parfum tersebut diujung bajunya dan menciumnya perlahan, wangi parfum itu terasa aneh di hidungnya Dhiva dan ia tidak menyadari hal itu,
tapi…….
__ADS_1
“Dhiva bangun dek. Dhiva……………”
“Dhiva bangun nak, kamu kenapa nak? Dhiva………….. tolonnnng………………”