MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
sembuh


__ADS_3

"Alhamdulillah akhirnya Dhiva sadar kamu nak" Bu Marni membelai rambut putri kesayangannya itu.


"Ibu, Dhiva dimana?" tanya Dhiva yang melemah karena kondisinya belum stabil.


"Kamu di rumah sakit sayank"


"Kenapa bu?"


"Sudahlah jangan bertanya apapun dulu, yang penting kamu sehat dulu agar cepat pulang nak, pacar kamu sudah nungguin kamu dari kemarin" celetuk Bu Marni yang sangat membuat hati Dhiva menjadi berbunga-bunga.


"Benarkah itu bu? Bolehkah Dhiva bertemu dengan Emir?"


Bu Marni menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Dhiva yang masih tergolek di ruang ICU. Bergegas Bu Marni memberi tau Emir dan ke ruangan dokter untuk memberi tahu jika pasien telah siuman.


Tak lama kemudian dokter serta Bu Marni masuk ke dalam ruangan ICU bersama-sama.


Setelah mengecek kondisi Dhiva dan sudah membaik, kini Dhiva sudah boleh dipindahkan ke ruang rawat sesuai yang dipesan oleh Emir.


"Ya Allah terima kasih karena putri hamba sudah selamat dari masa kritisnya" ucap Bu Marni tulus.


Aamiin................. Ucap mereka bersama-sama.


"Daf, ayo sayank kita tinggalkan Emir dan Dhiva, kasihan Emir jauh-jauh pasti kangen sama Dhiva. Beri mereka ruang sebentar ya" pinta Bu Marni.


"Ta-tapi bu"


"Sudah ayo" ajak Bu Marni sambil menggandeng Daffa.


"Nak Emiir tolong temani Dhiva ya, kami mau mencari makan dulu" ujar Bu Marni.


"Baik bu dengan senang hati" begitulah Emir, bawaannya yang tenang da penuh wibawa calon pemimpin masa depan pujaan para wanita.


&&&


Kejadian di kantin

__ADS_1


"Ibu duduk dulu ya, Daffa akan pesankan makanan buat ibu" kata Daffa yang berlalu meninggalkan ibunya di meja paling pojok.


Kantin rumah sakit ini memang terbilang ramai, banyak orang yang makan ditempat ini ketimbang pulang untuk mengambil bekal untuk dimakan saat menunggui anggota keluarganya yang sakit.


Daffa melirik gerombolan ibu-ibu dari desanya yang berjalan di depan kantin entah mau menjenguk siapa mereka? Daripada urusannya panjang Daffa memilih menutupi wajahya dengan sebungkus kerupuk yang di pajang di rak khusus jajanan.


"Mbak saya pesen nasi rames dua sama es teh, tolong diantar ke meja paling pojok ya" tunjuk Daffa.


"Baik mas"


'Aduh mati aku kalau sampai ibu-ibu tukang gosip itu menjenguk Dhiva, bisa panjang urusannya. Apalagi sedang berduaan dengan Emir'


Daffa menepuk-nepuk jidatnya beberapa kali mencari solusi agar bisa dicegah barang sebentar.


"Bu, Daffa mau ke toilet bentar ya. Kalau ibu mau makan dulu nggak pa-pa, Daffa udah nggak nahan" alasan yang sangat klise. Tapi Bu Marni tetap mempercayai anak lelaki kesayangannya itu.


Setelah mengendap-endap akhirnya sampai juga di depan kamar Dhiva, namun sayang Daffa kalah cepat dari ibu-ibu rempong tadi. Daffa menguping dari pintu jikalau adiknya mendapat kata-kata yang menyakitkan, pasti Daffa akan bertindak cepat melindungi adiknya.


Di salam ruangan Dhiva.


"Belum tau bu" jawab Dhiva pelan.


"Sakit kok belum tau! Nggak mungkin kan nggak diperiksa!" Dasar ibu-ibu julid emang minta di kasih sambal tuh mulutnya.


"Eh Bu Sofyan jangan ngomong kayak gitu dong. Kan nggak pantes" tutur seorang ibu yang lainnya.


"Halah! Orang miskin nggak usah mikir pantes atau nggak! Lagian saya heran kok mau-maunya Emir yang akan konglomerat mau-maunya pacaran sama gadis kampungan kayak Dhiva! Apa istimewanya?" cerocos Bu Sofyan yang tak tau malu.


"Ibu-ibu saya mohon maaf tolong hargai privasi saya dan Dhiva, kalau menjenguk tolong jangan membuat keributan disini! Saya yang memilih Dhiva untuk masa depan saya, satu lagi ya ibu-ibu yang perlu ibu-ibu ketahui semuanya jika kak Daffa dan Dhiva sebenarnya adalah keturunan dari Bimantara Corp yang dititipkan pada Bu Marni. Suatu hati nanti mereka akan kembali kepada keluarganya" terang Emir panjang lebar agar semuanya mengerti.


Semua ibu-ibu yang hadir manggut-manggut, bahkan beberapa diantara mereka sudah tau siapa pemilik Bimantara Corp itu.


"Maaf Bu Sofyan, kita kesini akan menjenguk Dhiva dan tidak membuat keributan disini. Maaf ya nak Dhiva dan nak Emir. Kalau begitu kami pamit pulang ya, dan maaf sekali lagi telah membuat kacau disini" ucap bu RT lagi.


"Ya bu RT saya nggak pa-pa kok. Makasih ya bu RT sudah mengunjungi saya"

__ADS_1


Setelah kepulangan ibu-ibu rempong tadi, Dhiva dan Emir bisa bernafas dengan lega.


&&&


Esok harinya.


Kondisi dhiva sudah sepenuhnya stabil dan sudah boleh pulang, apalagi dhiva juga sudah bosan berada di rumah sakit tidak bisa melakukan kegiatan apapun.


"Alhamdulillah dek akhirnya kamu sudah boleh pulang nanti siang" ucap Daffa dengan senyum yang mengembang. "Sebentar dek kakak mau lunasi dulu pembayarannya"


"Kak maaf bukannya saya lancang, tapi semua biaya perawatannya Dhiva sudah saya lunasi" kata Emir menunduk lesu takut dimarahin oleh calon kakak ipar.


"Benarkah? Alhamdulillah, makasih ya Mir. Saat ini emang aku lagi nggak punya uang" Daffa merangkul pundak Emir, tidak salah memang jika Dhiva sangat mencintai Emir, begitu banyak kelebihan yang Emir punya.


"Kalau begitu ibu akan berkemas dulu, biar nanti kalau sudah waktunya pulang enak tinggal berangkat"


Deg


Hati Bu Marni berdesir, rasa takut ditingalkan begitu besar menguasai egonya yang enggan melepas Daffa dan Dhiva merebut kembali apa yang menjadi haknya.


"Ibu kenapa melamun?" tanya Daffa yang membuyarkan lamunan Bu Marni.


"Ibu sedih nak, ibu sayank banget sama kalian tapi ibu takut kalian meninggalkan ibu. Hiks...hiks...hiks..." tangis Bu Marni pecah hingga membuat Dhiva dan Emir berkaca-kaca.


"Maksud ibu apa? Kami tidak akan meninggalkan ibu" ujar Daffa meyakinkan.


"Daffa, Dhiva. Mama dan papa kalian adalah majikan ibu saat ibu bekerja ikut orang tua kalian di Jakarta" Daffa dan Dhiva menganga tak percaya, kecuali Emir yang memang sudah curiga sejak lama, karena paras Daffa dan Dhiva memang sangat berbeda, hampir mirip antara anak majikan dengan pembantu.


"Saat sebelum ibu pulang ke desa, mama kalian menitipkan surat itu pada ibu dan surat itu bisa diberikan saat kalian sudah dewasa" ucap Bu Marni sambil menyeka air matanya.


Daffa sangatlah sedih, dia hanya bisa bersandar di pundak ibunya yang badannya lebih kecil darinya. Selama ini dia sudah berusaha mengabaikan omongan orang lain tentang siapa dirinya dan adiknya sebenarnya, tapi akhirnya kenyataan ini hadir di hadapannya, mau tak mau harus menghadapinya.


"Bu, apakah ibu tau isi surat itu?" tanya Dhiva dengan bibir bergetar, tak terasa air matanya juga ikut luruh ke pipinya.


Bu Marni menggelengkan kepalanya, dipeluknya erat tubuh Daffa, rasa takut meninggalkan ibu angkatnya membuatnya begitu lemah saat ini.

__ADS_1


"Ibu.....Daffa sayaaaang.........banget sama ibu. Bolehkah Daffa tidak usah ke kota mengambil apa yang menjadi hak Daffa dan Dhiva?"


__ADS_2