MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
mengikuti Ika


__ADS_3

Dhiva pulang dalam keadaan sangat bahagia, selama ini dia sangat menantikan pertemuannya dengan kekasih hati, belahan jiwa.


"Eh babu! Lap tuh se-pa-tu gue!" bentak Lea sambil melempar sepasang sepatu yang masih bersih.


"Ba-baik nona" jawab Dhiva sambil menunduk kepalanya.


"Cepat dong! Lemot amat sih jadi orang!" sewot Lea yang mulai nendang-nendang kecil kaki Dhiva.


'Awas aja jika gue udah nemuin bukti! Lo, gue lempar ke laut!' monolog Dhiva dalam hatinya.


Dhiva membawa sepasang sepatu anak majikannya itu ke dalam rumah, tidak butuh waktu lama selesai sudah membersihkan sepatu itu, memang tidak kotor.


Dhiva yang merasa kecapekan langsung menuju kamarnya.


Sayup-sayup Dhiva mendengar suara isakan tangis dari kamar sebelah tepatnya kamar yang ditempati oleh sahabat barunya.


Cklek


Dengan hati-hati Dhiva masuk ke kamar Ika, sekilas Dhiva melirik meja Ika ada alat kecil panjang, dia yang belum pernah melihat alat apa itu menjadi penasaran dibuatnya.


'Apa sih artinya garis dua ini?' gumam Dhiva.


Dhiva menutup mulutnya dengan satu tangan kanannya, dalam keterangan tes kehamilan itu ternyata dua garis menunjukkan jika sedang hamil.


'Ya Tuhan, apa artinya semua ini?' Dhiva mengacak rambutnya dengan kasar.


Ika segera menghapus air matanya yang masih berderai membasahi pipi nya yang chubby.


Ika bukan gadis yang jelek, ia cukup manis dan tidak membosankan jika dipandang.


Grep

__ADS_1


Dhiva memeluk erat sahabat nya.


"Ika, jangan pernah pendam sendiri semua penderitaan mu, aku janji akan membantu mu sebisaku" bisik Dhiva yang ikut menangis.


Ika menggelengkan kepalanya, ancaman tuan mudanya membuat Ika menjadi orang yang lemah tak berdaya.


"Dion kan yang sudah menodai kamu?"


Ika tak mau membuka mulutnya, Ika hanya bisa menangis dalam diamnya.


"Ka, aku janji dan kakakku akan membalaskan sakit hatimu" ucap Dhiva sembari mengelus rambut sahabatnya.


@@@


Suasana rumah tampak sepi tak ada penghuni, Aldo sekeluarga pergi keluar kota, bik Sumi dan bik Inah pulang kampung, sedangkan satu satpamnya disuruh ke bengkel benerin mobil satunya.


"Ika... " panggil Dhiva sambil membuka tirai kamar disamping kamarnya.


Dhiva celingukan melihat sekeliling, padahal saat ini dia bermaksud menyelidiki tiap kamar majikannya kali aja dapat petunjuk.


Drap drap drap


Dhiva mendengar suara langkah kaki diruang keluarga sepertinya lebih dari satu orang.


Dengan langkah berhati-hati Dhiva mengintip perlahan, mulut Dhiva menganga melihat Ika yang mulutnya dibekap dipaksa diajak berjalan oleh seorang lelaki entah siapa itu?


"Apakah itu Dion?"


Memang benar lelaki muda itu adalah Dion karena mereka memasuki kamar yang sama dengan kamar anak majikannya.


Setelah pintu tertutup, gegas Dhiva berlari kecil menuju pintu tempat masuknya tadi dua insan.

__ADS_1


"Rupanya tidak dikunci" gumam Dhiva.


Terdengar dari dalam suara tangisan dan rintihan seorang wanita.


'Apakah itu Ika?'


"Jangan tuaaan... "


"Ampuunn.... "


Brak


"Ya Tuhan suara apa itu?"


Dhiva terus bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya, apakah Ika dibanting diatas meja atau kah Ika dihajar yang lebih sadis lagi?


"Tidak dapat dibiarkan ini!"


Dengan kilat Dhiva menghubungi Daffa agar bergegas ke kamar Dion.


Tak lama Daffa sudah berdiri disamping adiknya.


"Sudah siap?" tanya Daffa.


Ehm


Dhiva menganggukan kepalanya.


123 Brakkk


Daffa mendorong keras pintu yang tidak terkunci tersebut dengan kerasnya.

__ADS_1


__ADS_2