
“Dek kenapa kamu nangis?” tanya Daffa sambil mengusap air mata Dhiva yang jatuh berderai dipipinya.
“Kakak, maafin Dhiva kak…….”
Daffa mengelus rambut Dhifa yang disanggul sedikit karena saat ini adalah saat mendebarkan wisudanya kelas dua belas.
“Kamu kenapa sih dek? Minta maaf sambil nangis-nangis, udah buat salah sama kakak dan ibu?” tanya Daffa sambil merengkuh pundak Dhiva.
Dhiva tak mampu menjawab pertanyaan kakaknya, ia hanya bisa terisak didekat kakaknya.
Keempat sahabat Dhiva yang masih berbalas chat di aplikasi hijau mengaku sangat terkejut, posisi keempat sahabatnya masih aman di peringkat 3 sampai enam, tapi peringkat satu malah bergeser jauh diatas sepuluh besar. Grou yang beranggotakan lima gadis yang sudah bersahabat sejak kelas sepuluh sampai kelas dua belas.
Group gadis anggun dan baik hati :
Bella : “Gaess, aku nggak percaya dengan pengumuman barusan”
Sinta :”Aku setuju dengan ucapanmu Bel, padahal kita udah lihat pengumuman kemarin yang dipasang di papan pengumuman depan perpus nyata kalau Dhiva peringkat satu, kok sekarang kenyataannya kayak gini sih?”
Veli :”Aku kok jadi kepikiran sama gertakan Serelia kemarin”
Fitri :”Gertakan yang mana?”
Bella :”Emangnya kamu kemarin lagi tidur atau apa sih sampai nggak tahu jika Dhiva sudah diancem nenek lampir?”
FItri :”Huh…..! Enak aja ngatain orang sembarangan!”
Veli :”Udah-udah jangan debat di group, intinya emang kemarin nenek laampir ngancem nilaninya Dhiva. Kejam banget tuh cewek. Dasar psiko!”
Sinta :”Groupnya di silent aja dulu, kasihan Dhiva kalau ngebaca chat kita ntar pasti dia akan sedih banget kan. Kita focus ke depan kali aja ada keajaiban yang bisa mengubah pengumuman itu dan memberitahukan kebenaran pada semuanya’
Keempat bersahabat tersebut mengakhiri chat dalam groupnya, mereka sepakat akan ikut membongkar penipuan berkedok peringkat itu jika sudah selesai acara.
&&&
Emir sangat kangen dengan gadisnya saat ini, bahkan ia sangat tahu jika hari ini memang wisuda kelulusan kelas dua belas. Sebenarnya Emir sangat ingin menghubungi Dhiva tapi takut membuat kacau hatinya Dhiva nanti.
Drrtt drrtt drrtt
__ADS_1
Emir yang masih berkutat dengan laptopnya mau tak mau harus mengangkat panggilan di ponselnya, saat melihat terpampang jelas siapa yang menguhubunginya akhirnya bisa tersenyum, pasti akan ada kabar baik kali ini.
Emir GP:
“Halo om ada apa?”
Asissten Lendy A:
“Maaf tuan muda ada kabar buruk”
Emir GP:
“Kabar buruk apa? Kamu jangan ngagetin aku napa sih om?”
Asissten Lendy:
“Nona muda syok karena nilainya hilang dari sepuluh besar”
Emir GP:
“Benarkah? Kemarin mata-mata yang disana ngabarin aku, kalau Dhiva peringkat pertama. Apa yang terjadi om? Sekarang juga CCTV di kantor kepala sekolah kamu ambil, setelah ketemu dialok yang sebenarnya segera bawa ke aula tempat wisuda agar bisa ditampilkan di depan umum”
“Baik tuan muda”
Emir Gp:
“Satu lagi om, tetap hubungi aku jika berhubungan dengan gadis yang amat kucintai itu”
Tut
&&&
Suasana masih riuh dan ramai, semua tamu undangan dan juga para siswa kelas dua belas masih membahas pengumuman peringkat satu kelas dua belas, ada beberapa orang wali murid yang akan protes tapi mereka masih ragu karena jumlah mereka hanya sedikit pati akan mendapat tekanan dari berbagai pihak tentunya.
Dalam penyamarannya saat ini Lendy memang selalu mengajak temannya yang masih bujang karena masih sendiri dan belum terikat apapun, Lendy tidak sendiri memantau keadaan di sekolah tempat Emir menimba ilmu kala itu, dia dibantu oleh Denis sahabatnya di kantor.
Karena sudah mendapat cukup bukti untuk menolak pengumuman peringkat satu yang sengaja dipalsukan oleh putri pemilik Yayasan, Lendy bernegosiasi dengan MC agar dapat menayangkan potongan CCTV tersebut di screen proyekyor yang sudah tersedia di aula.
__ADS_1
Kini saatnya MC mulai bicara lagi, sungguh mendebarkan jika sampai pengumuman ulang.
“Para tamu undangan mohon tenang sebentar, saya akan meluruskan kekacauan perihal dengan pengumuman peringkat satu tadi” MC menarik nafas panjang.
Di deret sofa paling depan yang terdiri dari ketua Yayasan beserta dewan guru dan para tamu undangan dari jajaran orang terhormat, di deret kedua ada keluarga besar pemilik Yayasan dan para staf sekolah.
Serelia yang tadi merasa bangga dengan pengumuman bahwa dirinya peringkat satu melampaui siswa yang cerdas di sekolahnya, dia mulai ketar-ketir jika ada pihak yang akan menghancurkannya saat ini juga, pasti pupus harapannya.
Suasana menjadi sangat hening seperti permintaan dari MC karena ada sesuatu hal yang penting akan diumumkannya.
Lendy yang tengah menyamar menjadi staf bagian IT kini saatnya menyalakan computer yang sudah dihubungkan ke amplifier dan otomatis terhubung ke sound system. Potongan dialog di dalam CCTV itu diputar dalam computer dan langsung masuk ke proyektor yang disorot ke screen proyektor.
Semua orang terpaku mendengar dialog dan elihat sepak terjang Serelia dalam screen proyektor tersebut.
Banyak diantara mereka yang mengecam perbuatan buruk Serelia cucu dari pemilik Yayasan, bahkan jika sampai berita ini viral diluar pasti akan menjatuhkan reputasi sekolah yang terkenal elit di kecamatan ini.
“Stop! Hentikan tayangan ini!” Hardik Hans Indra dengan lantangnya, suaranya menggelegar karena memakai microphone yang langsung terhubung ke soun system.
“Siapapun yang berani menyebarkan isu ini di media sosialnya, saya akan tuntut kalian dan akan saya jebloskan ke dalam penjara!” ancam Hans Indra kali ini.
Huuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh……………………….
Lendy Anggara yang duduk di depan computer akhirnya berdiri lalu maju ke depan dan menaiki panggung wisuda.
Prok prok prok
Lendy bertepuk tangan, dia menyeringai. Menghadapi orang-orang seperti Hans Indra bukanlah hal berat buat Lendy, itu justru sangat menyenangkan. Sangat kecil bahkan seujung kukunya Lendy.
“Bagus tuan Hans, anda memang hebat bisa menjatuhkan rival putri anda sendiri dengan jalan yang sangat kotor!” Lendy menjeda ucapannya, “Apakah anda sudah tahu dengan siapa anda berhadapan saat ini?”
Hans Indra menatap tajam Lendy, ia menganggap Lendy hanya anak kemarin sore yang mencoba mnegecohnya, dan mempermalukannya di depan para tamu undangan, donator dan koleganya.
“Tuan Hans yang terhormat sudah ingat apa belum?” tanya Lendy lagi.
Aula tempat wisuda kini semakin tegang dan memanas, tak ada satu orang pun yang berani berbicara sepatah katapun, mereka konsentrasi dengan keadaan yang ada di depan matanya.
Hans Indra menggelengkan kepalanya, ingatannya tidak sebagus saat usianya muda dulu, bahkan apa yang telah dilakukannya pagi saat siangpun sudah terlupakan.
__ADS_1
“Baiklah para tamu undangan semuanya, saya mohon maaf jika membuat kegaduhan di saat penting bagi putra dan putri anda sekalian. Perkenalkan, saya Lendy Anggara, asisten pribadi tuan Haruga Prasetyo”