MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
jadi pembantu


__ADS_3

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih enam jam membuat tubuh Daffa, Dhiva dan Emir sangatlah capek. Semula Emir mengajak Dhiva dan Daffa naik pesawat tapi ditolak oleh Dhiva dengan alasan takut jatuh.


Setelah makan di restoran, mereka bertiga menunaikan kewajiban dulu di musholla di samping restoran yang telah disediakan.


“Kak, apakah langsung ku anterin ke rumah keluarga atau nginep dulu di rumah ku?” tanya Emir saat setelah sholat dhuhur dan masih duduk santai di depan musholla.


“Langsung ke rumah keluargaku aja Mir, aku nggak mau ngerepotin kamu”


“Sama sekali nggak ngerepotin kak, aku tinggal sama papa dan beberapa pembantu, ada juga bodyguard dan satpam” ujar Emir.


“Eh aku pengen aja langsung ke rumah keluargaku, aku pengen ngelihat seberapa kaya papaku sampai kekayaannya jadi rebutan”


“Kalau yang itu jangan diragukan lagi kak. Aku sekarang yang lagi belajar bisnis sama papa udah tau karena udah nyelidiki semua asset dan kekayaan Bimantara Corp, jika kak Daffa tau pasti memijit kepala saking banyaknya dan nggak kehitung” tambag Emir lagi.


“Ooo”


“Kok Cuma oo kak?”


“Ya gimana lagi, biarpun harta banyak tapi udah direbut orang gimana caranya mengambil lagi? Aku kan juga bingung mikirnya Mir” elak Daffa yang mulai agak pusing memikirkannya.

__ADS_1


“Udah ayo ku anterin kesana. Kak titip Dhiva ya, bagaimanapun juga Dhiva adalah bagian dari masa depanku, jangan sampai lecet lo kak” tekan Emir yang membuat Daffa jadi terkekeh.


&&&


Di dalam kamar Serelia sangatlah berantakan. Semua barang-barang yang ada di meja rias berhamburan di lantai.


“Kurang ajar kamu Dhiva! Kamu udah ngerebut Emir dari tanganku! Awas aja aku akan kasih perhitungan buatmu!” amarah Serelia memuncak, dirinya tak terima dengan kepergian Emir yang sengaja membawa Dhiva.


Hans Indra yang mendengar teriakan dari kamar Serelia segera berlari ke kamar anaknya tersebut.


Cklek


“Serel, apa yang kamu lakukan sayank?” tanya Hans Indra, walaupun melihat anaknya yang brutal membuat kamar menjadi berantakan, dia tak bisa untuk memarahi anaknya. Bagi Hans Indra jika marah pada Serelia sama saja dengan memarahi almarhumah istrinya.


Hiks…………..hiks…………hiks……………papa……………” Serelia menangis sejadi-jadinya, “Em-Emir mengajak Dhiva tinggal di kota pa, hiks………….hiks………………hiks………….”


“Kurang ajar! Gadis tak tau diuntung! Awas saja sudah membuat putriku menangis! Kamu akan merasakan lebih pedih dari yang putriku rasakan!” geram Hans Indra di dekat Serelia.


&&&

__ADS_1


Daffa dan Dhiva sudah sampai di depan kediaman kedua orang tuanya dengan diantar Emir, tapi kini rumah besar nan megah itu sudah beralih ditempati oleh om dan tantenya.


Dengan berbekal surat dan penyamaran, Daffa dan Dhiva memberanikan diri untuk bertanya pada satpam perihal melamar menjadi pembantu di rumah besar tersebut.


Dhiva menyerahkan surat dari Bu Marni untuk disampaikan kepada bik Inah yang telah bekerja berpuluh tahun di rumah tersebut.


“Silakan masuk mbak, mas, kebetulan kata majikan saya sedang butuh pembantu dua yang bersaudara” ujar satpam sembari membukakan pintu gerbang dan mengantarkan keduanya masuk.


Sesampai didalam rumah mewah itu Daffa dan Dhiva merasa aneh karena hawa di rumah tersebut sangatlah agak menyeramkan. Tapi demi misi mengambil haknya, disingkirkanlah pikiran yang membuatnya berhenti sebelum bertindak.


Seorang nyonya besar yang dengan memakai perhiasan mahal keluar menghampiri Daffa dan Dhiva yang masih berdiri di ruang tamu.


“Benar kalian keponakan bik Inah?”


“Ya nyonya, ini kakak saya Namanya Udap, dan saya ipah nya” Dhiva sengaja mengganti Namanya dan juga kakaknya menjadi sedikit berbeda, demikian juga penampilannya yang dibuat se kucel mungkin agar tidak mudah dikenali oleh anggota keluarga mereka.


“Kalian ke belakang sekarang! Tanya bik Inah kalian kebagian kerja apa? Ingat, jangan menuntut gaji besar disini!”


Kakak beradik itu hanya saling pandang, lalu mereka masuk ke belakang untuk memulai sebuah misi membongkar beberapa misteri dari harta peninggalan papa Angga Bimantara.

__ADS_1


__ADS_2