
"Eh anu, i-iya nak. Ibu menyimpan foto mama papa kalian, bahkan itu juga ada foto Daffa sewaktu masih kecil" ujar Bu Marni.
Bu Marni masuk kedalam kamar bermaksud mengambilkan foto untuk Daffa, foto itu disimpan rapi sekali di dalam kotak kecil yang disembunyikan di bawah tumpukan pakaian.
"Ini adalah mama dan papa kamu Daf"
Daffa melongo melihat foto mama dan papanya, cantik dan tampan itulah yang diucapkan Daffa.
"Pantes aku tampan dan Dhiva cantik, kami mewarisi garis keturunan dari mereka" gumam Daffa.
Dipeluknya erat putra angkatnya itu, di lubuk hatinya terdalam Bu Marni merasa tidak rela jika melepas Daffa dan Dhiva kembali ke kota yang telah lama ditinggalkannya.
Akhirnya Daffa kembali ke kamar Dhiva sambil membawa foto untuk ditunjukkan pada adiknya dan juga Emir, bagaimanapun juga Emir sekarang adalah orang yang paling oenting dalam hidup adiknya.
"Dek, ini foto mama dan papa" Daffa menyodorjan foto yang kemudian diraih oleh Dhiva.
"Be-benarkah ini mama dan papa kak?" tanya Dhiva seolah tak percaya.
"Iya dek, ini mama dan papa. Bahkan wajah papa sangat mirip denganmu" ucap Daffa.
"Iya dek, kamu mau kan nemenin kakak nemuin mama dan papa?"
Dhiva mengangguk setuju dengan permintaan Daffa, keinginannya memeliki keluarga yang lengkap sudah ia idamkan dari dulu, mungkin jika dengan kembali ke rumah orang tuanya maka keinginan itu akan terkabulkan.
__ADS_1
&&&
Di rumah Hans Indra
"Pa, papa udah tau belum berita tentang Dhiva?" Serelia mendekati papanya yang masih duduk santai melihat tivi di ruang keluarga.
"Belum sayank, memangnya kenapa?" Hans Indra menghentikan aktivitasnya melihat tivi, dia mengamati mimik wajah putrinya itu yang ternyata sangat serius.
"Ternyata Dhiva masih hidup pa! Apakah gas beracun yang papa kasih itu kurang banyak?"
Brakk
"Apa?! Kok bisa, padahal papa itu sudah pesan gas beracun yang sangat mematikan!" Hans Indra menggebrak meja di depannya hingga menyebabkan barang-barangnya berhamburan ke sekelilingnya.
"Pokoknya Serel nggak rela kalau Emir sampai bisa nikah dengan Dhiva!"
"Iya sayank, akan papa usahakan agar Dhiva cepat bertemu malaikat maut!"
Keduanya bertos ria dan menyusun rencana yang lebih matang lagi untuk menghancurkan hidup Dhiva. Untung saja Serelia belum tau kalau Emir ikut pulang ke rumah Bu Marni, bisa jadi perkedel kalau sampai tahu hal itu.
&&&
Kembali ke Dhiva.
__ADS_1
Daffa dan Dhiva melanjutkan membaca surat dari mamanya lagi.
*Putra kesayangan mama dan putri kesayangan mama, mama juga udah meminta pada Bik Marni untuk menyimpan kalung untuk kalian berdua. Kalung itu mama rancang khusus untuk kalian, pakailah kalung itu sebagai bukti bahwa kalian adalah keturunan dari kakek Bimantara.
Mama mohon jika sampai umur kalian dewasa masih bersama bik Marni, tolong kembali ke rumah kalian. Semua kekayaan dan aset milik kakek kalian, kalian yang berhak mendapatkannya.
Demi mama, papa dan kakek kembalilah ke rumah kalian, tempat kalian berasal.
Didalam gudang ada pintu rahasia yang menghubungkan ruangan khusus tempat papa dan mama menyimpan barang berharga untuk kalian berdua, tentunya kalian yang akan mengelolanya nanti.
Jaga diri kalian baik-baik, mama sayang banget sama kalian. I love you more my children.
Wassalamu'alaikum*
Daffa dan Dhiva masih saling berpandangan, di dalam surat tersebut tidak tertuliskan betapa kejam penyiksaan om dan tantenya terhadap mama dan kakeknya, mama Sherly tidak mau membuat kedua anaknya ketakutan sehingga tidak mau kembali ke rumah dan mengambil kembali apa yang menjadi haknya.
Bu Marni membawa dua kalung berlian yang dititipkan mama Sherly padanya, dua kalung yang sama-sama berinisial D.
"Daffa, Dhiiva ini adalah alamat rumah mama dan papa kalian. Ibu nitip surat ini ya kamu kasihkan kepada bibik Inah, dia pembantu nyonya Sherly yang paling setia dan hanya dia yang jadi kunci kehidupan mama kalian" bu Marni menghela nafas panjang, "Menyamarlah dengan alasan kalian butuh pekerjaan menjadi pembantu disana, mungkin dengan itu kalian akan bisa masuk ke dalam kehidupan om dan tante kamu yang katanya sangat berbahaya"
Hiks........hiks............hiks.............
"ibu, kenapa ibu menangis lagi?"
__ADS_1