
Setelah mendengar teriakan minta tolong dari kamar Ika, bik Inah, bik Sumi tergopoh-gopoh menuju kamar Ika yang bersebelahan dengan kamar Dhiva.
Ika mendapat pertolongan pertama cukup dengan diolesi minyak kayu putih saja oleh bik Inah, walaupun dia bisu tapi sangatlah membantu dan sangat pengertian dengan sesama pembantu yang bekerja disini yang penuh dengan tangis derita.
‘Udah nggak pa-pa, nanti akan sadar sendiri’ tulis bik Inah di note-nya sebagai ungkapan dari hatinya.
“Makasih bik” ucap Dhiva lalu menidurkan kepala Ika di Kasur lipatnya.
Dhiva mengamati wajah Ika yang Nampak kusut dan lelah, mungkin Ika sudah jengah dengan hidupnya sendiri yang bagaikan boneka yang menjadi mainan Dion.
‘Kasihan kamu Ika, semoga kepedihanmu akan segera tergantikan dengan hal baik’ do’a Dhiva di dalam hati.
Dhifa berjalan ke dapur seperti biasa membantu bik Sumi memasak untuk sang majikan, sebagai bos pasti ada aja permintaan menu makanannya, harus berbeda dari pagi sampai malam beitu juga hari-hari berikutnya.
Hati Dhiva sungguh sakit jika mengingat perjuangan kakak dan kedua orang tuanya yang giat memajukan perusahaan justru orang lain yang menikmati.
Tap
Tap
Tap
Terdengar Langkah kaki seseorang yang menuju dapur.
“Bik, sudah matang belum?” tanya sang majikan perempuan, siapa lagi kalau bukan Eren.
“Sudah nya, ini juga akan saya sajikan di meja makan” jawab bik Sumi sambil mengangkat panci yang ada isinya bubur, sesuai reques adalah bubur ayam.
“Okey, lebih cepat lagi ya. Saya mau ke luar kota sama tuan, jadi jangan sembarangan di rumah ya. Awas ada cctv di rumah jadi pekerjaan kalian tetep saya pantau” peringat Eren pada pembantunya.
Setelah makanan tersaji di meja makan, Aldo dan Eren sudah menikmati duluan bubur ayam buatan bik Sumi yang sangat menggoda iman, hingga mereka selesai sarapan dan meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Di meja makan masih terdapat beberapa mangkuk bubur ayam yang memang masih disisakan untuk ketiga putra dari majikannya.
“Eh tompel! Sana lo pergi! Bikin orang nggak nafsu makan aja!” bentak Lea.
Dhiva yang terkejut dengan bentakan Lea bergegas meninggalkan ruang makan tersebut daripada berurusamn dengan nenek lampir yang jahat dan sadis.
&&&
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, entah ada acara apa yang telah direncanakan oleh tuan muda yang sombong itu.
Dion yang sedari kecil bergelimangan harta peninggalan kakek Bimantara yang berhasil direbut oleh Aldo si br*ngs*k itu, memang sangat terkenal angkuh dan sombong yang dengan bangganya memamerkan harta dari merampas milik Angga Bimantara.
Sehingga circle pergaulannya Dion pun juga dari kalangan borjuis.
“Ka, ada acara apa sih kok tamu yang datang kesini hampir semua mereka menaiki mobil mewah?” tanya Dhiva yang ikut berdiri di samping Ika.
“Nggak tau Pah, Kayaknya itu tamunya tuan muda semua, karena sedari tadi tuan muda yang menyambut setiap tamu yang datang” jawab Ika.
Ada banyak cewek maupun cowok yang sengaja diundang oleh Dion, hingga saat malam pun tiba sekitar pukul tujuh malam masih saja berdatangan.
Para tamu Dion diajak langsung ke lantai dua yang mana lantai tiga memang ruangan yang cukup luas untuk menampung serratus orang pun masih muat, begitu juga lapangan basket yang luas juga bisa menampung mobil lima puluh buah pun masih cukup.
Para tamu menaiki tangga samping rumah karena kalau dari dalam rumah itu pun sangat mustahil karena pasti akan banyak dilihat orang area privasinya.
Dug jedag jedug
Dug jedag jedug
Dug jedag jedug
Suara music DJ yang begitu khas sangat mengganggu pendengaran semua penghuni rumah mewah itu yang ada di lantai bawah. Bahkan Dhiva yang hendak melaksanakan kewajibannya pun menjadi tidak konsentrasi karena saking bisingnya music setan itu.
__ADS_1
“Benar-benar bos b*ngs*t! semua harta yang kamu nikmati adalah hasil rampasan dari papa dan kakekku! Aku berjanji akan merebut Kembali apa yang menjadi hakku dan kakakku selama ini!” teriak Dhiva di dalam kamar.
“Dhiva……..” panggil ika seketika Dhiva menoleh ke sumber suara itu.
“Ka-kamu kenapa manggil aku kayak gitu?” tanya Dhiva gugup.
“Maaf jika aku lancang manggil kamu dengan nama aslimu, aku sudah menduga bahwa kamu adalah anggota keluarga sini kan? Kamu sudah tau jika foto keluarga yang ada di kamar kosong itu adalah kedua orang tua kamu kan?” tebak Ika.
“Ka tolong rahasiain ini ya, aku-aku sungguh ingin merebut semua ini dari mereka. Mereka sungguh kejam telah merebut semua harta papa dan kakek dari aku masih bayi Ka” keluh Dhiva dan disambut pelukan hangat seorang teman.
"TEnang Va, aku akan membantumu sebisaku, karena aku disini rasanya dizolimi oleh keluarga iblis ini! Hiks…………hiks……….” Ika menangis dalam isakan yang teramat pilu.
Setelah tangisan mereka mereda, Ika dan Dhiva berencana mengintai di lantai tiga, mereka seperti punya insting jika di lantai tiga Dion beserta teman-temannya memang sedang melakukan hal yang tidak bener.
Beberapa hari yang lalu Dhiva memang pernah mencoba untuk masuk ke ruangan di lantai tiga, tapi ia berhenti pada sebuah bilik kecil yang langsung menghubungkan dengan ruangan besar lantai tig aitu atau yang bisa juga disebut aula.
Bilik kecil itu tertutup oleh kaca tapi jika dipandang dari aula maka orang dalam bilik tak akan pernah kelihatan.
Dhiva dan Ika sudah sampai di bilik kecil itu, dan ternyata benar, di aula itu semua cewek maupun cowok bercampur menjadi satu dan sedang mengadakan pesta miras. Tak lupa Dhiva dan Ika menyalakan ponselnya untuk merekam semua kejadian dalam aula tersebut.
“Ka lihat tuh yang di depanmu, bukankah mereka sedang pesta shabu kan? Seperti yang aku lihat di tivi kan bukankah itu shabu?” tanya Dhiva, memang Dhiva tidak pernah melihat seperti apa bentuknya tapi dia hafal betul setiap tayangan berita itu memang bungkusnya ya kayak gitu.
“Va udah nggak usah bahas yang nggak penting, mending kita focus aja dengan tujuan kita, kita harus menghancurkan keluarga Aldo! Oke!”
Dhiva mengangguk mantap sesekali menyeringai karena ia sudah mempunyai satu bukti untuk dia kumpulkan beserta bukti yang lain untuk menyeret Aldo beserta koloninya keluar dari rumah kekek Bimantara. Tapi……….
“Kamu kenapa Va?”
“Ah enggak, aku cuman kepikiran sama Shelva, kasihan dia jika aku akan mengusirnya nanti. Dia gadis yang baik tapi diperbudak oleh ibu tiri dan juga saudara tiri” ujar Dhiva.
Ika menepuk bahu Dhiva pelan, Ika yang bertekad ingin juga menghancurkan keluarga iblis itu bisa tetap mendukung penuh apapun yang akan dilakukan oleh temannya kini.
__ADS_1