MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Adik kecil yang sangat cantik


__ADS_3

Lea memutuskan untuk mengikuti pemuda tampan itu ke rumahnya tanpa mau diikuti oleh bodyguard yang berwajah cukup manis dipandang.


Bodyguard manis yang memiliki nama Bagas memiliki postur tubuh yang cukup bagus, dengan tinggi 175 cm ditambah bentuk tubuhnya yang kekar semakin mempesona.


Bagas sudah sampai dirumah majikannya yang baru, yaitu rumah Eren dan Aldo.


"Bro, tuan dan nyonya didalam?" tanya Bagas saat berpapasan dengan Daffa.


"Kayaknya cuman ada nyonya Eren aja, nggak papa kalau mau masuk. Nyonya Eren udah tua juga masa mau ngembat daun muda" ejek Daffa sambil nyengir.


Seketika Bagas terhenyak, dia jadi ingat tadi saat digoda oleh Eren, wanita paruh baya tapi masih oke bodinya, dan kencang dadanya.


"Nggak mungkin lah itu" sangkal Bagas, tapi dalam hati kecilnya tidak mengelak sama sekali jika Eren seperti tante girang yang genit banget.


"Kalau lo tahan hebat banget lo, tapi kalau nggak tahan lo bisa porotin dia habis-habisan" bisik Daffa lalu melangkah pergi meninggalkan Bagas yang masih termenung ditempatnya.


Bagas melangkah masuk dengan gontai, dia akhirnya sengaja membelokkan diri ke dapur.


"Eh ada bang bodyguard, mau minum apa bang?" tanya Dhiva basa-basi.

__ADS_1


"Jus jeruk saja ya" jawab Bagas singkat.


"Kenapa pulangnya sendirian bang?" tanya Dhiva lagi.


Dhiva sengaja memulai misinya dengan mengorek informasi sekecil mungkin dari bodyguard yang bekerja satu rumah dengannya.


"Itu non Lea nggak mau ditemenin, gue disuruh pulang tadi"


Dhiva menganghuk-anggukkan kepalanya tanda telah mengerti maksud dari Bagas.


"Bang sorry jika gue bertanya sesuatu hal yang privasi banget sama lo" Dhiva menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memang keadaan sekarang sepi di rumah sebesar itu.


Bik Inah dan Bik Sumi sepakat akan kembali ke kota untuk memenuhi panggilan sebagai saksi jika diperlukan untuk mengambil kembali kekayaan Bimantara untuk cucu-cucunya.


"Bang kenapa lo Mau-maunya kerja sebagai bodyguard disini?"


Bagas tersenyum kecut, kenangan sepuluh tahun yang lalu saat dirinya masih duduk di bangku SMP, dia teringat betapa kejam Aldo membantai keluarga nya, menghilangkan nyawa ibu dan ayahnya, dan juga adik kecilnya.


Bagas menatap tajam mata Dhiva, dia yang sudah faham arti sorot mata, ekspresi dan gelagat orang yang mana yang bisa dipercaya atau tidak, dan yang pembohong atau atau orang yang jujur.

__ADS_1


Bagas telah mempelajari semuanya saat dia menempuh pendidikan psikologi selama tiga tahun setengah.


Bagas bekerja keras agar cepat lulus kuliah, dan dia juga mengajar bela diri di perguruan tempat dia belajar silat.


"Gue ingin balas dendam! Gue akan membantai Aldo dan anak-anak nya!" ujar Bagas dengan gigi bergemeratuk menahan amarah yang sudah membara.


"Gue seneng dengernya bang" kata Dhiva dengan tersenyum lebar.


"Yakin lo mau bales dendam? Atau lo mata-mata yang dibayar tuan Aldo untuk memata-matai gue sama kakak gue?" tanya Dhiva sengaja memancing.


Bagas terkekeh, dia sungguh gemas mendengar pertanyaan Dhiva.


Bagas memegang pipi Dhiva yang bertompel lalu menghapus pelan.


"Adik kecil yang sangat cantik, lo sungguh gemesin. Bolehkah gue jadi abang lo selain abang kandung lo?"


"Singkirin tuh tangan, lo kok tau banget sih kalau ini hanya riasan?"


"Gue tau banget tentang keluarga lo Dhiva. Kita bisa bales dendam ini bareng-bareng"

__ADS_1


__ADS_2