
Shelva mendengar teriakan dari kamar kakaknya, dia memang belum mengetahui jika Lea sudah pulang ke rumah, Shelva sekarang sudah belajar untuk cuek dengan keadaan di rumahnya juga termasuk anggota keluarganya.
Shelva berlari kencang ke kamar kakaknya.
“Kak………..” panggilnya, namun yang dipanggil tidak juga menyahutinya.
‘Apa kakak sedang di kamar mandi ya?’ tanya Shelva pada dirinya sendiri.
Shelva mencari kakaknya didalam lemar pakaian, di bawah ranjang tapi semua nihil
Cklek
Shelva membuka pintu kamar mandi, dia syok meliha kondisi kakaknya yang tengah pingsan di dalam bathup nya.
“Kakak hiks……..”
Dengan kekuatan yang bersumber dari dirinya sendiri Shelva menyeret tubuh Lea sampai ke kamar lalu dipakaikan pakaian dan menyelimutinya di ranjang agar tidak merasa kedinginan lagi.
“Kakak bangun kak………” panggil Shelva sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lea yang sejak tadi diolesi minyak kayu putih agar tubuhnya lebih hangat lagi dan cepat siuman.
Walaupun Shelva selalu dirundung oleh anggota keluarganya termasuk mama dan juga kakaknya tapi tidak mengurangi kadar sayangnya pada keluarganya.
Lea menggerak-gerakkan tangannya kemudian membuka matanya perlahan dan memindai sekitar ruangan yang ia tempati saat ini.
“Pusing banget pala gue………..” rintihnya kala baru bangun tidur sambil memegangi kepalanya.
“Alhamdulillah kakak udah sembuh, apa yang terjadi kak selama kakak di kamar mandi tapi nggak keluar-keluar dan aku temukan kakak pingsan di bathup” oceh Shelva yang mencoba membuka hati untuk sesama agar tidak terkesan sombong.
“Kakak sebaiknya kalau mau masuk ke dalam kamar mandi sebaiknya berdoa dulu, Insyaa Allah akan terlindungi dari setan yang menyesatkan” nasehat Shelva entah itu diterima oleh Lea atau pun tidak yang penting dia udah berusaha untuk mengingatkan anggota keluarganya untuk berbuat baik dari hal yang paling kecil sekalipun.
Lea yang pada dasarnya memang keras kepala dari kecil hanya diam saja mendengar penuturan adiknya, bagi Lea pahlawannya saat ini hanya sang mama saja.
“Kamu diam! Jangan pernah mengatur ku hanya karena kamu itu saudara seibu denganku!” gertak Lea.
“Kak dengarkan aku, walaupun aku hanya saudara seibu denganmu tapi aku juga punya hak mengingatkanmu kak. Karena bukan hanya kamu yang menanggungnya sendiri, tapi semua anggota keluarga ini kak!” ucap Shelva dengan lantang entah kenapa sekarang dia punya keberanian untuk melawan kakaknya.
Lea menatap nyalang sang adik seolah ingin menguliti adiknya seketika itu juga. Bukan salah Shelva jika terlahir dari hubungan yang salah melainkan perbuatan kedua orang tuanya yang b*j*t.
“Kamu sekarang berani dengan kakak? Mau menentang kakak?” Lea seperti orang yang lepas kendali saat ini, Shelva pun bergidik ngeri melihatnya.
__ADS_1
“Kak tenang, bukankah apa yang aku katakana benar? Terus apa yang kakak permasalahkan sekarang ini?” tanya balik Shelva sambil menahan rasa takut yang ditahannya.
Lea sudah mengangkat tangannya hendak menampar adiknya tapi dengan cepat Shelva menangkap tangan sang kakak sebelum mengenai wajah mulusnya.
“Stop kak! Selama ini aku udah diam aja, tapi mulai sekarang aku akan melawan siapapun yang akan merendahkanku! Ingat itu!”
Brakk
Shelva pergi meninggalkan Lea yang masih bengong melihat adiknya yang sudah menghilang di balik pintu.
“Apakah itu adik gue yang selama ini Cuma diam aja terima perlakuan buruk dari gue? Rasanya kok gue nggak percaya!” gumam Lea sambil menggelengg-gelengkan kepalanya tak percaya.
“Bagaimana jika Shelva makin ngelunjak?” Lea bertanya pada diri sendiri, hatinya kini pun kian resah.
@@@
Malam ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam Emir, Dhiva dan juga Bagas sudah sepakat untuk meneruskan misi mereka yang tertunda.
Bagas sudah mematikan CCTV khusus untuk jalan yang akan dilaluinya nanti, agar aksinya nanti tidak ada jejak yang ditinggalkan.
“Sudah siap?”
Bagas berjalan paling duluan, disusul oleh Dhiva dan Emir yang paling belakang.
Tap tap tap
Ketiga anak muda itu berjalan sangat pelan dan hampir tidak terdengar sama sekali, Bagas memang sudah mewanti-wanti Dhiva dan juga Emir agar tidak menimbulkan suara sama sekali.
“Sayank, kamu capek nggak?” tanya Emir saat mereka sudah sampai di Lorong yang sunyi dan gelap.
Dhiva menggelengkan kepalanya, semangat Dhiva memang penuh, demi untuk mengetahui sejarah dari rumah ini dan juga keberadaan kedua orang tuanya.
Emir tersenyum lebar, dia senang sekali karena orang tersayangnya tidak mengeluh dan juga sangat senang mengikuti jejak Bagas yang juga membantu Dhiva untuk membongkar rahasia kelam yan dialami oleh keluarga Dhiva.
“Hati-hati sepertinya tangga ini agak licin, jangan sampai kalian jatuh dan tergelincir ke bawah tangga” peringat Bagas pada dua pemuda dibelakangnya.
Dhiva dan juga Emir berjalan sambil berpegangan pada pegangan tangga, entah kenapa malam yang gelap itu sama sekali tidak menyurutkan niat Dhiva sama sekali.
Ketiga pemuda itu telah sampai dilantai bawah, lantai bawah yang baunya sungguh tidak enak, bau yang bercampur busuk dan entah bau apalagi yang sangat menyengat hidung.
__ADS_1
Hueekkk hueekkk
Dhiva yang tidak tahan akhirnya memuntahkan isi perutnya, dia sungguh tidak tahan dengan bau ruang bawah tanah ini.
“Sayank jika kamu tidak kuat kita bisa naik lagi ke atas” ajak Emir yang tampak khawatir dengan keadaan kekasihnya.
“Nggak-nggak usah, aku usahain kuat” jawab Dhiva yang memang tak mau dikalahkan dengan keadaannya sekarang ini.
Bagas mengarahkan lampu senter yang ada dikepalanya it uke semua penjuru arah.
Di lantai itu tampak biasa aja, tapi kenapa baunya seperti tempat yang digunakan untuk menyimpan mayat dan untuk mengeksekusi orang hingga meninggal?
Bagas sangat penasaran, dia berjalan ke pojok satu dan ke pojok lainnya, tapi masih belum menemukan apapun yang bisa digalinya untuk menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuknya.
Dhiva melihat ada Wanita cantik dengan senyum manisnya dan rambut panjangnya yang tergerai sangat indah.
Wanita cantik itu berjalan pelan di depan Dhiva sambil sesekali menoleh kea rah Dhiva agar Dhiva mengikutinya.
“Sayank kamu mau kemana?” tanya Emir yang melihat Dhiva berjalan sendirian meninggalkan dirinya dan juga Bagas.
Dhiva terus berjalan seperti terkena hipnotis mengikuti bayangan yang hanya dia yang mampu melihat.
“Bang mau kemana itu Dhiva?” tanya Emir pada Bagas hingga mereka saling berpandangan mata.
Karena Emir tak mau terjadi apa-apa pada tunangannya makanya ia bergegas mengikuti Dhiva dari belakang.
Brukk
Dhiva menabrak dinding tapi sepertinya dinding itu sepertinya tipis hingga sedikit saja tertabrak menjadikan dinding itu seperti terkelupas.
“Sayank kamu nggak papa?” tanya Emir yang mencoba menopang tubuh Dhiva yang hampir terpental.
Bagas melangkah ke depan Dhiva yang merasa aneh dengan dinding yang hampir terkelupas, dinding yang aneh jika seperti ini.
Kriet
Derit suara pintu yang terbuka.
“Hah!!!”
__ADS_1