
Bagas sudah sampai di belakang paviliun, hatinya bergemuruh hebat kala mengingat lagi perbuatan Aldo pada keluarganya dulu, sudah merebut apa yang dipunya sekarang hidup seenaknya saja tanpa rasa menyesal sama sekali.
“Br*ngs*k memang Aldo! Kali ini aku harus bisa mencari bukti yang lebih akurat lagi untuk menghancurkannya dengan sehancur-hancurnya!” gerutu Bagas dengan kemarahan yang sudah lama dipendamnya.
Bagas sudah hafal mana jalan yang akan dilalui untuk dapat menyusup masuk ke dalam paviliun.
Ada satu jendela yang sudah tidak fungsi lagi, Bagas sudah mengamati sekitar dua hari yang lalu, walaupun belum punya tujuan untuk apa tetapi Bagas sudah mempersiapkannya.
Bagas mengendap-endap ke dalam paviliun agar tidak ketahuan oleh siapa yang ada di dalam ruangan tersebut.
‘Aman……..’ gumam Bagas yang tetap dalam mode waspada.
Bagas mendengar suara yang tidak senonoh dari dalam sebuah kamar yang luas, mungkin itu adalah kamar utama.
Paviliun memang tidak sembarangan orang yang bisa mengakses untuk masuk ke dalamnya, biarpun itu adalah anak bahkan istri Aldo sendiri tidak akan pernah bisa masuk.
Jika Aldo bukanlah suami dari Eren mungkin dia tidak akan pernah mendapat fasilitas yang sangat mewah dari manapun.
Aldo bukan berasal dari kalangan atas, tapi karena sifatnya yang tamak dan rakus menjadikan dia menjadi seorang yang serakah dan haus akan kekuasaan.
‘Benar-benar Aldo memang orang l*kn*t! pendengaranku dan penglihatanku ternodai olehnya! Jika aku biarkan anak-anak muda tersebut yang akan mengambil resiko seperti ini, kasihan mereka karena fikiran mereka masih labil’ gumam Bagas.
Kamera tersembunyi sudah diarahkan masuk ke dalam kamar yang telah terkontaminasi dengan perbuatan kotor mereka berdua, tetapi Bagas tak sengaja menyenggol daun pintu yang menimbulkan suara yang agak terdengar keras.
Brukk
Dengan gesit Bagas berhasil melipir ke tembok samping kamar tepatnya disamping buffet yang khusus untuk memajang benda-benda antik.
Huh
Bagas mendesah, untung saja tidak ketahuan, jika sampai ketahuan bisa gagal total nantinya.
“Ada apa sayank………?” tanya Wanita n*k*l itu pada Aldo dari dalam kamar.
“Nggak ada apa-apa sayank” jawab Aldo yang keluar kamar sebentar.
Bagas mengetahui hal tersebut karena ada bayangan Aldo sekilas keluar kamr yang Nampak olehnya.
“Yuk masuk sayank lanjutin aja yuk ehem-ehemnya” ajak Aldo yang memasuki kamar Kembali.
Bagas mengusap dadanya perlahan.
“Alhamdulillah ya Allah, semoga ini berhasil”
__ADS_1
Kamera tersembunyi sudah terhubung dengan ponsel milik Bagas, bahkan juga terhubung dengan monitor milik papanya Azkia yang sedari awal memang papanya Azkia sangat mendukung semua rencana yang disusun oleh Bagas.
‘Bagus Aldo, kamu akahirnya sudah masuk ke dalam perangkap’ gumam Bagas dengan senyum sinisnya.
@@@
Daffa sudah Kembali ke rumah besar papanya, rumah yang seharusnya dari bayi hingga dewasa kini tetap ia tempati.
Entah apa yang harus dilakukan oleh Daffa? Ingin melanjutkan misi perabutan Kembali kekayaan milik papa dan mamanya, tetapi sekarang hatinya tertaut pada gadis cantik yang sudah Bersama dengannya selam dua hari in.
‘Kebetulan sekali pak satpam lagi tertidur, mending aku nggak usah memanggilnya, toh aku sudah membawa kunci duplikatnya kemarin’ gumam Daffa sendiri.
Cklek
Bagaikan seorang pencuri yang takut akan ketahuan oleh sang tuan rumah, Daffa berjalan mengendap-endap sambil melihat sekitarnya.
‘Semoga tidak ketahuan’ batin Daffa.
Brukk
“Aduuh!” pekik seorang Perempuan yang tidak sengaja Daffa tabrak.
“Eh maaf” kata Daffa sambil nyengir.
Lea terbengong-bengong melihat penampilan Daffa yang cool abis, keren dan sangat tampan.
Berbeda dengan penampilan Daffa saat penyamaran yang dekil, kusam dan terkesan sangat jorok sebagai cowoak, sangat jauh dari kata kece.
‘Gawat! Bisa-bisa cewek playgirl m*r*h*n kayak dia tertarik padaku’ gusar Daffa yang berlalu pergi meninggalkan Lea yang masih memandangi Daffa tanpa sadar 𝚍𝚒𝚊 sudah ditinggalkannya.
“Berhenti lo!” larang Lea dengan segera menghampiri Daffa yang tetap pendirian tidak mau membalikkan badannya.
Lea mengucek-ucek matanya sekali lagi, jikalau penglihatannya yang bermasalah.
“Lo siapa cowok tampan?” tanya Lea yang tidak tahu malu berdiri dengan gaya selangit menggoda Daffa.
‘Waduh aku lupa tadi tidak pakai alat untuk penyamaran, gimana jawabnya ini?’ tanya Daffa dalam hati.
“Lo emang cowok idaman banget, gue suka banget dengan cowok kayak lo yang cool dan sangat menarik kaum hawa”
Daffa sangatlah malas untuk meladeni cewek yang tidak w*r*s macam nona muda gadungan kayak Lea.
“Minggir!” bentak Daffa yang mencoba menepis tangan Lea yang berani-beraninya akan menyentuh Daffa.
__ADS_1
“Wow! Cowok tampan sekarang ini ganas-ganas ya, padahal akan gue kasih uang yang banyak, gue ajak bersenang-senang kok nggak mau ya?” kata Lea sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Lea masih saja tidak mau menyerah untuk menyentuh Daffa, yang merasa sangat risih dengan secepat kilat menghindar hingga alhasil Lea malah jatuh dengan sendirinya.
Brukk
“Awww aduuuh………………”
Daffa yang lagi ngumpet mau nggak mau menghampiri Lea yang meringis dan mengaduh kesakitan.
“Awww tolong aku………”
Ck
‘Nyusahin aja kenapa sih?’ gerutu Daffa.
“Kamu diem! Sekarang kamu akan aku bawa ke rumah sakit biar selamat!”
Lea kali ini tidak membantah denga napa yang dikatakan oleh Daffa, dia merasa nyaman berada dalam gendongan Daffa.
Daffa meletakkan Lea di jok belakang sedangkan dia langsung duduk dikursi kemudi.
Perjalanan hanya memakan sekitar waktu sekitar 15 menit saja untuk sampai ke rumah sakit.
Daffa berlari-lari kecil menuju ke bagian IGD untuk meminta bantuan perawat agar membawa Lea yang masih tergolek lemas tak berdaya di dalam mobil.
“Sus hah-hah to-tolong” ujar Daffa yang dengan nafas tersengal-sengal.
“Ya, ada yang bisa saya bantu mas?” tanya perawat itu dengan tenang dengan maksud memberi contoh Daffa agar tidak tergesa-gesa.
“Tolong pasien sus di mobil sedang mengalami pendarahan”
“Ooo”
Hanya satu huruf yang diucapkan oleh perawat itu sambil mengikuti Daffa dengan membawa brankar.
Sesampainya di ruang IGD, Lea langsung dibawa masuk sedangkan Daffa disuruh menunggu diluar ruangan.
“Silahkan masnya tunggu diluar, biar istrinya diperiksa oleh dokter”
Cklek
Pintu segera ditututp oleh perawat, Daffa tersenyum kecut mendengar celotehan perawat yang mengatakan jika Lea adalah istrinya.
__ADS_1
‘Enak aja bilang si wanita s**l*n itu istriku, jikalaupun Wanita di dunia ini habis aku nggak bakalan mau dengannya yang diobral sana-sini oke’ gerutu Daffa.