MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
Emir cemburu


__ADS_3

"Kak, Dhiva didalam ya?" tanya Emir saat mendekati Daffa yang berdiri dibalik pintu gerbang rumah majikannya.


"Mir, kamu bawa ransel mau apa?" tanya balik Daffa yang keheranan dengan bawaan Emir seperti orang minggat.


"Mau minggat kamu? Kenapa? Kurang uang jajanmu?" ledek Daffa sambil terkekeh merasa lucu dengan tingkah calon adik iparnya.


"Enak aja, uang bapakku nggak akan habis tujuh turunan kak!"


"Habisnya kamu lucu sih" Daffa tertawa lebar, mungkin dengan kemunculan Emir akan membuat suasana dirumah besar yang semakin mencekam akan menjadi lebih bersinar.


"Enak aja lucu! Ngapain sih ayank ku pakai dekat dengan bodyguard anehh itu?" sungut Emir dengan bibir yang mengerucut.


"Mir, segitunya kalau cemburu. Gimana kalau adek aku diembat cowok lain ya?" tawa Daffa meledak melihat ekspresi Emir.


Keyakinan Emir untuk menikah muda semakin menggebu, dia tidak ingin terpisahkan dari tunangan yang sangat dicintainya itu.


"Kak bilangin ya, aku jadi babu nggak papa yang penting bisa sama-sama dengan ayank aku" rengek Emir dengan mengendalikan ekspresi memelas nya.


"Kamu kalau kayak gini nggak pantes nikahin adekku, pantesnya jadi adeknya Dhiva. Ha..... ha..... ha..... " Daffa semakin ngakak.


Emir yang sudah tidak sabar dengan terpaksa menarik tangan Daffa agar tidak meledeknya terus-terusan.


Emir yang sudah tahu kebusukannya Eren, dia tidak mau jika Emir akan dijadikan pemuas nya wanita l*kn*t itu.


"Aduh kak... " Emir memekik tangan nya ditarik kencang diajak sembunyi didalam dapur.

__ADS_1


"Kamu harus inget kata-kata ku, jangan sampai kamu kena rayuan wanita devil, yang genit. Dia sudah tua tapi sukanya sama brondong" lirih Daffa membuat Emir bergidik ngeri.


"Gimana kalau kita jebak?"


"Oke" jawab Daffa tanpa pikir panjang.


@@@


"O rupanya lo yang bernama Bagas itu?"


Emir berjalan dengan tangan dilipat didada mendekati Bagas.


"Eh ada bocil" ujar Bagas sambil terkekeh melihat Emir berlagak seperti orang dewasa.


"Lo jangan sekali-kali deketan tunangan gue!"


"Iya siapa lagi?"


"Ha.... ha.... ha.... Lo, Dhiva dan Daffa itu sudah gue anggep sebagai saudara gue. Ngapain gue ngerebut Dhiva?"


"Kali aja"


"Emang Dhiva itu aslinya cantik, imut dan smart. Lelaki mana yang tidak jatuh cinta dengannya bila melihat langsung wajahnya" Kata-kata Bagas semakin membuat hati Emir panas.


"Br*ngs*k lo!" bentak Emir sambil menarik krah baju Bagas.

__ADS_1


"Slow bro, lo mainnya kasar banget" Bagas masih senyum-senyum nggak jelas, berniat sekali ingin memancing amarah Emir.


"Orang seperti lo kalau nggak dikasarin bisa ngelunjak!" ucapnya dengan melepaskan tangannya dari krah bajunya Bagas.


Sekarang giliran Bagas yang mendekati Emir membuat Emir ter mundur.


"Gue dirumah ini tidak untuk cari ribut dengan lo tuan muda. Gue mau bales dendam!"


Emir menatap lekat wajah Bagas, wajah yang terlihat serius saat berbicara tentang balas dendam.


"Bang, gue kayak pernah lihat lo" kata Emir agak mengingat-ingat masa lalu.


"Bapak gue rekanan bisnis dengan bapak lo, tapi bapak gue yang bernasib apes ketemu dengan Aldo si br*ngs*k itu, keluarga gue dibantai habis sama dia!" ungkap Bagas dengan mata yang sudah mengembun dimatanya.


Emir merasakan kesedihan yang mendalam atas apa yang dialami oleh Bagas.


Drap drap drap


Terdengar suara langkah kaki dari ruang tengah menuju dapur.


"Hai bodyguard" sapa Eren yang ganjen pada Bagas.


"Oh ada cowok tampan yang bau harum itu disampingmu" tunjuk Eren pada Emir yang berdiri disamping Bagas.


"Ada apa nyonya kesini?" tanya Bagas mengalihkan atensi Eren yang seakan kepincut pesona Emir.

__ADS_1


"Oh aku pengen dipijet sayang, maukah kamu pijet aku...?" tanya balik Eren dengan manjahh, dalam hatinya sudah berdenyut-denyut ingin merasakan belaian cowok brondong didepannya, apalagi dua cowok sekaligus.


__ADS_2