
Episode 33
“Engghhh dimana aku?” lirih Shelva melenguh sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut sedikit.
“Non-non sudah sadar?” tanya Dhiva sambil menyentuh lengan Shelva.
Shleva menganggukkan kepalanya, kepalanya yang masih sedikit sakit membuatnya belum mampu menjawab pertanyaan Dhiva.
Bik Inah mendekat lalu menuliskan sesuatu di kertas note nya, kemanapun bik Inah pergi pasti tidak lupa dengan note nya yang dipakai untuk berkomunikasi dengan semua orang yang ditemuinya apalagi jika dalam kesulitan.
‘Non apa yang terjadi?’ tulis bik Inah dalam note-nya.
“Nggak tau bik, kayaknya jantung Dhiva sedikit kambuh” jawab Shelva sembari memegangi dadanya.
‘Maafin bibik nggak bisa nolongin non Shelva’ lanjut bik Inah lagi.
“Non yang sabar ya” ucap Dhiva sambil memegangi kedua tangan Shelva.
“Aku udah biasa Pah, sedari kecil aku terbiasa menerima perlakuan kasar dari mama tiriku. Bahkan untuk bernafas pun aku rasanya sudah nggak sanggup lagi” jawabnya sambil menundukkan kepalanya ditengah lututnya.
Dhiva meninggalkan Shelva yang masih dalam kesedihannya di dalam kamar bik Inah, sesuai dengan arahan dari bik Sumi, hari ini adalah jadwal Dhiva untuk membersihkan kamar tuan muda Dion. Dhiva tak pernah melupakan sholawat Nabi, dimanapun dia berada selalu bersenandung sholawat agar selalu mendapat perlindungan dari Sang Maha Pencipta.
‘Sholatullah sholamullah ‘alaa toha rasulallah…’
Sampai di depan kamar Dion, Dhiva menghentikan langkahnya sejenak. Pintu kamar tidak tertutup sempurna, ada sedikit celah yang membuatnya untuk mengintip dalam kamar tersebut.
Kamar Dion yang paling ujung sendiri dan kebetulan pintunya itu menghadap balkon sehingga jika ada orang lain yang menyelinap ke kamar Dion tidak akan sampai ketahuan.
‘Apakah Dion masih di kamar?’ gumam Dhiva.
Saat Dhiva sedang memegang handle pintu dan akan memasuki kamar Dion samar-samar mendengar jeritan suara seorang perempuan.
“Jangan tuan muda!” ujar seorang gadis di dalam kamar Dion.
‘Seperti suara Ika, apakah itu beneran Ika?’ tanya Dhiva di dalam hati.
Dhiva mendekatkan telinganya di dekat daun pintu, dia mendadak menjadi gadis yang sangat kepo dengan urusan orang lain. Jika menyangkut dengan keselematan teman dekatnya maka Dhiva akan semakin sakit hati.
“Tuan muda ampun……………..hiks………..hiks…………hiks……………..” suara gadis di dalam kamar itu kian terisak.
__ADS_1
&&&
Di dalam kamar Dion
“Tuan muda ampun tolong jangan sakiti saya tuan” pinta Ika sembari melangkah mundur.
Dion menyeringai, diapun tidak mau kalah dari Ika sambil terus melangkah maju sesuai Langkah Ika yang mundur darinya.
“Jika kamu mau selamat, kamu harus jadi pemuasku hari ini!” Hardik Dion.
Deg
‘Ya Tuhan apakah nasibku akan berakhir sampai disini? Jika Engkau sudah menakdirkan hamba sampai disini, hamba ikhlas Ya Allah’ ucap Ika dalam hati.
Srak
Dion menarik baju Ika hingga terdapat robekan pada baju atasannya sedikit hingga meperlihatkan isi dalam bajunya yang menyembul sedikit. Sontak aja Ika menyilangkan kedua tangannya ke depan dadanya agar isi dalam bajunya tidak terekspos dan terlihat oleh mata lelaki nakal, khusunya di depannya.
“Wow rupanya tubuhmu juga terawat” ujar Dion dan matanya hingga berbinar.
“Tuan muda jangan kurang ajar sama saya!” bentak Ika. Ika yang tak ingin dianggap rendahan oleh Dion dengan terpaksa membentak iblis yang berwujud manusia dihadapannya sekarang.
“Kamu berani membentakku j*l*ng!”
“Kalau bukan j*l*ng apalagi? Kamu tidak lebih dari p*l*c*r di jalanan itu!” semprot Dion lagi.
“Kalau tuan muda menyebut saya j*l*ng itu artinya tuan muda jijik dengan profesi seperti itu kan? Kenapa tuan muda justru makin liar menjamah saya? Kenapa tuan…?” tanya Ika dengan lantang.
“Kamu nggak usah banyak b*c*t!”
Kamar Dion memang kedap suara sehingga apapun yang terjadi di dalam kamar tidak akan ada yang mendengar suara bahkan teriakan di dalam kamar.
“Aaaa…………..” teriak Ika.
Skip (adegan 21+)
Setelah memunguti pakaiannya, Ika segera berlari keluar kamar meninggalkan Dion yang masih terbaring di ranjang karena kelelahan.
&&&
__ADS_1
Kenapa Ika berlari dengan menangis begitu?’ gumam Dhiva, ingin sekali mengejar Ika tapi dia takut akan ketahuan oleh Dion, dengan segera Dhiva bersembunyi dibalik tembok agar aman terkendali.
Benar saja Dion ternyata keluar dari kamar dan menoleh ke kanan dan ke kiri khawatir jika ada orang yang mengintip kegiatannya hari ini dengan Ika.
Setelah keadaan dirasa aman, Dhiva dengan segera berlari-lari kecil menuju kamarnya Ika. Semua pembantu di rumah mewah ini diberi masing-masing kamar walapun tidak besar tapi nyaman bisa untuk istirahat dari lelahnya bekerja seharian.
Tok tok tok
“Ika………” panggil Dhiva lirih tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Cklek
Dhiva memaksakan masuk ke dalam kamar Ika walaupun tidak ada sahutan dari dalam kamar, Dhiva sangat mengkhawatirkan keadaan temannya saat ini, pasti masalah yang tengah dihadapi oleh Ika sangatlah berat, apalagi mengenai kehormatannya sebagai perempuan.
“Ika………….” Dhiva segera memeluk Ika yang sedang rapuh saat ini, dalam isak tangis Ika terdengar sangat berat cobaan yang tengah dihadapinya.
Diraihnya tubuh Ika ke dalam dekapan Dhiva, kali ini sungguh Dhiva tidak bisa menyelamatkan temannya satu itu.
“Ipah, dia sudah merenggut kesucianku. Bahkan sudah beberapa kali dia menghancurkan masa depanku Ipah, hiks…………..hiks…………….hiks…………..” ucap Ika dalam isak tangisnya.
“Ka, aku nggak nyangka ternyata keluarga om Aldo buas seperti binatang!”
Ika memicingkan matanya menatap Dhiva ingin mendapatkan penjelasan atas apa yang telah Dhiva katakan padanya, tapi saat hendak bertanya Ika merasakan sesuatu yang membuat perutnya terasa tidak nyaman entah karena apa?
“Ka kamu kenapa?” Dhiva panit melihat mimic muka Ika yang seperti menahan sesuatu yang hendak keluar.
Huek huek
Suara Ika dari kamar mandi yang masih terdengar oleh Dhiva, Dhiva tidak tahan jika sesuatu terjadi pada Ika.
Dhiva memijat Pundak Ika seperti perlakuan Bu Marni dulu padanya saat sedang masuk angin sehingga mengakibatkan muntah-muntah.
“Ika, nanti aku kerokin ya punggungmu, mungkin kamu masuk angin”
Ika menggeleng takut menyusahkan temannya, lain halnya dengan Dhiva justru Dhiva sangat senang bisa membantu sesama apalagi sebagai teman dekat.
Huek huek
Ika memuntahkan cairan bening, bukan makanan karena dia belum mengkonsumsi apapun hari ini, Dhiva terus memijiti Pundak Ika.
__ADS_1
“Ya Allah Ka, kamu semakin pucat” Dhiva menahan tubuh Ika yang oleng.
“Ika………..tolooong…………………”