MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
surat istimewa


__ADS_3

Siang ini Dhiva sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, bukan hanya Dhiva saja yang senang tetapi Bu Marni, Daffa dan juga Emir sangat Bahagia kahirnya dapat berkumpul bukan karena alasan sakit.


Emir sengaja memesan taksi online agar cepat sampai ke rumah Bu Marni, jika naik kendaraan umum pasti akan memakan waktu yang lama.


“Alhamdulillah akhirnya pulang juga” Daffa berucap sykur sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Dhiv, kamu istirahat aja ya di kamar, biar aku yang menuntunmu” kata Emir yang masih memapah tubuh Dhiva lalu dibaringkan di kamarnya.


Emir masih enggan beranjak dari kamar Dhiva, dia mendaratkan pantatnya di tepi ranjang di kamr Dhiva. Dipandangnya sudut kamar Dhiva yang tidak banyak hiasan, memang sedari kecil Bu Marni membiasakan kedua anaknya untuk hidup hemat dan diperbolehkan membeli barang seperlunya saja.


Rumah Bu Marni memang sederhana jauh dibandingkan dengan hunian papa Emir yang memang terlampau mewah karena Emir keturunan konglomerat yang sedang naik daun sekarang.


“Dhiv” panggil Emir pelan tapi masih terdengar oleh Dhiva.


“Kamu nggak usah Kembali ke rumah orang tua kamu ya, aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Ak-aku mau kita nikah saja”


“Apa…..?” mata Dhiva melotot seolah akan loncat keluar, perkataan nikah sangat membuat Dhiva terkejut, nikah muda tak pernah terfikirkan oleh Dhiva, apalagi jika Kembali ke rumah orang tuanya yang penuh dengan misteri tentang harta dan kekayaan milik kakek Bimantara yang telah dikuasai oleh om dan tantenya. Dhiva sudah berjanji dalam hatinya ingin mengambil lagi apa yang telah menjadi haknya.


Emir menggenggam kedua tangan Dhiva, kedua netra Emir berkaca-kaca karena ia sangat takut kehilangan Dhiva jika Dhiva ngotot Kembali ke rumahnya itu artinya sama saja dengan menantang maut.


“Dhiv, aku sangat mencintaimu, aku sangat takut kehilanganmu Dhiv. Tidakkah kau merasakan betapa besar cintaku padamu”


Dhiva merasa sangat bersalah pada Emir, tapi keputusannya sudah bulat tidak akan membiarkan kekayaan kakeknya jatuh ditangan orang lain. Emir adalah lelaki idaman yang sejak pertama bertemu, Dhiva sudah jatuh cinta dengan Emir padahal usianya juga masih sangat belia kala itu.

__ADS_1


Dhiva menganggukkan kepalanya, diusapnya air mata Emir yang jatuh menetes di pipinya. Apapun dulu jika tentang Emir, Dhiva sangat menyukainya dan sangat bangga pada kekasih impiannya saat dulu. Tapi kini kenyataannya lain, dia dan kakaknya harus mewujudkan keinginan ibu angkatnya.


“Mir dengarkan aku dulu” ditatapnya manik mata Emir banyak cinta untuk Dhiva sehingga Emir sangat sedih hingga meneteskan air mata kesedihan yang melanda hati.


“Seandainya bisa untuk memilih, aku akan ikut denganmu mengabdikan hidupku dengan menjadi istrimu. Tapi ini masalahnya lain Mir” ujar Dhiva yang tak lepas memandang Emir.


Emir memicingkan matanya, dia masih setia menunggu ucapan Dhiva. Apapun yang ada pada Dhiva sangat membuat cinta Emir semakin tumbuh subur, begitupun juga dengan Dhiva rasa cintanya sekarang juga sudah tumbuh dengan subur.


“Aku akan bantu kak Daffa merebut hartanya Kembali lagi, kak Daffa itu calon kepala rumah tangga. Sudah pasti kak Daffa akan menjadi tulang punggung bagi keluarganya, biarkan nanti kekayaan papa Kembali pada kak Daffa dan aku akan tenang jika kakak juga sudah Bahagia” perkataan Dhiva tidak bisa dianggap sepele, karena Daffa sangat membutuhkan itu semua untuk masa depannya.


Emir memeluk erat Dhiva, tapi suara deheman itu sangat mengagetkannya.


Ekhem-ekhem


“Ini bukan seperti yang kakak kira” ujar Dhiva seperti memberi alasan pada kekasih karena ketahuan selingkuh.


&&&


Dear Daffa dan Dhiva


Assalamu’alaikum anak-anak mama, apa kabar kalian selama delapan belas tahun ini nak?


Mama senang bisa menulis pesan untuk kalian berdua ini, walaupun mungkin mama tidak akan pernah melihat kalian berdua sampai kapanpun.

__ADS_1


Deg


Daffa dan Dhiva menghentikan pembacaan surat wasiat dari mamanya itu, kedua bocah yang beranjak dewasa itu saling beradu pandang.


“Mama…… apa yang terjadi pada mama kak?”


“Dek lebih baik kita lanjutkan Kembali membacanya” Dhiva mengangguk, lalu mereka berdua melanjutkan membaca surat tersebut dan masih didengarkan oleh Emir.


Maafin mama ya sayank, mama tidak bisa mengawal perkembangan kalian sampai sekarang, pasti diantara kalian sudah menginjak umur delapan belas kan?


Mama berpesan pada kalian semoga kalian tetap saling menyayangi hingga kalian telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.


Apakah kalian sudah tahu tentang akta kelahiran kalian? Nama lengkap ada dimasing-masing akta kelahiran kalian.


Jika kalian penasaran dengan wajah papa dan mama, kalian bisa minta tolong pada bik Marni untuk memperlihatkan foto mama dan papa saat hamil Dhiva.


Daffa dan Dhiva menghentikan sejenak aktivitas membaca surat wasiat tersebut, lalu Daffa menghampiri bu Marni yang tengah membuat the di dapur.


“Ibu” panggil Daffa hingga bu Marni memutar tubuhnya menghadap sang putra.


“Iya anak ibu, ada apa?”


“Em bu, apakah ibu menyimpan foto mama sama papa?”

__ADS_1


Bu Marni diam seribu bahasa tanpa mampu menjawab pertanyaan Daffa, padahal dapat dijawab dengan anggukan atau gelengan kepala sudah akan membuat Daffa tidak akan bertanya apapun itu.


"Gimana bu?"


__ADS_2