
Keesokan harinya Daffa mencoba meminta penjelasan dari adiknya soal semalam yang tiba-tiba Dhiva bangun dan berjalan sendirian menyusuri Lorong yang terletak di samping rumah, Lorong yang entah menembus kemana tanpa orang lain yang ingin mengikuti tembusnya Lorong tersebut.
“Kak, lukisan mama sudah kakak bawa belum?”
“Dek udahlah, kakak kan udah bilang tadi malem jika lukisan berdarah yang kamu maksud nggak ada di tempatnya dek, jadi kakak ya nggak bawa pulang apapun dari sana” jelas Daffa tetapi tetap saja membuat Dhiva tidak percaya denga napa yang dikatakan oleh kakaknya.
“Dek jujur sama kakak, apakah bayangan Wanita itu yang telah membawamu ke dalam Lorong gelap itu?” lanjut Daffa lagi.
Seketika wajah Dhiva menyendu, wajah cantik itu Wanita dewasa seakan menghiasi pikirannya, mencoba mengenyahkan bayangan mamanya tapi tetap tak mampu.
Dhiva hanya mengangguk mendengar pertanyaan sang kakak, walaupun Daffa kesal sama adiknya tapi dia tidak ingin memperlihatkannya, bagi Dhiva, kakaknya memang sangat sempurna di matanya.
“Besok kita cari lagi dek lukisan yang kamu maksud, kamu tidur gih biar kakak yang nungguin disini” ujar Daffa sembari membelai rambut adiknya agar segera memejamkan matanya.
&&&
“Eren…………..hiii………………hii…………….hii………………..” Wanita dewasa yang sangat cantik tapi wajahnya pun juga kelihatan pucat tersenyum menyeringai di hadapan Eren.
“Ka-kamu” ucap Eren terbata.
Bayangan Wanita cantik itu seketika menghilang dan muncul lagi di samping Eren.
Cling
“Hah! Per-pergi!” bentak Eren, dia merasa di sebelah kirinya hawa dingin mulai menusuk tulangnya.
Eren hendak melangkahkan kakinya namun seakan ada yang menahan kakinya hingga sulit untuk digerakkan.
“Hii…………..hii……………….hii………………..Eren kenapa kamu takut padaku Eren? Hii…………….hii……………hii………………..” suara tawa yang membuat bulu kuduk merinding, tawa yang sangat mengerikan mendengarnya.
“Pergi kamu! Kamu sudah mati sherly!” teriak Eren sambil bergetar ketakutan melihat Eren menatapnya dengan mata yang mengerikan karena ada lingkaran hitamnya.
“Hii…………….hii…………..hii………….siapa yang membuatku mati Eren?” tatapan mematikan dari mata Sherly membuat Eren semakin ciut nyalinya, tangan Sherly
Direntangkan ke depan seakan tangannya terulur ke depan memanjang bergerak untuk mencekik leher Eren.
“Jangan Sherly! Jangan! Aku masih ingin hidup Sher” pinta Eren yang memundurkan Langkah kakinya secara perlahan.
__ADS_1
“Hidup? Hii………….hii…………….hii…………..kamu ingin masih terus hidup? Terus gimana dengan diriku yang sudah kau bunuh! Hiks…………….hiks…………….hiks…………………” tangis pilu hantu Wanita cantik semakin membuat Eren mati kutu.
Semakin Eren mundur, semakin Sherly mendekatkan kedua tangannya semakin terulur Panjang ke lehernya Eren.
“Jangan Sher! Ampuni aku Sher”
“Hiks…………..hiks…………..Eren dimana kamu membuang anakku? Kenapa kamu juga membunuh anakku? Jika kamu ingin hartaku ambil saja! Mana anakku Eren? Hiks……………hiks………….hiks………..”
Eren mempunyai kesempatan untuk kabur dari Sherly tapi lagi-lagi bayangan Wanita cantik yang Bernama Sherly sudah ada di epan Eren dengan seringai yang mematikan lawannya.
“Hii……………..hii………hii……………ingat Eren, anakku akan Kembali ke rumah ini! Semua yang kamu rebut dariku akan diambil Kembali oleh anakku. Hii……………..hii…………………hii…………………….”
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan kamu mengambilnya dariku! Tidaaaaakkkkkk!”
Eren berteriak-teriak kencang, dia tidak tahu harus kemana sekarang ini karena dia hanya sendirian di taman yang bunga-bunganya mulai layu.
“Mama! Bangun ma!” seorang pria dewasa membangunkan istrinya yang sedari tadi mengigau sambil berteriak-teriak.
Pria dewasa itu menggoyang-goyangkan tubuh istrinya tapi tidak ada respon, akhirnya dia mempunyai ide untuk segera menyadarkan istrinya.
Seketika si Wanita itu langsung gelagapan karena air satu gayung telah mengguyur kepalanya padahal masih tengah malam.
Hah hah
“Papa…………mama takut pa……….” Wanita yang Bernama Eren tersebut terengah-engah ketakutan, baginya mimpi itu sangat nyata.
“Sherly pa…Sherly meneror mama.....hiks....hiks....hiks.....” manik mata Eren memindai satu ruangan dalam kamar, tapi bayangan Sherly tidak ada di sekitar ruangan tersebut.
&&&
Pagi hari ini Dhiva sudah bangun lebih pagi daripada penghuni rumah yang lainnya, setelah mandi dan sholat shubuh Dhiva segera memoles wajahnya dengan make up yang bisa menyulap wajahnya menjadi gadis tompel yang culun.
“Ipah, kamu hari ini diberi tugas oleh nyonya besar ke pasar. Kamu mau kan?” tanya Ika saat menjumpai Dhiva di dapur.
“Pasarnya jauh nggak dari sini?”
“Dekat kok, kira-kira hanya satu setengah kilo meter, gimana berani kan?”
__ADS_1
“Ya santai aja, aku pasti berani” jawab Dhiva lalu meminta catatan belanja yang sedari tadi dibawa Ika plus dengan uangnya sekalian.
Dhiva sudah bersiap dengan tas belanjaan yang lumayan besar, di kantong bajunya sudah ada catatan belanja dan uang yang berwarna merah sebanyak dua puluh lembar untuk bahan makanan selama satu minggu ke depan.
“Ipah” panggil anak bungsu Eren yang Bernama Shelva, gadis pendiam yang berbeda sendiri dari dua kakaknya.
“Eh non, ada apa?” tanya Dhiva seraya membalikkan badannya menghadap Dhiva.
“Kamu mau ke pasar kan?”
Dhiva menganggukkan kepalanya mendapat pertanyaan dari anak majikannya, Shelva memang gadis yang baik hati walau fisiknya tak secantik kakaknya tapi hatinya lah yang lebih cantik dari saudaranya.
“Boleh aku ikut ke pasar?” tanya Shelva mengiba, Dhiva sungguh tak bisa menolak jika melihat wajah nona mudanya jika sudah memelas seperti itu.
“Tapi non, apakah tidak izin dulu sama nyonya?”
“Itu gampang Pah, mereka aja nggak pernah peduli sama sekali sama aku. Walaupun aku ngilang sekalipun mereka nggak akan pernah mencariku” ucap Shelva sembari matanya berkaca-kaca.
Dhiva hanya bisa diam saat Shelva sudah menggandeng tangannya lalu melenggang keluar rumah sembari nungguin taksi lewat di depan rumah mewah itu.
Dhiva dan Shelva sudah turun dari taksi lalu melangkah ke depan pasar hendak membeli pentol yang sudah jadi keinginannya selama perjalanan menuju pasar.
“Ipah, kamu ngerasa nggak jika tadi ada yang menguntit kita?” tanya Shelva yang menoleh ke kanan dan kirinya.
“Masa sih non?” tanya balik Dhiva yang tidak percaya.
“Iya, tadi pas kita turun dari taksi terus sekarang dia sembunyi itu di belakang penjual sosis” tunjuk Shelva dengan telunjuk tangan kanannya.
“Nggak ada tuh non. Mending kita masuk ke pasar aja ya biar si penguntit nggak ngikutin kita lagi” ajak Dhiva sambil menggandeng tangan Shelva.
Dhiva memilih belanjaan sesuai dengan catatan mulai dari ikan, daging, sayuran segar dan sayuran yang bisa distok untuk kebutuhan satu minggu ke depan dan yang terakhir adalah membeli buah-buahan yang menjadi favorit keluarga Eren mulai dari apel, jeruk, anggur, kelengkeng, plum, kiwi, dan juga buah pisang.
Etelah beres belanjaan Dhiva dan Shelva keluar dari pasar, mereka baru saja keluar dari pintu utama pasar dan tentu saja masih banyak orang yang berkeliaran di pasar maupun di depannya. Baru saja akan melangkah lagi, tangan kiri Dhiva dicekal oleh seseorang.
Grepp
“Ja-jangan gang-ganggu aku!”
__ADS_1