MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
pembantu yang teraniaya


__ADS_3

“Lea anak mama, kamu kenapa sayank? Kenapa kok ngamuk-ngamuk sama pembantu baru?”


Lea yang cemberut abis seakan malas untuk berdebat dengan mamanya, nafsu makannya juga seakan turun saat melihat wajah Dhiva yang baginya sungguh menjijikkan.


“Eh pembantu baru! Siapa nama lo?” tanya Lea lantang.


“Ipah non” jawab Dhiva sambil menundukkan kepalanya seolah-olah berakting takut pada majikannya.


“Oh nama yang sangat jelek, ya kan ma?”


“Iya sayank emang dasar orang kampung!” Eren menimpali.


“Lo pergi dari ruangan ini! Gara-gara liat wajah lo yang jelek itu nafsu makan gue langsung turun! Menjijikkan sekali wajah lo!” umpat Lea.


Dhiva menatap wajah Lea dan mamanya sekilas, di balik wajah cantik milik sepupu dan tentenya ternyata mereka itu nggak ubahnya antagonis yang sangat jahat.


“Apa lo lihat-lihat?! Berani lo lihat natap mata gue, gue pastikan nyawa lo akan melayang esok hari!” ancam Lea. “Pergi sekarang juga! Pergi kata gue!” gertak lea tidak main-main kali ini.


Walaupun sedang dalam penyamaran tapi Dhiva tetap saja merasa sakit hati, sepertinya memang Lea sepupunya Dhiva itu akhlaknya memang minus dan perkataannya juga sangat kotor yang tidak pantas diucapkan oleh seorang gadis, apalagi Lea sekarang termasuk gadis yang terpandang berasal dari kalangan atas.


Dhiva berjalan gontai menuju dapur, tiba-tiba ingatannya melayang tentang ibunya yang ia tinggalkan sendirian di kampung, sungguh perasaannya sangat berdosa walaupun Bu Marni bukanlah ibu kandungnya.


“Ipah” panggil Ika yang sudah duduk disamping Dhiva yang sedang bersandar di tembok dapur.


Dhiva menyunggingkan senyum sekilas, tampak raut wajah yang penuh kesedihan bergelayut terpancar dari matanya.


“Kamu harus kuat ya” ucap Ika sembari menggenggam erat tangan Dhiva.


“Ka, apakah semua pembantu diperlakukan buruk di tempat ini?” Dhiva menoleh lalu menatap mata teman barunya itu berharap ada kejujuran disana yang akan diucapkan.


“Eh anu itu…” Ika tergagap, dia bingung harus menjelaskan apa pada Dhiva sedangkan sorot mata Dhiva sangat mengharapakan penjelasan dari Ika.


“Udah nggak usah gugup kayak berhadapan dengan polisi aja Ka” ujar Dhiva santai.

__ADS_1


Ika menarik nafas perlahan, memang nggak seharusnya kejahatan harus disembunyikan justru harus dibongkar agar semakin tidak merajalela.


Prangg


"Suara apa itu ka?”


&&&


Dhiva dan Ika bergegas mencari suara yang jatuh itu dengan kerasnya, musibah apa yang akan menimpa jika itu dijatuhkan oleh seorang pembantu.


Dhiva yang akan beranjak ke ruang makan dengan segera dicekal tangannya oleh Ika, inilah yang sering dikhawatirkan Ika jika ada pembantu yang tidak sengaja menjatuhkan sesuatu bahkan memecahkan barang yang ada di rumah majikannya.


“Sssssttt, udah jangan nongol ke ruang makan, jika kamu ingin selamat” ucap Ika yang masih bersembunyi di balik pintu dapur.


“Ka, apakah salah jika aku ingin menolong bik Sumi?” tanya Dhiva yang melihat bik Sumi masih memunguti pecahan piring dibawah pengawasan Lea dan Eren.


“Sudah, kita lihat aja ya”


Lea dan Eren menatap nyalang pada bik Sumi, sungguh orang kaya yang tak pantas ditiru, apakah pembantu hanya akan dijadikan sebagai bahan siksaan saja?


“Dasar pembantu tak berguna!” Eren menendang lutut bik Sumi hingga tersungkur lalu mengenai sisa pecahan piring yang masih ada di lantai.


“Issshhh” bik Sumi mendesis kesakitan karena jarinya terkena beling.


“Sakit ya? Baru segitu aja udah ngerasa sakit! Lo tau nggak piring yang lo pecahin itu bisa untuk beli makan lo selama dua minggu!” bentak Lea lalu menginjak jari bik Sumi yang luka .


“Ja-jangan non, itu sa-sakit non. Hiks…….hiks………” bik Sumi terisak, perlakuan majikannya emang sangat kejam kali ini. Bik Sumi menyeka air matanya yang terus mengalir, air mata yang nggak bisa diajak kompromi terus meluncur begitu saja, pikir bik Sumi.


“Oho….dasar orang kampung! Sudah untung lo ditampung kerja disini, jika nggak lo pasti jadi gelandangan dan pengemis!” bentakan Eren tak kalah pedasnya dengan anak keduanya itu.


“Hentikan tangis palsu lo itu! Gue nggak butuh tangisan palsu itu, jadi gue nggak akan luluh hanya dari tangisan pembantu yang nggak guna kayak lo!” lanjut Eren lagi yang membuat nyali para pembantunya yang mendengar menjadi ciut.


“Hei para pembantu dengerin omongan gue kali ini! Siapapun yang melanggar aturan di rumah gue, gue pastikan kalian tidak akan selamat! Ngerti kalian!” ancam Lea dengan suara lantangnya.

__ADS_1


Dhiva dan Ika yang masih sembunyi di balik pintu dapur hanya bisa mengelus dadanya saja sambil berdoa pada Tuhannya agar dijauhkan dari semua hal buruk.


&&&


Bik Sumi Kembali ke dapur dengan memegangi tangannya yang masih luka terkena pecahan piring tadi ditambah injakan yang semakin membuat luka bik Sumi semakin lebar dan pedih.


“Bik…” panggil Dhiva lirih sambil memeluk bik Sumi, Dhiva sungguh tidak tega melihat kondisi bik Sumi yang sangat memprihatinkan. Apalagi usia bik Sumi yang seperti Bu Marni semakin menambah hati Dhiva ikut tersakiti.


“Bik maafin aku nggak bisa nolong” ucap Ika yang ikut merengkuh Pundak bik Sumi.


“Anak-anak manis sudahlah jangan menangis, bibik udah nggak pa-pa. Udah jangan nangis, luka ini pasti nanti akan sembuh” kata-kata bik Sumi sungguh menenangkan mereka berdua agar tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi bik Sumi.


“Bik ayo kita keluar dari sini, kita cari kerja lain ya bik. Hiks……..hiks…………hiks………….” Dhiva semakin terisak di dalam pelukan bik Sumi dan Ika lalu bik Sumi menyeka air mata Dhiva yang memang semakin membasahi pipinya.


“Tapi nak, bibik sangat butuh pekerjaan ini nak, anak ibu yang di kampung sedang hamil besar dan butuh biaya banyak untuk persalinannya” bik Sumi menjeda perkataannya, “Tolong kalian mengeri keadaan bibik ya nak ya” pinta bik Sumi yang sedang menyembunyikan kesedihannya.


Saat semua hening sedang memikirkan nasib ke depannya, tiba-tiba mereka dikejutkan suara Langkah kaki yeng lebih dari satu orang.


“Eh apa-apaan ini? Nggak usah sok drama-dramaan di dapur!” Hardik Eren, mamanya Lea.


“Bu-bukan nyah, ka-kami hanya ma-mau makan si-siang aja” jawab bik Sumi terbata karena rasa takutnya yang dirasakannya hingga sudah duduk agak lama di dapur rasa takut itu belum sirna.


“Inget ya kalian! Gue nggak akan segan menyakiti kalian jika kalian masih membuat kekacauan di rumah gue! Terutama lo pembantu baru, gue jijik ngelihat muka lo yang super jorok itu!” ucapan Lea emang seperti pisau daging yang sangat tajam.


Entah apa yang dipirikan Lea sampai segitunya membenci wajah Dhiva padahal jika itu bener tanda lahir sungguhan bukan salah manusia, tapi itu anugerah dari Yang Maha Pencipta.


Dukk


Lea menendang tubuh Dhiva hingga oleng ke samping.


“Minggir lo jelek! Gue mau lewat!”


‘Benar-benar menjadi pembantu yang teraniaya jika terus dibawah kekuasaan sepupu dan tanteku’ batin Dhiva.

__ADS_1


__ADS_2