MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
ruang rahasia


__ADS_3

“Ipah………………..” teriak Lea yang membuat seisi rumah menjadi bising mendengarkannya. “Kemana tuh bocah jelek dipanggil nggak nongol-nongol!” gerutu Lea sepanjang menuju kamar khusu pembantu yang terletak di samping rumah mewah itu.


Begitu melihat Ika yang sedang menyapu, Lea tak sabar agar gadis tompel yang dia maksud harus sudah berdiri di depan Lea pagi ini juga.


“Ikan!” panggil Lea lantang tapi Ika tidak menoleh, “Lo baru jadi pembokat aja udah sombong banget, dipanggil majikan kok nggak noleh!” Lea menghampiri Ika lalu menjewer kuping Ika hingga mengaduh kesakitan.


“Aduuuh non sakit”


“Makanya kalau dipanggil itu dengar lalu menghadap ke gue, eh elo enak-enak nyapu!”


“Maaf non apakah non tadi manggil saya?”


“Gue manggil lo Ikan!” ucap Lea dengan sinisnya.


“Ya non maaf, ada apa non?”


“Lo bawa kesini si tompel betina itu! Sekarang juga!” perintah Lea dengan seketika Ika berlari-lari kecil menghampiri Dhiva yang membantu bik Sumi memasak.


Sesampainya di dapur Ika langsung berbisik-bisik dengan temannya itu, Dhiva manggut-manggut mendengar apa yang diucapkan oleh Ika.


Dhiva melepas celemeknya lalu digantung di sudut dapur agar tidak terlihat oleh siapapun, karena menurut pembantu yang sudah lama bekerja disini dapur itu harus benar-benar bersih dan steril.


“Ka, aku ngerasa jika non Lea memanggilku akan memberi hukuman padaku Ka” ucap Dhiva dengan sendu.


Ika mengusap lengan Dhiva, menenangkan Dhiva juga sangat penting sepertinya bukan hukuman biasa yang akan diberikan oleh Lea padanya.


“Sudah tenang dulu, kita berdoa aja semoga selalu dalam lindungan Allah, aamiin” kata semangat memang harus diucapkan apabila mendapati sahabat yang sedang terpuruk dan butuh dukungan.


Ika menemani Dhiva menghadap majikan muda di dalam ruang santai, kondisi pintu yang tida tertutup membuat siapapun bisa masuk kedalam ruang santai, disana memang sudah ada Lea yang lagi duduk sembari bermain ponsel.


“Permisi non” sapa Ika yang terdengar sampai ke telinga Lea lalu dengan sekilas Lea melihat siapa yang datang padanya.


Lea menghampiri Ika dan Dhiva yang masih berdiri mematung dipintu.


“Lo tompel ikut gue kegudang bersihin Gudang dan harus selesai dalam satu harini ngerti!”

__ADS_1


“I-iya non” Dhiva manggut-manggut.


Dhiva mengikuti kemana Lea berjalan menuju Gudang yang sudah bertahun-tahun lama nya tidak pernah dibersihkan oleh Dhiva.


Lorong yang diberi penerangan yang minim membuat sekitar Gudang seperti kuburan yang sunyi dan mencekam.


“Lo masuk ke Gudang, lo bakal gue kunci jika udahan maka lo akan gue keluarin dari tempat ini, paham kan lo!”


“I-iya non”


Dengan seketika Lea mengeluarkan kunci untuk membuka Gudang, kunci hanya majikan yang punya dan juga yang boleh membukanya.


Cklek cklek


Lea membuka pintu lalu menekan tombol saklar, cukup terang penerangannya hingga membuat Dhiva yang merasa ketakutan sekarang tidak lagi.


“Lo masuk! Jika gue butuhin lo maka lo akan gue panggil”


Setelah Dhiva masuk ke dalam Gudang tersebut tiba-tiba Lea mengunci Dhiva yang berdiri terpaku sendirian di dalam Gudang yang sepi tak bernyawa.


Cklek cklek


Deg


‘Apakah itu foto kakek, mama dan papaku waktu dulu?’ gumam Dhiva yang masih mengawasi foto pajangan yang masih melekat di dinding.


Foto tersebut memang adalah sebuah foto keluarga yang sudang usang kelihatannya tapi masih bisa dinikmati gambarnya walaupun cetakan kuno.


‘Apakah masih ada petunjuk lain selain foto keluargaku?’ tanya Dhiva pada dirinya sendiri.


Dhiva melirik nakas yang ada di sebelah ranjang, ada beberapa laci yang kelihatannya memang tidak dikunci, bergegas Dhiva menarik pegangan laci yang paling atas.


Srakk


Laci yang atas sudah terbuka, Dhiva mengamati ada beberapa peninggalan foto-foto kala seorang bayi laki-laki yang belajar duduk memegangi perut ibunya yang sudah kelihatan buncitnya itu.

__ADS_1


‘Lucu banget ya, apakah ini kak Daffa dan ini mama? Iya bener banget, wajah in ikan yang selalu masuk kedalam mimpiku dulu?’ celoteh Dhiva sambil memegangi foto itu lagi.


‘Seandainya ada kak Daffa disini pasti akan bisa memecahkan misteri ini, tapi saying hanya aku yang disini dan aku belum bisa menyimpulkan penyebab apa-apa yang terjadi dengan mama dan papa, apalagi dengan kakek’ keluh Dhiva.


Laci kedua yang Dhiva buka membuat mata Dhiva berbinar, Dhiva menemukan buku kecil tapi bukan diary, buku kecil itu seperti buku catatan penting yang harus disimpan jjika sewaktu-waktu dibutuhkan pasti akan sangat bermanfaat.


Dilihatnya lagi sekilas kamar itu, ada lukisan seorang gadis yang terdapat di pojok kamar itu tapi lukisan itu seperti menangis darah yang mengalir tapi hanya sedikit. Semakin lama dilihat, semakin kelihatan bahwa darah itu menyusut hilang dari lukisan tersebut.


Dhiva mengucek-ucek matanya, kamar yang penuh misteri dan sedikit horror, tapi bagi Dhiva biasa aja, yang ditakutkan Dhiva hanyalah penjahat, kalau Cuma dedemit nggak akan mengendurkan semangatnya untuk mencari bukti lainnya.


Laci yang paling bawah sudah terbuka, didalam laci itu ada kunci yang bentuknya unik, jika dilihat sekilas itu bukan kunci karena bentuknya mirip dengan permen empuk yang berbentuk berbagai jenis binatang.


‘Sebaiknya aku kantongi aja dulu, siapa tau ini adalah bukti lagi selain buku kecil tadi’ Dhiva memasukkan kunci antic tadi ke dalam kantong bajunya.


Dhiva iseng mendorong meja rias berharap ada sesuatu yang ada di belakang meja rias itu seperti dalam film-film mungkin seperti pintu rahasia ataukah apa.


Benar sekali apa yang di belakang meja rias ada beberapa kode jika dimasukkan akan dapat mengakses ruang rahasia itu.


‘Apakah tante Eren dan om Aldo belum tahu tentang ruang rahasia ini? Biarlah mereka tidak mengetahui daripada mereka tau pasti akan menghancurkan ruang rahasia ini’


Berkali-kali dhiva memasukkan tetap salah, apalagi sensor yang menggambarkan sidik jari seseorang pasti lebih mudah lagi.


‘Huh salah terus. Nggak apa salah terus, aku masih bisa masuk sini lagi, tentunya dengan kunci ini semoga bisa membukanya’


Setelah bersih-bersihnya selesai Dhiva merebahkan tubuhnya sebentar di atas ranjang empuk sang majikan yang sudah lumayan bersih karena debunya belum bersih sempurna.


Cklek cklek


Pintu dibuka dari luar, Wanita muda itu yang tak lain adalah Lea menatap kagum kamar yang tadinya kotor berdebu menjadi bersih seketika dan harum juga ruangan itu.


‘Kemana si tompel?’ akhirnya Lea mendapati Dhiva yang masih terlelap di ranjang itu. ‘Dasar kampungan norak! Awas aja kalau nggak bangun akan aku suruh dia di Gudang beneran yang horror itu’ gumamnya lagi.


“Tompel bangun lo!” Lea menyeret tubuh Dhiva hingga terjungkal ke lantai.


“Aduuh sakit non”

__ADS_1


__ADS_2