MISTERI HARTA WARISAN

MISTERI HARTA WARISAN
ke pasar


__ADS_3

“Ja-jangan gang-ganggu aku!” ucap Dhiva


Ketakutan membuat tubuh Dhiva mengeluarkan keringat dingin yang cukup banyak hingga membuat telapak tangannya menjadi dingin.


“Ipah, di belakangmu itu cowok cakep, kok aku nggak yakin dia akan membuat onar disini dan mengganggu kita” bisik Shelva di telinga kanan Dhiva.


‘Apa bener yang dimaksud oleh Shelva? Lalu siapa yang sudah memegang tanganku ini?’ tanya Dhiva dalam hati.


Shelva menjadi penasaran dengan cowok yang di belakang Dhiva, spertinya cowok itu sangat mengenal Dhiva ataukah mungkin ada hubungannya mereka itu, batin Shelva yang menerka-nerka sendiri.


“Dhiva, aku kangen banget sama kamu” ucap cowok tampan yang masih enggan melepaskan tangan kiri Dhiva.


Suara yang sangat familiar bagi Dhiva, suara yang selalu memgisi hari-harinya sebelum berangkat ke Jakarta untuk menjalankan misinya.


‘Mungkinkah itu Emir? Apakah dia menguntitku dari tadi?’ gumam Dhiva sendiri.


“Maaf permisi mau lewat! Pacarana kok di tengah jalan, sana minggir-minggir!” terdengar suara ibu-ibu rempong yang melewati ketiga anak muda tersebut sambil menggerutu di setiap lankahnya.


Emir yang sudah nggak sabar segera menarik tangan Dhiva dan meraih tas belanjaan Dhiva kemudian diajak minggir karena sudah mengganggu pengguna jalan yang lainnya.


Grepp


Emir memeluk erat tubuh Dhiva sambil menurunkan belanjaannya di lantai di dekat mereka. Dhiva yang sadar jika itu adalah tunangannya akhirnya membiarkan saja dirinya dipeluk dengan eratnya.


“Emir maaf” ucap Dhiva lirih.


Shelva yang berdiri di samping mereka hanya bisa menjadi obat nyamuk buat sepasang sejoli yang baru saja melepas kangennya itu.


Ingin sekali Shelva juga bertanya kenapa nama Ipah menjadi Dhiva? Apakah seorang detektif swasta yang dikirim seseorang untuk memata-matai keluarganya? Shelve yang sudah mengetahui kebejatan keluarganya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Emir mengurai pelukannya, dia baru menyadari jika ada gadis yang sedari tadi berdiri dan menjadi ketiga dari mereka berdua.


Ekhem ekhem


Shelva berdehem karena sedari tadi hanya dicuekin aja sama Dhiva seolah hanya patung yang berjalan yang mengikutinya.


“Eh maaf ya, aku kangen banget sama tunanganku” ucap Emir sambil melirik sekilas wajah Shelva.


“Iya-ya deh, sebentar, nama jadi kamu Dhiva, kamu bukan Ipah?” tanya Shelva penasaran dengan panggilan yang dilayangkan oleh Emir tadi.


“Ayo kita ke kafe dulu ya” ajak Emir dan kedua gadis remaja itu menganggukkan kepalanya tanda menyetujuinya.


Sebenarnya Dhiva ingin menolak ajakan Emir karena takut rahasianya terbongkar, tapia pa mau dikata jika kemauan Emir harus dituruti.


Setelah sampa di kafe, Emir mengambil tempat duduk di samping Dhiva dan Shelva duduk di depan mereka.


“Non, tolong jangan bilang siapa-siapa ya. Saya tahu non Shelva adalah orang baik” pinta Dhiva sembari memegang kedua tangan Shelva.


Shelva memang berbeda dengan kedua kakaknya, dia akan berfikir dengan bijak meskipun umurnya baru delapan belas, bagi Shelva yang salah tetap disalahkan dan menanggung semua resiko yang telah diperbuatnya walaupun keluarganya sendiri.


Mendengar permintaan Dhiva, Shelva tersenyum dia merasa Bahagia bisa mempunyai teman sekaligus bisa menjadi sahabat baginya.


Dhiva menceritakan Sebagian kecil penyamarannya pada Shelva, bahkan Shelva sebagai anak gadis pun sangat terkagum-kagum dengan pesona Dhiva yang merupakan keturunan Asia Timur dengan Jawa.

__ADS_1


‘Kenapa Dhiva tidak mengatakan sebenarnya jika dia adalah cucu pemilik kekayaan yang sesungguhnya’ batin Emir.


‘Tapi jika mengatakannya sekarang pasti akan berakibat buruk dengan penyamaran dan pengintaiannya selama tinggal di rumah keluarga Bimantara’ lanjut Emir lagi namun hanya dikatakan di dalam hati saja.


Dhiva menghadap Shelva dan menatapnya dengan serius karena masih melanjutkan misinya lagi demi kehidupan yang adil seseuai dengan apa yang jadi miliknya.


“Non Shelva demi saya, tolong jangan pernah katakan apapun pada keluarga non Shelva, dan tolong panggil saya dengan nama’IPAH’ saja ya non” pinta Dhiva lagi.


“Oke”


Setelah menghabiskan makanan yang telah dipesan tadi, Emir mengantarkan Dhiva dan Shelva pulang dengan naik taksi online.


Salam perpisahan dirasa sangat berat bagi Emir, dia ingin ada di samping Dhiva hingga menjadi sandaran bagi gadis yang sangat dicintainya itu.


&&&


“Dari mana saja kamu anak tak tau diuntung?!” tanya nyonya besar pada putrinya yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


Ma-mama” ucap Shelva dengan bibir bergetar dan sudah pasti keadaannya sekarang tidak baik-baik saja.


Eren memang bukan ibu kandung dari Shelva, karena Shelva lahir dari Rahim eorang Wanita simpanan papanya. Tentu saja Shelva tau hal itu karena Eren lah yang menceritakan semua itu setelah Shelva lulus SD.


“Jangan panggil saya mama! Saya jijik mendengar kamu panggil dengan sebutan nama. Haa……………..haa…………………ha………………………..” suara tawa lantang Eren menggema diseluruh ruangan ini dan mencapai dapur saat ini.


“Mama, ampuni Shelva mama” ucap Shelva yang berlutut di depan mama sambungnya kini.


Dugh


Satu tendangan dilayangkan ke perut Shelva hingga meringis kesakitan.


“Kamu harus menebus kesalahan pelakor itu! Jadi kamu tidak bisa lari dari rumah selama-lamya. Haa…………….haa…………………..haa…………………….!” suara Eren semakin lantang dan semakin beringas seperti hendak menerkam mangsanya.


Seketika hati Shelva berdebar semakin cepat, ketakutan yang sudah dirasakannya selama bertahun-tahun Ketika hidupnya sudah di bawah kendali Eren.


“Good son, kamu bisa hajar anak pelakor ini sesuai dengan keinginan kamu” ucap Eren lalu meninggalkan Shelva dan Dion yang masih tertegun di depan kamar Shelva.


Drap


Drap


Drap


Suara Langkah kaki Dion semakin membuat tubuh Shelva bergetar, setelah sekian lama cambuk itu tidak disabetkan ke tubuhnya, kenapa cambuk yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai kini dibawanya ke hadapan adiknya.


“Shelva, adeknya kakak yang baik hati” panggil Dion sambil menyeringai.


Shelva yang melihat hal tersebut bergidik ngeri, mungkin kali ini neraka yang dibuat Dion untuk dirinya.


“Ka-kakak mau apa?”


“Haa…………..haa……………..haa………………kamu tanya kakak mau apa? Kamu nggak lihat apa yang sedang kakak pegang ini?” teriak Dion lantang.


Shelva masih tetap bergeming, gemuruh di dadanya semakin tidak dapat ia kendalikan lagi.

__ADS_1


Ctassshhh


Ma-mama” ucap Shelva dengan bibir bergetar dan sudah pasti keadaannya sekarang tidak baik-baik saja.


Eren memang bukan ibu kandung dari Shelva, karena Shelva lahir dari Rahim eorang Wanita simpanan papanya. Tentu saja Shelva tau hal itu karena Eren lah yang menceritakan semua itu setelah Shelva lulus SD.


“Jangan panggil saya mama! Saya jijik mendengar kamu panggil dengan sebutan nama. Haa……………..haa…………………ha………………………..” suara tawa lantang Eren menggema diseluruh ruangan ini dan mencapai dapur saat ini.


“Mama, ampuni Shelva mama” ucap Shelva yang berlutut di depan mama sambungnya kini.


Dugh


Satu tendangan dilayangkan ke perut Shelva hingga meringis kesakitan.


“Kamu harus menebus kesalahan pelakor itu! Jadi kamu tidak bisa lari dari rumah selama-lamya. Haa…………….haa…………………..haa…………………….!” suara Eren semakin lantang dan semakin beringas seperti hendak menerkam mangsanya.


Seketika hati Shelva berdebar semakin cepat, ketakutan yang sudah dirasakannya selama bertahun-tahun Ketika hidupnya sudah di bawah kendali Eren.


“Good son, kamu bisa hajar anak pelakor ini sesuai dengan keinginan kamu” ucap Eren lalu meninggalkan Shelva dan Dion yang masih tertegun di depan kamar Shelva.


Drap


Drap


Drap


Suara Langkah kaki Dion semakin membuat tubuh Shelva bergetar, setelah sekian lama cambuk itu tidak disabetkan ke tubuhnya, kenapa cambuk yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai kini dibawanya ke hadapan adiknya.


“Shelva, adeknya kakak yang baik hati” panggil Dion sambil menyeringai.


Shelva yang melihat hal tersebut bergidik ngeri, mungkin kali ini neraka yang dibuat Dion untuk dirinya.


“Ka-kakak mau apa?”


“Haa…………..haa……………..haa………………kamu tanya kakak mau apa? Kamu nggak lihat apa yang sedang kakak pegang ini?” teriak Dion lantang.


Shelva masih tetap bergeming, gemuruh di dadanya semakin tidak dapat ia kendalikan lagi.


Ctassshhh


Suara cambuk yang terdengar keras sedang dimainkan oleh Dion untuk menakut-nakuti Shelva. Sungguh Shelva sangat ketakutan, Riwayat jantung lemah yang dideritanya dari kecil sekarang tiba-tiba dirasakannya makin sakit di dadanya sebelah kiri.


“Kakak ja-jangan, aku nggak kuat kak” ucap Shelva yang terdengar melemah sambil terus memegangi dadanya.


“Kamu bilang jangan! Jika kamu tidak menginginkan cambukan ini, kenapa kamu permalukan keluarga ini? Jawab g*bl*k!!!”


Tubuh Shelva semakin merosot ke lantai, ketahanan tubuhnya seakan lemah dan untuk berdiripun dia tak sanggup lagi.


“Bangun g*bl*k! angan pura-pura!”


Dion mendekati Shelva yang tergolek lemas di lantai, ditendangnya tubuh Shelva tapi tetap tidak ada respon dari adiknya itu.


“Shelva! Mama…………………………….”

__ADS_1


__ADS_2