
Bagas dan Daffa sudah membawa beberapa peralatan untuk menyusuri lorong gelap, lembab dan juga pengap.
Sruukk Dug
"Aduhh" Daffa terpeleset lalu tubuhnya terpelanting ke belakang.
Grep
Dengan sigap Bagas menarik satu tangan Daffa agar benar-benar tidak jatuh ke lantai yang agak basah.
"Makasih bang"
"Yuk" ajak Bagas.
Bagas berhenti sebentar, dia jadi curiga kenapa lorong yang tidak terjamah justru lantai nya agak lembab?
"Kenapa bang?"
"Daf lo ngerasa nggak sih ada yang aneh disini? Lorong yang nggak pernah disentuh orang satupun kenapa lantai nya lembab?"
"Ya bang, sebenernya gue juga ngerasa aneh, coba bang kita pukul-pukul aja dinding itu, mungkin ada pintu yang disamarkan" usul Daffa.
"Oke, sepertinya rumah orang tua lo sudah dijadikan kuburan berdarah dan tempat penyekapan" ucap Bagas.
__ADS_1
Mendengar perkataan Bagas, Daffa sangat sedih, dia yang dari usia satu tahun sudah meninggalkan rumah ini sungguh tidak tahu jika rumah orang tuanya akan dibuat untuk hal-hal yang keji.
Bagas bertugas memukul dinding sebelah kirinya, sedangkan Daffa memukuli dinding sebelah kanannya.
Prang prang
Sssttt
Bagas memberi kode pada Daffa agar diam dulu, lalu Bagas meraba-raba sisi tembok itu mana yang menjadi pintu dan mana yang masih berupa tembok?
Daffa yang bertugas memberi penerangan pada Bagas, dan juga membawa kunci canggih yang bisa digunakan untuk kunci apapun bentuknya.
Daffa sudah membuka pintu rahasia itu, lampu senter yang jadi penerangan masih menyoroti ruangan gelap itu.
Ctek
Daffa dan Bagas menyipitkan matanya karena Cahaya dari lampu itu terlalu silau saking terangnya.
“Ya Tuhan!” Bagas menutup mulutnya melihat pemandangan di depannya, dikiranya hantu ternyata orang yang lagi duduk dengan posisi sedang dipasung.
Bagas menutup hidungnya sungguh baunya luar biasa, apakah mungkin karena bau dari ruangan ini ataukah bau dari orang yang dengan posisi seperti orang sakit jiwa itu?
“To-tolong……”suara lirih yang berasal dari Wanita yang dipasung seperti kesakitan.
__ADS_1
“Kamu siapa?” tanya Bagas dengan agak ragu mendekat.
“Tolong saya……..”ujarnya lagi.
Dengan tanpa pertimbangan lagi akhirnya Bagas dan Daffa membebaskan Wanita itu, mungkin sudah kesakitan dalam waktu yang agak lama.
“Ini minum dulu bu” Daffa menyodorkan sebotol air mineral pada Wanita yang kira-kira umurnya sekitar 35 tahun.
Gluk gluk
Air minum itu tandas tidak bersisa, sudah berapa lama Wanita itu tidak minum air?
Daffa dan Bagas memapah Wanita itu untuk didudukkan ke kursi yang telah usang.
“Ceritakan pada kami bu, sebenarnya ibu siapa? Kenapa dipasung di tempat gelap seperti ini?” pertanyaan Bagas bukannya dijawab tapi Wanita itu malah menangis tergugu di depan dua pemuda tampan itu.
Hiks…….hiks………….hiks…………
Bagas dan Daffa masih sabar menunggu Wanita itu selesai menangis menumpahkan semua kesedihan yang dirasakannya, perlahan tangis Wanita itu akhirnya mereda dan menyeka air matanya yang masih tersisa di pelupuk matanya.
“Tolong keluarkan saya dari sini” ujar Wanita itu lirih, kenapa dengan suaranya? Apakah dia terlalu lama tidak bicara dengan orang lain sehingga suaranya seperti melemah?
“Nak tolong keluarkan saya dari sini, saya sudah tak tahan disiksa terus begini setiap waktu” ujarnya dengan air mata yang berderai tak bisa ditahannya lagi.
__ADS_1
“Baik bu, bertahanlah. Kami akan membawamu ke tempat yang aman”