
Mata Arum tak berkedip menatap keindahan yang telah disiapkan oleh Johan di hadapanya. Restoran mewah yang telah di booking lelaki itu hanya untuk mereka berdua telah disulap untuk menciptakan suasana makan malam yang begitu romantis. Dua kursi di tengah ruangan dengan sebuah lilin di atas meja, cahaya temaram dan alunan lembut suara musik semakin membuat Arum begitu terpesona.
Dengan lembut, Johan menggandeng tangan wanitanya dan menarik sebuah kursi untuk Arum. Seorang pelayan menghampiri mereka untuk menuangkan minuman.
"Jo, kapan kamu siapin semua ini?" tanya Arum yang masih terpanah dengan suasana romantis yang begitu sempurna diciptakan oleh Johan.
"Rahasia, pokoknya kamu harus nikmati semua ini ya." Lelaki itu tersenyum, tangannya menggenggam lembut tangan Arum.
Beberapa saat kemudian pelayan kembali menghampiri mereka untuk mengantar makanan yang sudah dipesan oleh Johan sebelumnya. Keduanya menikmati makanan mereka tanpa suara, sesekali Johan menyuapkan makanan yang diterima Arum dengan senang hati hingga seluruh hidangan itu telah tandas.
Mata Johan tak pernah bisa lepas dari sosok wanita di hadapannya. Tangannya terus menggenggam jemari lentik wanita berwajah ayu nan lembut itu hingga membuat Arum salah tingkah dan tak berani membalas tatapan dari lelaki di depannya.
"Arum." Lembut suara Johan membuat wanita itu mendongakkan wajahnya.
"Hmmm." Hanya itu yang mampu Arum gumamkan untuk menjawab panggilan dari Johan.
"Mungkin ini terlalu cepat buat kamu, tapi aku sangat mencintai kamu. Dan kali ini aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Jadi, maukah kamu menerima cintaku?"
Setelah mengucapkan itu, Johan menekuk sebelah kakinya di hadapan Arum. Mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Lagi-lagi Arum dibuat terperangah kala Johan menyodorkan sebuah cincin bertahtakan berlian yang nampak begitu elegan.
"Jo, tapi apakah ini tidak terlalu cepat. Aku baru saja bercerai dari Arka," ucap Arum sedikit ragu.
"Tak masalah, aku tak memintamu untuk menikah denganku dalam waktu dekat. Aku hanya memastikan jika cintamu benar-benar telah menjadi milikku. Jadi, maukah kamu menjadi kekasihku sampai siap untuk menjadi istriku?" Johan sedikit meralat perkataannya hingga berhasil mendapat sebuah anggukan dari Arum.
"Yess!" sorak Johan kemudian berdiri dari posisinya, memasangkan cincin indah itu di jari manis milik Arum.
Keromantisan pasangan baru itu tak berhenti sampai di sana. Musik kembali mengalun memainkan sebuah lagu romantis. Johan mengulurkan tangannya untuk mengajak Arum berdansa. Dengan malu-malu, Arum menerima ajakan itu. Keduanya berdansa mengikuti alunan musik hinggak jarak di antara mereka semakin terkikis. Kini, Arum telah menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Johan. Membuat Johan sedikit salah tingkah karena takut sang kekasih mendengar debaran jantungnya yang begitu kencang.
Malam telah semakin larut dua sejoli itu memutuskan untuk pulang. Namun sebelum keluar dari restoran itu. Sebuah kejutan kembali datang, seorang pelayan mengantarkan sebuah bucket bunga mawar merah berukuran besar untuk Arum.
__ADS_1
"Jo." Wanita itu menatap lelakinya dengan pandangan takjub, Johan menganggukan kepala sebagai kode jika bunga itu memanglah pemberian darinya.
"Kamu suka kan sama mawar merah, aku sengaja siapin itu juga buat kamu."
"Makasih banget ya, Jo."
"Sama-sama, Sayang. Sekarang aku antarin kamu pulang ya."
Keduanya keluar dari restoran dengan bergandengan tangan, senyum terus mengembang di bibir Johan dan Arum. Mungkin ini yang disebut jodoh tak akan ke mana, meski Arum pernah menikah dengan Arka toh pada akhirnya tetap kembali pada Johan. Lelaki itu membukakan pintu mobil kemudian mulai melajukan mobilnya menuju kediaman sang kekasih. Di sepanjang perjalanan, tangan Johan hampir yak pernah lepas menggenggam jemari milik Arum.
"Sayang, aku langsung pulang ya. Udah malam." Suara Johan berhasil membuat pipi Arum bersemu merah.
"Eh, iya hati-hati," balas Arum dengan perasaan berdebar.
"Mulai besok kamu berangkat ke kantor bareng aku aja ya, biar aku jemput kamu."
"Siap, Bos." Arum tersenyum lebar membalas ucapan sang kekasih.
"Ehm, Non Arum kayaknya bahagia sekali. Mana bawa bunga segala lagi," goda Bi Marni pada majikannya hingga membuat Arum semakin tersipu.
"Ya ampun, Bibi ngagetin aja. Kirain udah tidur tadi," balas Arum pura-pura mengerucutkan bibirnya.
"Bibi dari tadi nungguin Non pulang, eh yang ditungguin ternyata malah senyum-senyum sendiri seperti orang lagi kasmaran." Bi Marni kian gencar menggoda Arum.
Wanita muda itu tersenyum kemudian menarik lengan ARTnya untuk menghenyak di sofa ruang keluarga.
"Lhah, kok Bibi malah ditarik ke sini to, Non," protes Bi Marni yang kini sudah ikut duduk di sofa.
"Aku emang lagi jatuh cinta, Bi. Johan baru saja menyatakan cintanya sama aku." Arum berucap sembari memamerkan cincin berlian yang melingkar apik di jari manisnya.
__ADS_1
"Apa, Non? Ya ampun, Bibi ikut bahagia ya, Non. Semoga Mas Johan benar-benar jodoh terbaik buat Non Arum dan bisa membahagiakan Non."
"Makasih ya, Bi. Arum bahagia sekali." Arum memeluk wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri itu.
"Tapi, Non. Kok Mas Johan sudah kasih cincin, apa Mas Johan mau nikahin Non secepatnya?" tanya Bi Marni dengan pandangan serius.
Arum tersenyum menatap wanita paruh baya di hadapannya.
"Nggak kok, Bi. Kita mau jalanin hubungan ini dulu, lagian kan Arum juga baru aja berpisah sama Arka. Apa kata orang kalau Arum langsung menikah sama Mas Johan," jawab Arum jujur.
Kedua wanita berbeda genarasi itu terus mengobrol sampai hampir pukul duabelas malam Arum baru memutuskan untuk tidur karena besok harus kembali bekerja.
**********
Pagi-pagi sekali, Johan sudah datang untuk menjemput sang kekasih dengan membawa bubur ayam untuk sarapan setelah sebelumnya menelepon Bi Marni agar tak memasak. Lelaki itu langsung masuk setelah Bi Marni membukakan pintu untuknya.
"Arum sudah bangun, Bi?" tanya Johan pada wanita berusia sekitar limapuluh tahunan itu.
"Sudah, Mas. Tapi Non Arum belum turun," jawab Bi Marni sopan.
"Kalau gitu ini buburnya bawa ke belakang ya, Bi. Nanti kita sarapan bareng," titah Johan yang diangguki oleh Bi Marni, wanita paruh baya itu mengayunkan langkah kakinya menuju ke ruang makan sembari menenteng kresek berisi kotak makanan dari Johan.
Sepuluh menit kemudian, Arum turun dengan pakaian formalnya. Wanita muda itu sedikit kaget melihat kehadiran sang kekasih yang sepagi ini sudah sampai di rumahnya.
"Lho, Johan. Kok kamu udah samapi di sini sih," sapa Arum yang langsung menghenyak di sampingnya.
"Sengaja, bawain sarapan buat calon istri," ucap Johan menyunggingkan senyum manisnya.
"Tadi Mas Johan telepon, Non. Bilang kalau Bibi nggak usah masak. Itu bubur ayamnya udah siap di meja makan," sahut Bi Marni yang muncul dari arah dapur.
__ADS_1
Ketiganya menikmati sarapan pagi mereka diiringi canda tawa. Arum dan Johan langsung berangkat ke kantor setelah menyelesaikan sarapan mereka. Tanpa disadari oleh keduanya, ada sebuah mobil yang membuntuti mereka dari belakang.