Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 29


__ADS_3

Seorang wanita dengan setelan kebaya pernikahan tengah mematut dirinya di depan cermin dengan sebuah senyuman yang mengembang di bibir. Wajah mulus nan ayu yang memancarkan binar kebahagiaan itu telah terpoles sempurna dengan make up bernuansa nude yang membuat penampilan Arum Anindira semakin terlihat paripurna.


Jantungnya berdetak tak beraturan, padahal ini bukanlah pernikahan pertama untuknya. Namun, rasa gugup masih tetap menghampiri. Bahkan, kedua telapak tanganya terasa begitu dingin dan berkeringat akibat rasa gugup yang luar biasa. Wanita cantik tu menoleh kala seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar yang sudah dihias dengan pernak-pernik khas kamar pengantin. Tangan yang mulai keriput itu terulur, mengelus lembut kedua bahu sang calon mempelai wanita.


"Non Arum cantik sekali, persis seperti almarhumah ibu," puji Bi Marni sembari menatap pantulan wajah Arum yang berada di dalam cermin.


"Bi, apa Arum akan bahagia dengan pernikahan ini? Arum takut kalau pengkhianatan Arka akan diulang oleh Johan ketika nanti Arum sudah tidak lagi terlihat cantik." Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir tipis Arum, membuat Bi Marni menangkup kedua pipi wanita muda itu.


"Non Arum pasti akan bahagia, dan Bibi yakin kalau Mas Johan adalah pria yang baik. Yang akan selalu mencintai Non, apapun keadaannya. Buktinya dia rela menunggu bertahun-tahun sampai bisa memiliki hati dan cinta Non Arum." Bi Marni terus berusaha untuk meyakinkan hati majikannya itu.


"Makasih ya, Bi. Makasih karena Bibi sudah merawat Arum dan menyayangi Arum seperti seorang Ibu menyayangi putrinya sendiri."


"Sama-sama, Non. Sekarang kita turun ya, Mas Johan sudah menunggu di bawah. Pak penghulu juga sudah datang." Arum menganggukan kepalanya dan mulai berandak dari kursi yang ia duduki.


Dengan hati-hati, Bi Marni menuntun sang calon pengantin untuk menuruni satu demi satu anak tangga menuju ke lantai bawah. Dan benar saja, nampak Johan sudah duduk dengan wajah pias karena rasa gelisah dan gugup yang bercampur menjadi satu. Seketika mata Johan tak berkedip kala melihat calon istrinya menuruni anak tangga. Sampai saat ini, Johan selalu terpesona dengan kecantikan Arum. Baginya, Arum adalah hal terindah yang pernah ia miliki.


Bi Marni mendudukan Arum di sebelah Johan.


"Gimana, Mas Johan? Sudah siap, ini Mbak Arumnya cantik sekali. Kalau nggak siap biar saya ambil jadi mantu saya saja," goda penghulu yang sedari tadi melihat raut ketegangan di wajah Johan.

__ADS_1


Seketika Johan tersenyum mendengar celetukan penghulu yang sudah duduk di depanya.


"Jangan, Pak. Saya saja harus nunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan cinta Arum."


Penghulu mulai menjabat tangan Johan, dan dengan satu kali tarikan napas. Johan telah berhasil mengucap ijab qobul dengan suara lantang, Arum telah sah menjadi istrinya. Wanita itu meraih punggung tangan Johan dan menciumnya dengan takzim kemudian dibalas oleh Johan dengan sebuah kecupan mesra di kening sang istri.


Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah sepasang pengantin baru yang baru saja sah beberapa menit yang lalu. Keduanya berdiri dibpelaminan untuk menyalami beberapa tamu yang ingin memberikan ucapan selamat. Johan dan Arum memang sengaja tak mengundang banyak orang, hanya kerabat dekat dan beberapa teman saja karena ingin pernikahan mereka berlangsung sederhana namun sakral.


Aline dan Arka yang juga sudah datang sedari tadi langsung naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada sahabat mereka. Bahkan, Aline sengaja membawa sebuah kotak berisi kado special yang ia persiapkan untuk Arum.


"Johan, Arum. Selamat ya, semoga kalian semakin bahagia ya," ucap Arka seraya menyalami keduanya.


Aline mendekat, menyerahkan sebuah kotak yang dibawanya kemudian memeluk erat tubuh sahabatnya itu.


"Makasih ya, Aline. Kamu repot-repot banget sampai bawain aku kado segala," ucap Arum diiringi dengan sebuah senyuman.


"Ini kado special, pokoknya nanti malam kamu harus pakai kado dari aku biar si Johan makin klepek-klepek," bisik Aline menggoda sahabatnya.


"Kok kalian malah bisik-bisik begitu, ada apa sih?" celetuk Johan melihat tingkah dua wanita di sampingnya.

__ADS_1


"Sstt, laki-laki nggak boleh ngikut. Ini rahasia," ucap Arum kemudian mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda sang suami.


Arka dan Aline langsung pulang setelah turun dari atas pelaminan. Arka menggandeng tangan wanitanya itu menuju ke mobil yang terparkir di luar pagar kemudian menginjak pedal gasnya untuk kembali pulang ke rumah. Sesekali ekor mata Arka melirik ke arah wanita yang duduk di sampingnya dengan pandangan ke luar jendela.


"Aline, seru banget ya pernikahan Arum dan Johan. Apa kamu nggak pingin?" ucap Arka tiba-tiba, lelaki itu hanya ingin mendengar tanggapan Aline tentang pernikahan saat ini.


"Iya seru, mereka kelihatan bahagia sekali." Aline sama sekali tak mengalihkan pandanganya, membuat Arka menghela napasnya panjang.


"Maksudku, apa kamu nggak ingin kita meresmikan pernikahan ini? Bukannya dulu kamu ingin sekali kita menikah secara resmi?" Arka menegaskan apa maksud ucapannya tadi.


"Itu dulu, sekarang sepertinya aku lebih nyaman dengan keadaan seperti ini. Selama Ibu kamu tidak mengusikku, aku nggak akan lagi menuntut kamu macam-macam," tegas Aline yang tak lagi memikirkan perasaan Arka, membuat lelaki itu terdiam tak lagi menanggapi perkataan sang istri.


Arka menginjak pedal gasnya semakin dalam agar segera sampai di rumah. Lelaki itu mulai menyadari, ternyata kebaikan yang ia lakukan selama ini tak cukup untuk membuat Aline benar-benar memaafkan dan menerima dirinya selayaknya seorang suami. Arka hanya bisa pasrah, menunggu entah sampai kapan cinta Aline akan kembali untuknya.


Sementara itu di kediaman Arum, acara baru saja selesai dan petugas wedding organizer baru saja selesai membereskan semuanya. Arum dan Johan serta Bi Marni juga baru saja selesai menyantap makan siang mereka. Pasangan pengantin baru itu memutuskan untuk beristirahat setelah lelah berdiri menyalami para tamu undangan yang ternyata cukup banyak. Johan dan Arum yang sudah lelah memutuskan untuk segera beristirahat di kamar mereka.


"Bi, Arum sama Johan mau istirahat dulu. Bibi juga istirahat, nanti nggak usah masak karena Arum udah pesan makanan," titah Arum kemudian mulai menaiki anak tangga setelah Bi Marni menganggukan kepalanya.


Kini, Johan dan Arum telah berada di dalam kamar pengantin yang ranjang dan lantainya penuh dengan taburan kelopak mawar dan aroma lavender yang membuat suasana semakin romantis. Namun, Johan yang sudah lelah memilih untuk langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Sedangkan Arum langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian, wanita itu keluar dengan tampilan yang lebih segar. Kedua alis Arum saling bertaut kala melihat sang suami yang sudah terlelap dengan suara dengkuran halus.

__ADS_1


"Ya ampun, nggak romantis banget sih. Masa baru nikah langsung molor, tapi ya udah nggak apa-apa. Mungkin dia memang lelah," gerutu Arum kemudian ikut merebahkan diri di sebelah Johan.


Hampir setengah jam Arum berusaha memejamkan matanya, namun gagal. Akhirnya, wanita itu memutuskan untuk membuka kado pemberian dari Aline tadi. Mata Arum membola sempurna kala melihat kado apa yang diberikan oleh sahabatnya itu.


__ADS_2