Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 26


__ADS_3

Bu Kanti berjalan dengan lemas ke arah pintu, apa lagi ia belum menyantap makan siangnya untuk hari ini. Wanita paruh baya itu mengernyitkan dahi kala melihat seorang lelaki dengan jaket ojek online tengah berdiri di depan pintu.


"Ada apa ya, Mas?" tanya Bu Kanti yang terdengar begitu ketus.


"Gofood, Bu. Semua totalnya tujuh puluh lima ribu," ucap driver ojek online tersebut dengan diiringi sebuah senyuman ramah.


"Sebentar ya." Bu Kanti memutar badannya untuk memanggil Arka yang ternyata sudah berdiri di belakangnya bersama Aline.


"Ini, Mas. Kembaliannya di ambil aja buat, Mas." Arka mengulurkan satu lembar uang merah pada driver ojol tersebut.


"Terima kasih, Pak."


Ketiganya segera menuju ruang makan setelah driver tersebut pergi. Arka menata bungkusan nasi padang yang di pesanya di piring dan memberikan satu bungkus untuk Aline serta satu bungkus lagi untuk Bu Kanti.


"Kenapa beli makanan di luar segala sih, Ka. Kan kamu bisa minta Aline untuk masak. Baru sakit gitu aja udah malas, bersih-bersih nggak mau, sekedar masak juga masa nggak mau," cicit Bu Kanti sembari mengunyah makananya.


"Kita kan sama-sama tahu kalau Aline nggak bisa masak, yang bisa masak itu Ibu. Tapi, karena Ibu juga nggak mau masak jadi beli aja deh," jawab Arka santai yang kini tak lagi memojokan sang istri seperti biasanya.


Aline menyunggingkan senyumnya mendapat pembelaan dari sang suami. Ternyata Arka memang benar-benar membuktikan ucapanya, bukan hanya sekedar membual.


"Ya udah, nih Ibu udah kenyang. Tolong cuciin piringnya. Ibu capek habis bersih-bersih, mau nonton drama ikan terbang dulu," perintah Bu Kanti yang langsung beranjak menuju ke ruang keluarga.


Aline yang juga baru selesai makan hendak mencuci piring itu. Namun, dicegah oleh Arka dengan mencekal pergelangan tangannya.


"Biar aku yang cuci piringnya, kamu duduk aja," titah Arka pada sang istri, wanita itu mengangguk kemudian tersenyum karena tersanjung lagi-lagu mendapat perlakuan manis dari Arka.

__ADS_1


Sore telah menjelang, Arka dan Aline yang baru saja membersihkan diri memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ikut bergabung bersama Bu Kanti yang masih asyik menikmati acara televisi. Baru saja keduanya menghenyak di sofa, bel pintu telah berbunyi. Aline tebtu yang sudah bisa menebak siapa tamunya segera melangkah untuk membukakan pintu. Senyum di bibirnya mengembang kala melihat Arum yang sudah berdiri di depan pintu dengan menenteng beberapa kantong belanjaan. Namun, hanya sendiri tanpa ada Johan yang menemani. Aline langsung menghambur ke pelukan sahabatnya.


"Arum, kok kamu cuma sendirian. Jihan mana?" tanya Aline setelah mengurai pelukannya.


"Johan ada meeting mendadak, jadi nggak bisa ikut. Cuma nganterin aja, nanti jemput lagi kalau udah selesai," jelas Arum membuat sahabatnya itu manggut-manggut.


"Ya udah, ayo masuk." Wanita itu langsung menggandeng lengan sahabatnya menuju ke ruang keluarga.


Mata Bu Kanti seketika melotot kala melihat siapa tamu yang datang sore itu. Dengan terburu-buru, wanita paruh baya itu mendekat dan langsung memeluk tubuh mantan menantunya. Arum membeku, tak menepis ataupun membalas pelukan dari mantan mertuanya. Aline dan Arka yang bisa membaca pikiran Arum dari ekspresi wajahnya hanya bisa saling menggedikkan bahu melihat tingkah Bu Kanti.


"Arum, menantu Ibu yang paling baik. Pasti kamu ke sini untuk rujuk sama Arka lagi kan. Ibu senang sekali, lihat itu si Aline. Dia jadikan Ibu seperti pembantu, di suruh bersih-bersih seisi rumah," oceh Bu Kanti mengumbar kesedihan palsu tanpa rasa malu.


"Sepertinya Ibu salah paham, aku ke sini mau jengukin Aline aja kok, Bu," balas Arum santai.


"Oh ya, Aline. Ini ada makanan buat makan malam, sengaja dimasak sendiri sama Johan dan ada buah juga buat kamu." Arum mengulurkan beberapa kantong belanjaan yang di bawa olehnya.


"Ayo Arum, silahkan."


"Makasih ya, Aline." Arum menyesap sedikit isi cangkir teh yang dihidangkan oleh Aline untuknya.


"Arum, kamu sekarang cantik sekali ya. Mana kelihatan anggun banget lagi penampilannya," puji Bu Kanti yang menghenyak di samping mantan menantunya.


"Makasih, Bu," jawab Arum singkat, wanita itu malas meladeni ocehan dari mantan mertuanya.


Tentu saja, Arum tak akan lupa bagaimana sikap Bu Kanti yang selalu menghina dan memperlakukan dirinya selayaknya seorang pembantu. Bahkan, sebagai seorang istri Arum tak pernah mendapatkan nafkah yang cukup dari Arka. Mengingat semua itu membuat hati Arum kembali terasa perih.

__ADS_1


"Bu, Arum tidak mungkin akan kembali sama Arka. Arka sudah punya Aline dan Arum juga sudah memiliki cakon suami," tegas Arka pada Ibunya.


"Alah, pasti kamu bohong kan. Mana mungkin Arum bisa melupakan kamu secepat ini. Dia kan sangat mencintai kamu." Bu Kanti masih tak mau percaya.


Arum yang semakin muak pada kelakuan mantan mertuanya mendengus kesal. Wanita muda itu berpura-pura melihat jam tangan agar Bu Kanti bisa melihat cincin berlian yang melingkar cantik di jari manisnya. Dan benar saja, mata Bu Kanti langsung tertuju pada jari manis mantan menantunya.


"Ya ampun, Arum. Cincin kamu bagus sekali, ini berlian asli? Pasti harganya mahal ya," cecar Bu Kanti yang sudah menggenggam jemari tangan milik Arum.


"Kalau harga aku juga nggak tahu, Bu. Ini cincin pemberian calon suamiku."


"Ngobrolnya, nanti lagi ya. Kita makan aja dulu, Arum udah bawain makanan. Takutnya nanti keburu dingin," ajak Aline untuk menghentikan tingkah memalukan Bu Kanti.


Arum dan Arka langsung mengangguk dan berjalan beriringan menuju ke meja makan. Menikmati makan malam dengan menu masakan Johan yang dibawakan oleh Arum. Bu Kanti juga nampak begitu lahap menikmati isi piringnya hingga tandas.


"Arum, masakan kamu benar-benar enak. Beda banget sama masakan Aline, kalau nggak gosong ya asin," puji Bu Kanti sekaligus menyindir sang menantu yang masih terlihat santai mengunyah makanannya.


"Ini bukan masakan Arum, Bu. Tapi calon suamiku yang masak," jawab Arum seadanya.


Bu Kanti mendesah kesal mendengar tanggapan Arum barusan. Wanita paruh baya itu sama sekali tak percaya jika Arum bisa secepat ini melupakan putranya. Padahal melihat penampilan mantan menantunya sekarang, Bu Kanti sangat ingin jika Arka dan Arum bisa kembali rujuk.


"Udah, deh Arum. Kamu nggak usah bohongi Ibu, karena Ibu tahu sebesar apa cintamu untuk Arka. Mana mungkin kamu bisa menjalin hubungan dengan orang baru secepat ini."


"Dia bukan orang baru, aku sudah mengenalnya jauh sebelum mengenal Arka," sangkal Arum secara langsung.


Bersamaan dengan suara mobil yang berhenti di depan rumah.

__ADS_1


"Nah, itu pasti calon suami Arum yang datang. Biar aku saja yang bukain pintu." Arka segera mengayunkan langkahnya dan benar saja. Saat pintu terbuka, Johan telah berdiri dengan setelan jas kerja yang membuatnya nampak semakin gagah dan tampan.


__ADS_2