Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 27


__ADS_3

Arka menyunggingkan senyum ramah menyambut kedatangan Johan dan langsung membawa lelaki itu untuk bergabung di ruang keluarga. Mata Bu Kanti tak berkedip menatap ke arah Johan yang tengah berjalan di belakang putranya. Ternyata Arum tak bercanda, dia benar-benar sudah menemukan pengganti Arka. Dengan sopan, Johan menghampiri Bu Kanti dan mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat.


"Kenalkan, Bu. Ini Johan, calon suami saya." Arum mengenalkan lelaki itu sebagai calon suami, Bu Kanti seketika mencebikan bibirnya mendengar hal itu. Pupus sudah harapannya untuk membuat Arka dan Arum kembali rujuk.


"Oh, jadi kamu beneran udah punya pengganti Arka. Cepat juga ya kamu move onnya," ketus Bu Kanti dengan pandangan yang masih tak lepas dari sosok lelaki tampan dan gagah bernama Johan.


"Iya, Bu. Kalau begitu kami pulang dulu ya." Arum langsung pamit karena sudah malas melihat tingkah mantan mertuanya.


"Lho, kok buru-buru, Sayang. Memangnya udah puas ngerumpi sama Aline?" tanya Johan pada sang kekasih.


"Udah kok, lagian kamu pasti juga udah capek. Aline, aku pulang ya. Lain kali kamu yang harus ke rumah aku." Arum memeluk tubuh sahabatnya sebagai tanda perpisahan.


Aline mengangguk kemudian mengantarkan Arum dan Johan sampai ke depan pintu. Mobil mulai melaju dan Arum langsung menghembuskan napas leganya setelah menjauh dari rumah itu. Baginya, mengunjungi Aline di sana dan bertemu mantan ibu mertuanya adalah sebuah kesalahan terbesar. Johan menautkan kedua alis melihat wajah masam sang kekasih yang tak seperti biasanya.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kok dari tadi cemberut terus? Apa Aline dan dan Arka bikin ulah lagi?" Johan mengelus lembut puncak kepala sang kekasih.


"Nggak sih, Jo. Tapi mantan ibu mertuaku itu lho, kalau bicara masih saja suka asal. Masa dia nyuruh aku rujuk sama anaknya, apa nggak gila itu namanya," cerita Arum yang masih tak habis pikir dengan pikiran Bu Kanti.


"Udah biarin aja, namanya juga nenek lampir. Oh ya, nanti aku mampir sebentar ya. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Johan menatap Arum penuh damba. Wanita itu mengangguk untuk mengiyakan permintaan sang kekasih.


Johan kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Melajukan mobil itu sampai tiba di kediaman Arum dan di sambut oleh Bi Marni yang langsung membukakan pintu setelah mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Keduanya masuk dan menghenyakan tubuh lelah itu di sofa ruang keluarga.

__ADS_1


"Mas Johan, mau minum apa? Biar Bibi buatkan?" tawar Bi Marni pada pria muda yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Nggak usah, Bi. Bibi di sini aja, temani Arum. Saya mau bicara penting sama dia," titah Johan, Bi Marni menurut dan ikut menghenyakan bobot tubuhnya di sofa.


"Memangnya kamu mau bicara apa sih? Kok wajahnya serius gitu?" tanya Arum penasaran.


Johan terdiam sejenak, entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan. Bahkan telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin karena merasa gugup. Padahal, ia sudah lama mempersiapkan setiap kata yang akan ia sampaikan pada kekasihnya malam ini.


Arum menatap lelaki itu penuh selidik. Rasa penasaran sudah membuncah ingin segera mendengar apa yang akan disampaikan oleh Johan yang masih tak bergeming.


"Jadi gini, kita kan kenal udah bertahun-tahun. Dan aku juga udah nggak mau main-main karena aku benar-benar cinta sama kamu. Setelah masa iddah kamu berakhir, aku mau kita segera menikah. Apa kamu setuju?" Akhirnya Johan berhasil mengungkapkan keinginannya, Bi Marni tersenyum mendengar hal itu karena ia juga berharap agar Arum segera menemukan kebahagiaan.


"Menjajaki sifat apa lagi? Kita kenal sudah bertahun-tahun dan sama-sama sudah saling mengerti. Jadi gimana? Kamu mau nggak menikah sama aku setelah masa iddahmu selesai?"


"Tapi aku ada syarat." Ucapan Arum membuat Johan mengerutkan dahinya.


"Syarat apa? Kalau aku bisa, pasti akan aku penuhi kok." Johan berucap dengan penuh keyakinan.


"Setelah menikah nanti, aku ingin kita tinggal di rumah ini. Gimana?" Arum menaik turunkan kedua alisnya menggoda Johan yang nampak sedang berpikir.


"Oke, aku akan ikuti mau kamu. Kita sama-sama sudah tidak punya orang tua jadi bebas mau tinggal di mana. Jadi kamu setuju menikah denganku setelah masa iddahmu selesai?" Lelaki itu mengulangi pertanyaan yang belum mendapat kepastian dari Arum.

__ADS_1


Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah lengkungan senyum. Dengan wajah yang dipenuhi binar kebahagiaan, Arum menganggukan kepalanya. Johan yang merasa begitu bahagia, secara refleks langsung memeluk erat tubuh sang kekasih dan tentu saja pelukan itu dibalas oleh Arum dengan senang hati. Keduanya begitu bahagia sampai melupakan keberadaan Bi Marni yang sedang menatap ke arah mereka dengan sebuah senyuman jahil.


"Eheem, ingat belum sah. Main peluk-peluk aja ih anak muda jaman sekarang," goda Bi Marni pada dua anak muda yang sedang dimabuk cinta itu.


Johan langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum salah tingkah ke arah ART yang sudah seperti ibu kandung untuk kekasihnya itu.


"Sampai lupa, Bi. Saking bahagianya, tapi Bibi setuju nggak kalau setelah nikah kita tinggal di rumah ini?" Kini giliran Johan meminta pendapat dari Bi Marni.


"Lho ya setuju banget to, malah seneng Bibi jadi nggak kesepian tinggal sendirian di rumah segede ini."


Nampak jelas binar kebahagiaan di wajah Johan dan Arum. Mereka terus mengobrol untuk membicarakan rencana pernikahan itu sampai larut malam, Johan memutuskan pamit untuk pulang. Seperti biasa, Arum mengantarkan kekasihnya sampai di depan pintu dan baru kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikemudikan oleh Johan keluar dari gerbang rumahnya.


Wanita muda itu kembali menghampiri Bi Marni yang masih asik duduk di ruang keluarga sembari menonton drama ikan terbang favoritnya. Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah Arum yang wajahnya tampak begitu bahagia setelah menerima lamaran dari sang kekasih.


"Ya ampun, seneng banget lihat Non Arum akhirnya mau nikah lagi. Mana Mas Johan kelihatannya sayang banget sama Non Arum. Semoga kalian benar-benar bahagia ya," harap Bi Marni penuh ketulusan.


"Makasih ya, Bi. Do'ain semoga semuanya lancar sampai hari H nanti." Arum mengecup pipi wanita paruh baya itu kemudian berlalu menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.


Arum merebahkan diri di atas ranjang empuknya, meresapi setiap kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Ternyata benar setelah hujan, pasti akan ada pelangi. Begitu juga dengan kehidupannya, setelah menjalani rumah tangga yang penuh kesedihan dengan Arka. Akhirnya sekarang ia menemukan kebahagiaan dan laki-laki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.


Hati Arum menghangat mengingat sebentar lagi ia akan menikah dengan lelaki yang dari dulu telah berhasil merebut hatinya. Lelaki yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya. Semoga setelah ini tidak ada lagi kesedihan dan pengkhianatan yang menghampiri hidup Arum.

__ADS_1


__ADS_2