
Kedua sudut bibir milik Bi Marni tertarik membentuk sebuah lengkungan senyum. Menatap tiga benda mungil di tangannya yang semuanya telah bergaris dua warna merah.
"Alhamdulillah ya Allah, ini Non Arum beneran hamil, Mas. Nih lihat, garis merahnya ada dua semua," sorak Bi Marni kegirangan, wanita paruh baya itu meletakan tespek yang dibawanya ke telapak tangan Johan.
Wajah Johan berbinar, sudut matanya telah basah. Bukan karena sedih, tapi air mata itu adalah sebuah air mata kebahagiaan. Kebahagiaan yang kini terasa begitu lengkap untuknya. Bukan hanya mendapatkan cinta Arum saja, tapi swbentar lagi ia juga akan menjadi seorang ayah. Lelaki itu langsung bersujud seraya mengucap syukur pada Yang Kuasa.
"Sayang, kita akan jadi orang tua. Kenapa kamu tadi malah kelihatan sedih begitu? Apa nggak senang dengan kehamilan kamu ini?" Johan menangkup kedua pipi sang istri, menatap dalam manik mata indah milik wanita yang paling ia cintai.
Arum tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dari tadi ia memang sengaja ingin membuat panik suami dan ARTnya. Padahal sebenarnya, ia adalah orang yang paling bahagia atas kehamilannya ini.
"Aku cuma nge-prank aja tadi, aslinya aku senang sekali karena akan segera menjadi seorang ibu," ucap Arum kemudian tersenyum jahil.
"Sebaiknya Mas Johan antar Non Arum untuk periksa ke dokter kandungan ya, biar dapat obat dan vitamin." Bi Marni mengarahkan dua anak muda yang baru pertama kali akan mempunyai seorang anak itu.
"Nanti malam aja, Bi ke dokternya. Aku lagi malas sekarang, tiba-tiba aja perutku lapar," rengek Arum yang malah mengejutkan dua orang di hadapannya.
Lapar? Bagaimana bisa Arum berkata ia sedang lapar padahal belum ada satu jam setelah ia menyantap sarapan paginya.
"Memangnya Non Arum mau makan apa?" tanya Bi Marni pada majikan wanitanya.
"Mau singkong goreng, Bi. Tapi yang singkongnya dicabut langsung sama Mas Johan," ucap Arum sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
Bi Marni langsung tertawa mendengar keinginan konyol wanita muda itu. Berbeda dengan Johan yang malah memasang wajah panik karena tak tahu harus mencari ke mana tanaman singkong yang diminta oleh sang istri.
"Sayang, kamu serius? Aku yang harus nyabut sendiri singkongnya?" Arum mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang suami yang sedang menggaruk bagian kepalanya karena kebingungan.
"Tapi di mana nyari pohon singkongnya itu?" tanya Johan dengan wajah yang sudah terlihat gusar.
__ADS_1
Bi Marni yang merasa kasihan langsung mendekat dan menepuk pelan pundak majikan laki-lakinya.
"Wajahnya nggak usah panik gitu, Mas. Bibi ada tanam singkong di belakang rumah ini." Ucapan Bi Marni benar-benar terasa seperti sebuah angin segar untuk Johan.
"Beneran, Bi? Kok saya nggak pernah tahu?"
"Kamu nggak pernah main ke halaman belakang sih, Mas. Halaman belakang rumah ini itu luas, jadi sama Bi Marni di sulap jadi kayak kebun. Ada pohon pisang sama pepaya juga lho," jelas Arum memberi pengertian pada sang suami.
Tanpa basa-basi, ketiganya langsung menuju halaman belakang. Arum memilih duduk di sebuah bangku panjang sembari melihat sang suami yang akan mencabut singkong bersama dengan Bi Marni.
"Bi, ini gimana cara nyabutnya?" tanya Johan yang baru pertama kali melihat bentuk asli pohon singkong.
Bi Marni hanya bisa mengulum senyum melihat kepolosan majikannya, wanita paruh baya itu mendekat dan mengarahkan kedua telapak tangan Johan untuk memegang batang pohon singkong.
"Nah, sekarang Mas Johan tarik kuat-kuat sampai singkongnya tercabut!"
Johan menurut, lelaki itu mengerahkan semua tenaganya untuk mencabut batang pohon singkong itu, dan berhasil.
"Nih, Sayang. Aku udah dapat singkongnya, sekarang kita masuk ya. Biar Bi Marni yang buatkan singkong gorengnya untuk kamu." Arum mengangguk dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Kedua sejoli itu menghabiskan waktu untuk menikmati acara televisi sembari menunggu Bi Marni selesai memasak singkong yang diminta oleh Arum. Johan tak hentinya mengelus perut Arum yang masih rata karena usia kehamilan yamg masih sangat muda. Sesekali lelaki itu juga memberikan kecupan sayang di sana. Bahkan, Johan berbicara di depan perut sang istri seolah sedang mengajak janin yang ada di dalam kandungan sang istri untuk mengobrol.
"Mas, kamu ngapain sih ngomong-ngomong sendiri begitu?" tanya Arum yang merasa aneh dengan tingkah sang suami.
"Lagi ngajakin ngobrol anak aku," jawab Johan menyunggingkan senyum, bersamaan dengan Bi Marni yang muncul dari arah dapur dengan membawa sepiring singkong goreng hangat special untuk Arum.
"Ini Non, singkongnya. Dimakan habis itu langsung ke dokter kandungan ya. Semakin cepat dapat vitamin semakin baik." Ucapan wanita paruh baya itu langsung mendapat acungan jempol dari Johan.
__ADS_1
Arum mulai mencomot sepotong singkong goreng dan memasukannya ke dalam mulut. Wanita yang sedang ngidam itu nampak begitu menikmati setiap kunyahanya. Sedang Bi Marni hanya bisa menatap majikannya dengan sebuah senyuman, ingatanya terlempar pada kenangan masa lalu di mana ibunda Arum sedang hamil dan juga mengidam singkong goreng. Tanpa terasa, setetes bulir bening menetes di pipi yang sudah mulai terlihat keriput.
"Bi, Bibi nangis? Kenapa? Apa Arum ada salah sama Bibi?" heran Arum yang sedari tadi memperhatikan wajah asisten rumah tangganya itu.
Bi Marni tersenyum dan mengusap jejak air mata di pipinya. Tanganya terulur membelai puncak kepala wanita muda yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
"Bibi teringat almarhum mamanya Non Arum. Waktu hamil dulu, beliau juga suka sekali makan singkong goreng yang dicabut langsung oleh papanya Non," jelas Bi Marni yang semakin terisak.
Rasa kehilangan begitu terlihat di wajah wanita paruh baya itu. Baginya, orang tua Arum bukan hanya sekedar majikan. Tapi juga teman dan keluarga. Sama seperti Arum, mereka juga selalu mengajak Bi Marni untuk makan satu meja tanpa memandang status.
Arum menghentikan aktivitasnya mengunyah, menghampiri Bi Marni kemudian memeluknya.
"Bibi pasti kangen sama mama ya?" Lirih Arum di telinga Bi Marni yang mendapatkan sebuah anggukan kepala.
"Iya, Non. Ah sudahlah, kok malah jadi sedih-sedih begini. Kita kan lagi bahagia karena sebentar lagi akan ada tangisan bayi di rumah ini."
"Iya, Bi. Ya udah, Bibi istirahat aja. Arum mau makan singkong lagi, nanti baru ke dokter." Ucapan Arum membuat sang suami dan ARTnya tergelak karena setelah obrolan mengharukan barusan, ternyata Arum tetap tak melupakan singkong gorengnya.
"Sayang, aku minta dikit boleh nggak singkongnya?" Arum buru-buru menyembunyikan piring singkongnya sebelum Johan berhasil memcomot sepotong singkong goreng milik sang istri.
"Nggak boleh, Mas. Ini kan punyaku, kamu minta digorengin aja sama Bi Marni," ucap Arum sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kasihan Bi Marni capek, Sayang. Minta sepotong aja ya, kan aku yang nyabutin singkongnya," protes Johan dengan wajah memelas.
Mata Arum seketika melotot mendengar perkataan Johan. Hormon kehamilan yang ia alami membuat emosi wanita itu lebih mudah tersulut.
"Jadi kamu nggak ikhlas nyabutin singkong buat aku?" hardik Arum yang langsung meletakkan piringnya ke atas meja dengan kasar.
__ADS_1
Ting tong.
Suara bel pintu berhasil mencegah kemarahan Arum. Johan buru-buru berlari ke arah pintu diikuti oleh sang istri yang mengekor di belakangnya.