
Tepat pukul dua belas siang, Arum dan Johan telah tiba di rumahnya. Mereka sengaja terlebih dahulu mampir ke cafe untuk mengecek laporan keuangan sekaligus memesan beberapa makanan untuk makan siang. Pasangan suami istri itu yakin jika Bi Marni tak akan sempat memasak karena sibuk menjaga baby Zio dan juga baby Zia.
Setibanya di rumah, kondisi rumah nampak sepi. Tak ada suara tangisan dari kedua bayi kembar, membuat Arum dan Johan merasa penasaran sehingga langsung mengayun langkah kakinya lebar menuju ke kamar mereka. Setibanya di dalam kamar, nampak baby Zia dan baby Zio tengah terlelap di dalam box bayi bersama Bi Marni yang duduk setia menunggui mereka.
"Bi Marni." Arum memanggil ART di rumahnya dengan suara setengah berbisik karena takut akan mengganggu kedua bayi kembar yang tengah terlelap.
Bi Marni beranjak dari duduknya, menghampiri Arum dan Johan yang sudah berdiri di depan pintu.
"Non Arum, Mas Johan, kalian sudah pulang? Bagaimana keadaan Mbak Aline?" tanya Bi Marni pada kedua majikannya, wanita paruh baya itu memang mengetahui jika semalam Aline dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan setelah terpeleset dari tangga.
"Alhamdulillah, Bi. Aline sudah sadar dan bayinya juga selamat, sehat dan ganteng banget lagi babynya," ujar Arum seraya mengulas sebuah senyuman.
"Alhamdulillah, Bibi ikut senang, Non."Bi Marniengucap syukur mendengar kabar bahagia dari sang majikan.
"Ya sudah. Ini tadi aku bawa beberapa makanan dari Cafe, tolong Bibi siapin di meja makan ya. Aku mau ganti baju terus kita makan sama-sama," perintah Arum yang langsung di angguki oleh Bi Marni.
Wanita paruh baya itu mengayun langkah kakinya menuju ke arah meja makan seraya menenteng kantong kresek berisi beberapa kotak makanan yang dibawa sang majikan dari cafe. Dengan cekatan, Bi Marni menata makanan-makanan itu ke atas meja makan. Sepuluh menit kemudian, Arum dan Johan keluar dari kamar dengan pakaian rumahan. Mereka bertiga duduk bersama untuk menyantap makan siang dengan diiringi obrolan hangat seperti biasa. Setelah selesai dengan ritual makan siang, Arum segera membantu asisten rumah tangganya untuk membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor kemudian kembali menghenyak di sana menemani Johan yang masih asyik mengotak-atik laptop sembari mengerjakan beberapa laporan perusahaan karena Arka sedang sibuk mengurusi Aline yang baru saja melahirkan.
"Oh ya, Mas Johan. Bibi masih penasaran, sekarang kondisi si pak tua itu bagaimana?" Pertanyaan Bi Marni membuat Johan menautkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan siapa yang disebut sebagai Pak Tua.
"Pak Tua? Pak Tua siapa sih, Bi?" tanya Arum yang ijut penasaran.
"Ya ampun Mas, Non. Itu lho, pak tua yang sudah meneror keluarga kita selama ini!"
Seketika Arum dan Johan memecahkan tawa karena ucapan di Marni.
"Bibi ih, aneh-aneh saja. Sembarangan panggil Pak Tua. Dia kan namanya Pak Tirta, Bi," oceh Arum pada Bi Marni.
"Bodo amat lah, Non. Mau Pak Tirta namanya, yang jelas dia kan sudah jahat. Biar Bibi panggil aja dengan sebutan Pak Tua," cerocos Bii Marni yang sepertinya masih merasa kesal dengan tindakan jahat dan keji yang dilakukan oleh lelaki paruh baya itu.
"Iya, dia masih ada di rumah sakit. Dia juga habis operasi buat mengeluarkan peluru di kakinya," jelas Johan kemudian.
Dari dalam kamar, terdengar suara tangisan bayi kembar yang membuat Arum segera melangkah lebar menuju ke kamarnya bersama Johan yang mengekor di belakang. Johan mengambil baby Zio untuk mendapat ASI terlebih dahulu seperti biasa. Sedangkan baby Zia ia timang-timang dahulu untuk meredakan tangis sampai sang kakak selesai menyusu.
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah ruangan rumah sakit. Seorang pria paruh baya tengah berbaring di ranjang pasien, matanya menatap nanar ke arah langit-langit ruangan yang berwarna putoh. Ingatannya terlempar ke masa lalu. Di mana Fitri, putri tunggalnya itu masih berusia balita dan keduanya berlarian di taman untuk mengejar kupu-kupu.
Tanpa terasa air mata menetes dari kedua netra milik Tirta, lelaki tua itu menyesali semua yang telah menimpa keluarganya. Sang istri yang meninggal karena sakit kemudian membuat Fitri mulai bersikap aneh karena merasa terlalu kesepian. Bahkan, berlanjut sampai mengalami gangguan jiwa dan meninggal akibat bunuh diri di rumah sakit jiwa. Hal itu semakin membuatnya menyesali kegagalannya menjadi seorang ayah untuk sang anak.
"Fitri, maafkan ayah, Nak. Ayah sangat menyayangi kamu, ayah tidak rela kamu mengalami semua ini. Ayah sangat rindu padamu, Nak." Lelaki tua itu terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Pandangan mata Tirta kembali kosong, bola matanya bergerak-gerak menelisik ke seluruh penjuru ruangan itu sampai ia melihat bayangan sosok Fitri yang menembus dinding. Nampak putri kesayangannya itu tengah menangis menatap sang ayah. Membuat Tirta ingin meraih dan memeluk bayangan putri kesayangannya itu.
"Fitri, kamu datang, Nak. Ayah rindu sekali kepadamu," ucap Tirta dengan suara lirih.
Tak ada jawaban dari bibir Fitri yang memang hanya sebuah halusinasi ciptaan Tirta sendiri. Perlahan, bayangan itu mulai menghilang. membuat Tirta kian frustasi karena rasa Kehilangan.
"Fitri, jangan pergi, Nak. Jangan tinggalkan, Ayah. Ayah masih sangat merindukanmu!" Teriakan pria paruh baya itu terdengar oleh dua polisi yang tengah berjaga di depan pintu.
Tirta semakin mengamuk, berteriak-teriak dan mencabut selang infus yang menempel di tangannya. Beberapa dokter dan perawat pun tak mampu untuk menenangkan lelaki paruh baya itu hingga terpaksa menyuntikkan obat penenang agar bisa mengendalikan kondisi Tirta.
Kini lelaki itu telah kembali terlelap bersama mimpi-mimpi indah dengan sang putri. Para dokter dan perawat segera keluar setelah memastikan Tirta telah terlelap. Sementara dua orang polisi masih tetap berjaga di depan pintu ruangan itu untuk memastikan jika Tirta tak akan melakukan hal yang lebih nekat lagi.
"Selamat siang, Pak. Apa ada sesuatu yang terjadi pada pasien di dalam?" tanya Arka pada kedua polisi itu.
"Betul, Pak Arka. Pak Tirta baru saja mengamuk dan berteriak-teriak memanggil nama putrinya. Sepertinya lelaki itu juga memiliki angguan jiwa, sama seperti almarhum nona Fitri," jelas seorang polisi.
"Baik, Pak. Terima kasih, kalau begitu saya permisi," pamit Arka setelah mendapatkan informasi.
Lelaki itu kembali melangkah gontai menuju kamar sang istri sembari menenteng sebuah kantong kresek berisi makanan untuk sang ibu. Sepertinya tebakan Arka benar. Tirta dan Fitri sama-sama seorang penderita gangguan jiwa. Kalaupun nanti Tirta akan terlepas dari jerat hukum, dia harus bisa memastikan jika Tirta mendapatkan penanganan dari rumah sakit jiwa dan diawasi dengan ketat agar tak mengganggu kehidupan Arum dan Johan lagi.
Arka telah sampai di depan ruang rawat sang istri, lelaki itu segera menghampiri Aline dan Bu Kanti yang langsung bisa menangkap raut kebingungan di wajah Arka.
"Mas, kamu kenapa sih? Balik dari kantin kok wajahnya kusut begitu?" Aline langsung menodongkan pertanyaan pada sang suami.
"Nanti akan aku ceritakan, sekarang biar ibu makan dulu ya."
Lelaki itu menyerahkan sebuah nasi bungkus kepada Bu Kanti yang langsung membuka dan melahapnya. Bersamaan dengan Bu Kanti yang baru saja selesai melahap nasi bungkus miliknya, baby Shaka mulai menggeliat dan menangis dengan begitu kencang hingga suaranya memenuhi semua sudut ruangan. Arka dan Aline saling pandang kemudian menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Lelaki itu menggendong bayi mungilnya dari dalam box kemudian menyerahkan kepada sang istri untuk mendapatkan ASI. Nampak pipi baby Saka mengembul menikmati ASI yang diberikan oleh sang ibu. Bu Kanti juga menyunggingkan senyum kebahagiaan menatap interaksi antara anak dan menantunya dengan bayi yang baru saja lahir itu.
Setelah tiga puluh menit menyusu, bayi itu kembali terlelap. Arka menggendongnya kembali untuk meletakkan ke dalam box.
"Arka, ayo ceritakan kenapa wajah kamu kusut begitu setelah kembali dari kantin?" Bu Kanti mengulangi pertanyaan yang jawabannya masih tertunda tadi.
Arka mendudukan tubuh di sisi ranjang sang istri kemudian menghembuskan napasnya kasar.
"Ternyata apa yang aku takutkan semuanya benar, Bu!"
"Benar? Apanya yang benar, Mas? Aline menautkan kedua alis karena ikut merasa penasaran.
"Tadi, setelah kembali dari kantin Aku lewat depan ruang rawat Pak Tirta. b
Banyak dokter dan perawat yang keluar dari sana, karena penasaran aku langsung bertanya pada dua polisi yang sedang berjaga. Kalian tahu jawabannya apa?"
"TIDAK!" sorak Bu Kanti dan Aline secara bersamaan, karena mereka memang tak tahu apa-apa.
Arka memutar bola matanya malas, "Tirta mengamuk, berteriak-teriak tidak jelas memanggil nama Fitri. Dan sementara mereka menyimpulkan kalau Tirta juga seorang pengidap gangguan jiwa."
"Apa?" Mata Alin dan Bu Kanti membelalak sempurna mendengar cerita dari Arka.
Apalagi ini, kalau begini berarti jelas Tirta tidak mungkin untuk dijebloskan ke dalam penjara. Jalan satu-satunya mungkin hanya dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
"Berarti dia nggak jadi dipenjara dong, Mas?" Aline memastikan analisanya.
"Kemungkinan besar begitu, dan yang aku takutkan kalau di rumah sakit jiwa itu tidak ada pengawasan yang ketat. Pasti Tirta juga akan kabur dan kembali untuk meneror keluarga Arum." Arka mendesah kasar sembari mengusap wajahnya.
"Aku nggak mau berpikiran macam-macam, Mas. Semoga aja enggak ya. Semoga masalah ini benar-benar sudah selesai. Dan soal apa yang kamu lihat tadi, sebaiknya kamu nggak usah kasih tahu Johan dan Arum dulu. Aku takut kalau nanti mereka akan kembali khawatir, terutama Arum. Pasti dia akan semakin berpikiran macam-macam dan kemungkinan dia juga bisa ikut stress," pinta Aline yang segera mendapat sebuah anggukan dari sang suami.
"Iya Arka apa yang dikatakan istri kamu itu memang benar. Dan untuk kamu Aline, sekarang kamu istirahat dulu ya.. Itu cemilan sama buah-buah kamu dimakan biar air susunya full terus dan babby Shaka bisa terpenuhi nutrisinya." Bu Kanti menasihati sang menantu.
Aline tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Wanita itu mengambil sepotong buah apel yang telah dikupas oleh Bu Kanti sebelumnya. Menikmati segala perhatian yang diberikan oleh ibu mertuanya.
__ADS_1