
Arum yang juga bisa melihat ekspresi dokter Miranda dan suaminya menjadi ikut khawatir. Wanita muda itu berniat bangkit dari posisinya namun langsung ditahan oleh dokter Miranda.
"Sebentar ya, Mbak Arum. Ada sesuatu yang harus saya pastikan terlebih dahulu," ucap dokter wanita itu membuat Arum dan Johan menjadi semakin khawatir, takut jika ada sesuatu yang buruk pada kandungan Arum.
Wanita muda itu menurut untuk kembali seperti posisinya semula, merebahkan diri di atas ranjang pasien dan menunggu sampai Dokter Miranda selesai memeriksa dirinya.
"Sudah, Mbak. Silakan bangun, saya akan menjelaskan hasil pemeriksaan kita tadi," pinta Dokter Miranda yang langsung diangguki oleh Arum.
Wanita itu segerabangkit dan melangkah menuju kursi yang berada di samping sang suami, menunggu dokter Miranda untuk menjelaskan hasil dari pemeriksaan USG yang baru saja ia lakukan. Perasaan Johan berubah menjadi begitu gelisah, mengingat ekspresi dari dokter wanita itu kala memeriksa kandungan sang istri. Dalam hati, Johan hanya bisa berharap semoga tak ada hal-hal yang mengkhawatirkan untuk kandungan Arum saat ini.
"Jadi bagaimana kondisi kandungan istri saya, Dok? Baik-baik saja kan? Apa ada sesuatu yang harus dikhawaturkan?" cecar Johan yang sudah tak sabar menunggu sang dokter untuk berbicara.
Dokter Miranda tak langsung bicara, wanita itu hanya menatap Arum dan Johan secara bergantian kemudian menyunghingkan senyum tipis. Membiarkan pasangan suami istri itu larut dalam kegelisahan dan rasa penasaran.
"Mas Johan dan Mbak arum tenang saja, nggak ada yang perlu dikhawatirkan kok. Justru saya punya kabar gembira lagi untuk kalian berdua." Ucapan dokter tersebut terdengar ambigu hingga membuat Johan dan Arum saling melempar pandangan bingung dan semakin tak sabar menunggu kabar gembira yang dimaksud oleh Dokter berhijab itu.
"Kabar gembira? Kabar gembira apa lagi, Dok? tanya Arum pada wanita yang seumuran dengannya itu, ekspresi penasaran begitu kentara di wajah ayu nan putih itu.
"Jadi setelah saya lihat dari hasil USG tadi, kandungannya baru memasuki usia lima minggu, masih sangat muda dan harus benar-benar dijaga. Sedangkan kabar gembiranya adalah, saya melihat ada dua kantong janin di dalam rahim mbak Arum. Yang artinya adalah, kemungkinan besar bayinya kembar."
__ADS_1
Senyum langsung mengembang di bibir Arum dan Johan setelah mendengar penjelasan dari Dokter Miranda. Sungguh mereka tak pernah menyangka jika ternyata Tuhan masih memberikan kejutan lain untuk keduanya. Ucapan syukur tak henti-hentinya dilontarkan oleh Arum dan Johan. Bahkan, lelaki itu langsung merengkuh tubuh sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya. Mengecupi puncak kepala sang istri dengan penuh rasa sayang, tanpa peduli pada dokter Miranda yang tengah menatap mereka dengan sebuah senyuman canggung.
"Pacarannya dilanjutin lagi nanti di rumah ya. Ini saya resepkan obat sama vitamin yang harus diminum oleh Mbak Arum secara rutin untuk menguatkan kondisi kandungannya." Dokter Miranda menjeda kalimatnya sejenak untuk menghela napas.
"Satu lagi, karena ini masih trimester pertama. Jadi Mbak Arum tidak boleh stress dan tidak boleh melakukan hal-hal yang membuatnya terlalu lelah, juga kemungkinan perubahan hormon yang membuat mood Mbak Arum berubah-ubah," lanjutnya kemudian.
Semua penjelasan dokter Miranda sudah cukup jelas. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hati Johan. Dengan ragu-ragu, lelaki itu memutuskan untuk menanyakan langsung pada Dokter Miranda karena tak ingin terjadi sesuatu pada kandungan sang istri nantinya.
"Dok, saya boleh nanya satu hal lagi nggak? Tapi ini agak sedikit pribadi," ucap Johan dengan wajah memerah karena menahan malu.
Arum yang sama sekali tak mengerti apa maksud sang suami langsung mengernyitkan dahi, menunggu pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh lelaki muda yang kini telah berstatus sebagai suaminya.
"Begini, Dok. Usia kandungan istri saya kan baru lima minggu, kira-kira boleh nggak ya kalau saya. Emb ... maksudnya kalau saya ...."
Johan kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya karena merasa malu. Dokter Miranda yang sudah paham dan merasa kasihan melihat wajah merah lelaki itu memilih untuk menjelaskannya secara langsung.
"Begini Mas, karena ini masih trimester pertama dan usia kandungannya masih sangat muda. Kalau bisa jangan berhubungan dulu, nanti kalau sudah memasuki usia tiga bulan baru boleh. Itupun tidak boleh dikeluarkan di dalam karena takutnya akan memicu kontraksi," jelas dokter Miranda yang membuat Arum langsung menatap sang suami dengan mata melotot. Wanita yang tengah hamil muda itu sama sekali tak menyangka jika sang suami akan memiliki pikiran untuk menanyakan hal pribadi seperti itu.
"Maaf ya, Dok. Suami saya kalau ngomong memang suka nggak di filter dulu," ucap Arum dengan wajah malu, Dokter Miranda hanya terkekeh geli melihat tingkah lucu pasangan yang berada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mbak Arum. Itu wajar kok, justru lebih baik langsung ditanyakan di awal daripada nanti tidak tahu dan terlanjur melakukannya. Bisa berbahaya loh untuk kandungan Mbak Arum," balas Dokter Miranda dan dibalas Arum dengan sebuah anggukan kepala.
"Kalau begitu, ini resepnya. Jangan lupa obat dan vitaminya diminum secara teratur ya, Mbak. Dan dua minggu lagi kembali ke sini untuk chek up." Dokter Miranda menyerahkan sebuah resep obat pada Arum.
Kedua sejoli itu memutuskan untuk langsung pulang setelah menebus obat yang telah diresepkan oleh Dokter Miranda. Johan dengan Setia menggandeng tangan sang istri sampai masuk ke dalam mobil. Lelaki itu mulai menginjak pedal gasnya, melajukan mobil hitamnya menuju ke rumah Arum dengan kecepatan sedang untuk menembus padatnya jalanan kota siang ini.
"Aww," pekik Johan saat tiba-tiba Arum menepuk pahanya dengan cukup keras, wanita itu masih gemas dengan tingkah sang suami di depan sang dokter tadi.
"Ya ampun, Sayang. Sakit, kok aku tiba-tiba dikeplak sih," protes Johan atas tindakan sang istri.
"Biarin, lagian kamu kenapa nanyain hal begituan sama Dokter Miranda. Kan aku malu, Mas." Arum mulai merajuk, terlihat dari bibirnya yang sudah mengerucut.
"Ya biar tahu dong, coba kalau aku tadi nggak tanya. Nggak tahu dan tetap minta jatah malam terus terjadi apa-apa sama kandungan kamu, gimana hayo?"
Arum terdiam sejenak, memikirkan ucapan yang suami yang ternyata ada benarnya juga. Wanita itu tersenyum kemudian memalingkan wajahnya ke luar jendela. Menatap pemandangan di luar sana yang sebenarnya sama sekali tak istimewa. Namun, semuanya berubah saat mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah persimpangan jalan.
"Stopp!!" pekik Arum membuat Johan terpaksa mengerem mendadak untuk menghentikan mobilnya.
"Ada apa sayang? Kamu kenapa?" Ada yang sakit?" panik Johan setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1