Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 59


__ADS_3

Arka yang melihat gelagat mencurigakan dari wanita itu langsung memberikan kode pada ibu dan juga istrinya agar diam di tempat. Sementara lelaki itu melangkah pelan untuk mendekati wanita yang masih mengintip ke dalam ruang rawat Johan. Namun sial, wanita itu terlebih dahulu melihat pergerakan Arka dan dengan secepat kilat, wanita berambut panjang itu melarikan diri. Arka hendak mengejar, namun urung mengingat ada Aline dan juga Bu Kanti yang sudah menunggu untuk menjenguk Arum serta Johan. Aline yang melihat hal itu segera mendekat ke arah sang suami.


"Mas, siapa wanita tadi?" Arka hanya bisa menggedikan bahu mendengar pertanyaan dari sang istri.


"Entahlah, aku juga nggak tahu."


"Apa jangan-jangan dia Fitri? Kemarin kan dia hanya mengalami luka ringan setelah berusaha untuk mencelakai Arum," tebak Aline sekenanya.


Arka terdiam sejenak,memikirkan ucapan sang istri. Mungkinkah itu Fitri? Tapi bukankah Fitri mengenakan hijab, sedangkan wanita tadi tidak. Sepertinya bukan.


"Si Fitri itu kan berhijab, Sayang. Sedangkan wanita yang tadi itu tidak. Tapi, aku juga nggak bisa lihat jelas wajahnya sih," ucap Arka bimbang.


"Ya sudahlah, yang penting dia tidak mencelakai Arum dan juga Johan. Sekarang kita masuk yuk, kasihan Ibu udah pengen banget ketemu sama Arum." Ajakan Aline langsung diangguki oleh suami dan juga Ibu mertuanya.


Ada sebuah rasa penasaran yang muncul di benak Bu Kanti. Namun, wanita paruh baya itu memilih untuk menahan dan akan menanyakan nanti setelah mereka sampai di rumah. Arka langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu membuat Johan dan juga Arum menyunggingkan senyum.


Arka dan Aline tak menyangka Jika ternyata saat ini Johan sudah terlepas dari selang infus yang dari kemarin masih terpasang di tangannya. Bahkan, lelaki itu sudah tidak mengenakan baju pasien lagi.


"Wah, udah sehat beneran nih, Bro?" goda Arka pada sahabatnya itu.


"Iyalah, udah jadi Bapak sekarang. Kalau aku sakit terus lalu siapa yang akan mengurus istri dan anakku. Kasihan kan Bi Marni harus direpotin terus," balas Johan yang menatap Arum dengan pandangan penuh cinta, pasangan suami istri itu masih belum menyadari kehadiran Bu Kanti yang berdiri di sebelah Aline.


"Oh ya, aku ke sini sama ibu. Dia bilang pengen jenguk Arum," ucap Arka dengan hati-hati, takut jika Arum masih belum bisa menerima kehadiran Bu Kanti.


Arum mencoba untuk bangkit dari posisinya, Johan dengan sigao nembantu sang istri untuk bersandar di kepala ranjang. Wanita yang baru saja melahirkan itu terpanah sejenak ketika melihat penampilan Bu Kanti yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Ibu," sapa Arum dengan lembut, membuat wanita paruh baya itu mendekat ke arahnya dan menghrnyak di sisi ranjang.


"Ibu mau minta maaf sama kamu, Nak. Maaf kalau selama kamu menjadi menantu Ibu dahuku, Ibu selalu bersikap kasar dan semena-mena kepadamu," ucap Bu Kanti dengan wajah penuh rasa sesal.


Arum tersenyum tipis kemudian menggenggam lembut jemari mantan ibu mertuanya itu, "Arum sudah memaafkan Ibu, kita lupakan semua masa lalu yang buruk dan kita buka lembaran baru yang lebih baik ya, Bu."


"Terima kasih, Arum." Bu Kanti merasa begitu bahagia setelah berhasil mendapatkan maaf dari mantan menantunya itu.


Aline juga ikut tersenyum melihat keakraban mereka. Wanita itu mendekat dengan membawa rantang makanan yang sudah ia siapkan dari rumah."


"Arum, ini Ibu ada masakin sup ikan gabus loh buat kamu. Kebetulan kan pas banget, kamu habis lahiran caesar. Biar jahitannya lebih cepat kering." Aline meletakkan satu rantang makanan di nakas samping ranjang.


"Wah makasih ya, Bu. Jadi repot-repot begini."


"Nggak apa-apa, Arum. Tadi Ibu masak untuk Aline. Jadi, sekalian bawakan untuk kamu dan juga Bi Marni. Tapi Bi Marni di mana kok dari tadi tidak kelihatan?" tanya Bu Marni yang sedari tadi menelisik seluruh penjuru ruangan namun tak menemukan keberadaan wanita paruh baya itu.


"Mas, kamu anterin aja sub iakn gabus itu buat Bi Marni. Nanti keburu dingin," titah Arum pada sang suami, Johan mengangguk kemudian pamit untuk menghampiri Bi Marni yang masih setia menjaga kedua bayi kembarnya di depan ruang NICU.


"Tunggu, Jo. Aku ikut!" Arka segera menyusul lelaki itu, meninggalkan tiga wanita beda generasi yang tengah asik mengobrol.


Bukan tanpa Alasan Arka ingin ikut bersama Johan menghampiri Bi Marni. Namun, Arka juga ingin membicarakan tentang wanita pengintip padi pada sahabatnya itu. Ia takut jika wanita tadi juga memiliki niat jahat sama seperti Fitri.


Setibanya di depan ruang NICU, nampak Bi Marni yang sedang berdiri di depan kaca sembari mengulas senyum mengamati kedua bayi kembar milik Arum da Johan.


Johan mendekat dan menepuk lembut bahu wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Bi Marni," panggil Johan dengan lembut, membuat wanita itu menoleh seketika.


Mas Johan, ada apa, Mas?"


"Nggak ada apa-apa, Bi. Ini ibunya Arka masakin sup ikan gabus buat Bi Marni." Johan mengulurkan rantang makanan yang ada di tangannya pada asisten rumah tangganya.


Bi Marni menerima rantang tersebut dengan pandangan heran. Bagaimana bisa, Bu Kanti yang selama ini membenci Arum bisa tiba-tiba membawakan makanan untuk dirinya.


"Ibu sudah berubah, Bi. Ibu sudah menyadari kesalahan, dia juga datang ke sini untuk minta maaf sama Arum," jelas Arka yang bisa membaca raut kebingungan di wajah wanita paruh baya itu.


Bi Marni menggaruk bagian belakang kepala yang tak gatal, merasa sungkan karena Arka ternyata bisa membaca apa yang saat ini tengah berada di dalam pikirannya.


"Maaf, Mas Arka. Bukan maksud saya suudzon, tapi kan kita sama-sama tahu dulu Bu Kanti itu seperti apa," ucap Bi Marni kemudian.


Arka hanya tersenyum simpul mendengar perkataan wanita paruh baya yang memang ada benarnya.


"Iya, saya juga gitu dulu. Kan Bi Marni tahu sendiri kalau saya juga suami yang dzalim sama Arum, cuma untungnya saya lebih cepat dapat Hidayah ya, Bi," canda Arka mencoba memecahkan suasana canggung di antara mereka.


"Ya udah, sekarang Bibi makan ya. Saya mau bicara sebentar sama Johan."


Arka dan Johan segera berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari Bi Marni. Arka langsung menarik lengan Johan untuk duduk di sebuah bangku panjang yang berada di tengah-tengah taman rumah sakit.


"Ada apa, Arka. Kok kamu malah ngajakin aku ke sini, jangan bilang kalau kamu mau pacaran sama aku?" oceh Johan yang sudah menghenyak bersama Arka di bangku panjang itu.


"Enak saja, kamu pikir aku sudah tidak normal. Aku mau bicara serius sama kamu, ini menyangkut keselamatan kalian berdua."

__ADS_1


Mata Johan membelalak sempurna mendengar ucapan Arka. Menyangkut keselamatan dirinya? Memangnya ada apa lagi ini, apakah masih ada bahaya yang mengincarnya setelah kecelakaan yang menyebabkan ia koma selama berbulan-bulan?


__ADS_2