Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 32


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang kala Arum dan Johan tiba di caffe milik mereka. Keduanya langsung disambut oleh seorang karyawan yang terlihat tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.


"Ada apa, Mbak? Kok kayaknya buru-buru begitu?" tanya Arum pada karyawan perempuan yang sudah berdiri di hadapan pasangan itu.


"Eh, anu, Bu. Ada yang nyari Bapak, dan ka-katanya dia kekasih Pak Johan," ucap karyawan itu dengan wajah takut, kepalanya menunduk tak berani menatap wajah lawan bicaranya.


Mata Arum membeliak mendengar ucapan karyawanya. Johan dan dirinya baru saja menikah kemarin. Lalu, sekarang ada seseorang yang datang dan mengaku sebagai kekasih Johan. Wanita itu memalingkan pandanganya pada sang suami yang juga terlihat tak kalah terkejut.


"Kekasih? Kamu punya kekasih, Mas?" Mata Arum memincing penuh selidik menatap ke arah sang suami yang wajahnya mulai pias, lelaki itu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan sang istri.


"Nggak, Sayang, pacaran aja cuma sama kamu terus langsung nikah. Kita temui aja dia, biar kamu nggak mikir macam-macam tebtang aku."


Johan menggandeng mesra tangan sang istri menuju sebuah meja yang berada di pojok caffe. Di mana seorang gadis berjilbap mocca tengah duduk memunggungi mereka.


"Permisi, Mbak cari saya?" sapa Johan membuat gadis itu menoleh, Arum tiba-tiba merasa insecure kala melihat penampakan wanita yang mengaku sebagai kekasih suaminya. Tubuh tinggi semampai dengan kulit putih dan hidung bangir. Kepalanya terbungkus pashmina berwarna mocca yang membuat kecantikan alaminya kian terpancar.


"Hai, Jo. Aku kangen banget sama kamu," ucap gadis itu kemudian beranjak dari duduknya dan bergelayut manja di lengan Johan seolah tak melihat kehadiran Arum.


Rasa insecure yang sempat dirasakan oleh Arum seketika lenyap setelah melihat tingkah wanita itu yang secara terang-terangan berani menggoda Johan di hadapanya.


"Mbak, tolong lepasin suami saya. Nggak enak dilihat orang, masa Mbak berpakaian tertutup begini tapi kelakuanya seperti itu. Tanpa rasa malu bermanja sama suami orang," sindir Arum tanpa basa-basi lagi.


Wanita itu melepaskan tanganya dari lengan Johan dengan wajah kesal. Matanya menatap nyalang ke arah Arum yang baru saja mengaku sebagai istri lelaki pujaanya itu.


"Johan, dia bilang istri kamu? Ini becanda kan? Aku aja sudah bertahun-tahun dekatin kamu tapi kamu nggak bisa luluh. Ini malah langsung ngaku-ngaku jadi istri kamu," oceh gadis itu sembari menatap remeh ke arah Arum yang mendelik meminta sang suami untuk menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Lelaki itu menghembuskan napasnya kasar, kenapa gadis ini masih mengganggunya meskipun sudah berulang kali mendapat penolakan darinya.


"Iya, Fitri. Apa yang dikatakan Arum semuanya benar, kita baru saja menikah kemarin. Dan dia juga alasan kenapa aku nggak bisa menerima wanita lain di hatiku selama beberapa tahun ini," jelas Johan pada akhirnya.


Seketika tubuh gadis bernama Fitri itu terduduk lemas di kursi, harapnya untuk mendapatkan hati Johan pupus sudah. Bagaimana bisa Johan menikah, bukankah dulu lelaki itu pernah bilang jika wanita yang ia cintai sudah menikah.


"Tapi gimana bisa, Jo? Kamu bilang wanita yang kamu cintai itu sudah menikah dan kamu nggak mungkin bisa bersatu lagi sama dia?" Mata fitri menatap nanar ke arah Arum dan Johan secara bergantian.


"Arum sudah berpisah dari suaminya, dan karena itu aku memutuskan untuk langsung mengejar cintanya sebelum aku kembali terlambat. Fitri, kamu itu cantik, kamu pintar dan kamu sempurna. Pasti kamu bisa menemukan lelaki yang lebih segalanya dibanding aku," ujar Johan berusaha membesarkan hati gadis itu, sedangkan Arum hanya terdiam dengan wajah masamnya.


"Kamu jahat, Johan. Apa kamu lupa apa aja yang udah aku lakuin buat kamu, apa kamu lupa siapa yang bantu kamu sampai perusahaan kamu sukses seperti sekarang ini, hah? Aku nggak terima, aku nggak akan biarkan kalian bahagia," pekik Fitri yang meninggalkan tempat itu setelah menggebrak meja.


Johan hanya diam, tak berniat untuk mengejar atau mencegah Fitri yang baru saja memaki dirinya. Lelaki itu lebih memilih untuk memeluk sang istri yang di wajahnya nampak jelas sebuah gurat kegelisahan. Entah apa yang ada di pikiran Arum sekarang.


"Percaya, tapi bisakah kamu menjelaskan semuanya sama aku. Bagaimana kamu kenal dia dan kebapmna dia sampai menganggap kamu sebagai kekasihnya?"


Tentu saja Johan tak keberatan untuk menjelaskan segalanya pada saang istri, ia tahu benar apa yang tengah dirasakan Arum saat ini melalui sorot mata yang terpancar dari manik mata berwarna coklat itu. Apalagi, selama ini Arum tak pernah melihat sang suami dekat dengan wanita manapun. Arum hanya tak ingin kepahitan pernikahan bersama Arka dahulu terulang kembali.


Johan mengangguk kemudian membawa sang istri untuk masuk ke dalam ruanganya dan mendudukan Arum di sofa. Lelaki itu menatap lekat wajah sang istri yang sangat ia cintai. Wajah atu yang selalu memberikan ketenangan untuknya.


"Arum, aku akan ceritakan semuanya. Aku juga nggak mau kamu berpikir yang macam-macam tentang aku," ucap Johan setelah keduanya duduk berhadapan, Arum mengangguk menandakan ia setuju dengan ucapan suaminya.


"Aku tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Fitri. Aku hanya menganggapnya sebagai teman, tapi dia memang pernah menyatakan perasaan sama aku. Dan waktu itu aku sudah bilang kalau aku nggak bisa menerima dia karena hati aku sudah digenggam seseorang, dan itu kamu."


Johan menjeda sejenak ceritanya untuk melihat bagaimana tanggapan dari Arum. Namun, wanita itu sama sekali tak bergeming, masih menunggu kelanjutan cerita sang suami.

__ADS_1


"Aku bisa berteman dekat sama dia karena ayahnya punya empat puluh lima persen saham di perusahaan aku."


"Jadi karena itu dia berani mengancam kamu, Mas?"


"Iya, dan kalau hal terburuk yang terjadi. Dia benar-benar mengadu pada ayahnya agar aku bangkrut. Aku harap kamu masih tetap setia di sampingku," ujar Johan dengan wajah penuh harap.


Arum merangsek masuk ke dalam pelukan suaminya. Apapun yang terjadi pada kondisi keuangan Johan nantinya, wanita itu tak mungkin pergi meninggalkan sang suami. Toh mereka masih punya caffe yang masih cukup untuk sekedar biaya hidup. Arum juga yakin, Tuhan pasti akan selalu melindungi mereka.


"Aku akan tetap menjadi istri kamu, apapun keadaanya, Mas. Karena cinta aku tulus buat kamu," ucap Arum dengan mantap, setetes bulir bening menetes membasahi pipi mulusnya yang putih.


Johan kian mengeratkan pelukanya. Lelaki itu bersyukur memiliki pendamping sebaik Arum.


"Aku janji akan selalu membuatmu bahagia," bisik Johan kemudian mengecup puncak kepala sang istri.


Pelukan itu harus terurai kala mendengar suara pintu ruangan yang diketuk dari luar. Arum juga buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya.


"Masuk," titah Johan pada seseorang yang tengag berdiri di depan pintu ruanganya.


Seorang karyawan masuk ke dalam ruangan sembari menundukan kepalanya dengan sopan.


"Maaf, Pak. Ada perempuan yang mau ketemu sama Bapak."


Deg!


Johan dan Arum saling pandang mendengar kalimat itu. Siapa lagi perempuan yang mencari lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2