Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 68


__ADS_3

Kini Arum tengah duduk di meja makan bersama Bi Marni, setelah wanita paruh baya itu selesai memandikan kedua bayi kembarnya. Kedua wanita beda generasi itu masih menunggu kehadiran Johan yang baru saja terbangun dari lelap tidurnya. Lima belas menit kemudian, nampak Johan berjalan keluar dari dalam kamar dengan wajah datar. Tapi, terlihat jelas jika lelaki itu tengah menanggung beban pikiran yang begitu berat. Entah apa yang ada di pikiran Johan saat ini, hal itu juga yang membuat Arum terus bertanya-tanya.


Seperti biasa, Arum mengambilkan sarapan untuk sang suami kemudian mereka menyantap sarapan pagi bersama. Namun, tak seperti hari biasanya, sarapan pagi kali ini tak diiringi dengan obrolan apapun.


Hening!


Semua sibuk dengan pikiran masing-masing, terutama Arum yang tengah merasakan kecemasan luar biasa di dalam hatinya. Usai sarapan, Arum langsung membantu Bi Marni untuk membereskan meja makan itu dan mencuci piring-piring kotor kemudian kembali menghenyak ke meja makan. Di mana Johan masih terduduk di sana sembari memainkan benda pintar miliknya.


"Mas, aku dan Bi Marni ingin bicara serius denganmu!" Suara Arum mengalihkan fokus pandangan Johan, lelaki itu segera meletakkan gawai yang tengah berada di tangannya.


"Mau bicara apa, Sayang? Kok wajahnya sudah tegang begitu?" tanya Johan dengan lembut, sebenarnya ia sudah bisa menebak jika Arum akan kembali membicarakan apa yang ia alami semalam. Namun, kali ini bukan lagi Arum yang bicara. Melainkan Bi Marni.


Wanita paruh baya itu mulai menceritakan hal apa yang ia alami semalam. Membuat Johan terpanah sejenak. Ia sama sekali tak menyangka jika asisten rumah tangganya juga mengalami hal serupa seperti apa yang dialami oleh Arum. Pertanda jika apa yang diceritakan sang istri selama ini bukanlah sebuah halusinasi semata.


Sepercik rasa bersalah menyelinap di hati lelaki itu, karena selama ini tak pernah mau mempercayai cerita dari sang istri. Johan selalu berpikir jika Arum hanya berhalusinasi karena sindrom baby blues setelah melahirkan kedua anak mereka.


"Jadi, Bibi juga mengalaminya?" tanya Johan memastikan, wanita paruh baya itu langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Iya Mas, saya pikir juga hanya saya yang mengalami semua ini. Tapi, setelah Non Arum menceritakan apa yang ia alami, saya baru tahu kalau ternyata kami mengalami hal yang sama," jelas Bi Marni kemudian.


Johan menghembuskan napas kasar, lelaki itu mengacak rambutnya kasar karena frustasi. Sampai kapan teror ini akan berhenti, dan siapa lagi orang yang berniat jahat kepadanya. Sedangkan Fitri, satu-satunya musuh mereka telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Aku akan memasang CCTV di rumah ini," cetus Johan kemudian.


"Apa kamu yakin, Mas?" Arum menaikkan sebelah alisnya menatap sang suami.


"Mau gimana lagi, Sayang. Itu adalah satu-satunya cara, supaya kita bisa mengetahui siapa sebenarnya orang yang selalu datang ke rumah kita setiap malam. Jujur saja, selama ini aku juga merasakan firasat buruk. Hanya saja aku berusaha untuk meredamnya." Johan sengaja menjeda kalimatnya sejenak untuk menghirup oksigen.


"Aku minta maaf jika selama ini aku tak pernah mempercayai semua cerita kamu, aku pikir itu hanya halusinasi karena kamu terlalu lelah mengurusi anak-anak kita," sesal Johan, tangannya terulur menggenggam lembut jemari lentik milik sang istri.


Arum hanya tersenyum tipis, wanita itu bisa maklum atas apa yang dilakukan sang suami. Memang benar, perilakunya selama ini mirip dengan seseorang yang mengalami sindrom baby blues, meskipun sebenarnya tidak.


"Nggak apa-apa kok, Mas. Aku bisa mengerti, yang penting sekarang kamu sudah mempercayai semuanya."


"Baiklah, Sayang. Kalau begitu aku akan telepon Arka agar dia datang ke sini, aku rasa dia punya kenalan orang-orang yang bisa memasang CCTV dengan sistem canggih di rumah ini," ucap Johan kemudian.


"Hallo!" Terdengar suara sapaan dari Arka di ujung telepon.


"Hallo, Arka. Apakah kamu bisa ke sini sekarang? Aku perlu bantuan kamu," pinta Johan to the point.


"Baik, aku akan ke sana sekarang." Johan segera mematikan sambungan telepon itu setelah mendapat jawaban pasti dari sang sahabat.


Tiba-tiba saja Bi Marni berlari masuk ke dalam kamar kemudian Kembali keluar dengan membawa baby Zio dan baby Zia di dalam gendongannya. Wanita paruh baya itu dengan hati-hati, meletakkan kedua bayi kembar itu ke dalam stroller yang berada di dekat Arum. Membuat ibu muda itu mengernyit melihat tingkah dari asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Bi, kok baby Zia dan baby Zio dibawa keluar? Kan mereka nggak menangis?" tanya Arum pada asisten rumah tangganya itu.


Bi Marni tersenyum canggung karena ia sendiri juga tak tahu apa yang membuatnya melakukan hal itu.


"Nggak tahu, Non. Tapi bibi merasakan firasat buruk, Bibi takut terjadi apa-apa sama mereka berdua. Jadi, Bibi bawa mereka ke sini saja, kasihan juga kalau ditinggalkan di dalam kamar cuman berdua saja."


Tepat setelah Bi Marni menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara pecahan kaca dari dalam kamar Arum. Pasangan suami istri itu saling melempar pandangan terkejut, kemudian beranjak dan melangkah lebar menuju ke kamar mereka berdua. Alangkah terkejutnya Arum dan Johan kala melihat kaca jendela mereka telah pecah berceceran di lantai karena dilempar dengan batu oleh seseorang yang tak bertanggung jawab. Beruntung kedua bayi kembar itu telah dibawa keluar oleh Bi Marni, Arum tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kedua bayi kembar itu jika masih berada di sana. Mungkin kedua bayi itu sudah terluka parah akibat terkena pecahan kaca jendela, mengingat box bayi keduanya memang ditempatkan di dekat jendela.


Mata Johan tertuju pada sebuah batu besar yang berada di antara pecahan kaca tersebut. Ada sebuah kertas yang membalut batu besar itu dan mengundang rasa penasaran Johan.


"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya. aku mau ambil batu itu, siapa tahu ada tulisan di dalam kertasnya," ucap Johan yang langsung diangguki oleh Arum.


Lelaki itu Melangkah dengan hati-hati menuju sebuah batu besar yang berada di antara kepingan-kepingan kaca dan membawanya kembali pada sang istri yang masih berdiri di depan pintu bersama Bi Marni.


"Buka, Mas. Aku ingin lihat apa yang ada di dalam kertas itu," pinta Arum pada sang suami.


Perlahan, tangan Johan mulai membuka kertas itu. Lagi-lagi Johan dibuat terpanah dengan tulisan yang berada di atas kertas lusuh itu.


"Apa isinya, Mas?" tanya Arum penasaran.


Johan memberikan kertas itu untuk dibaca sendiri oleh Arum.

__ADS_1


Aku tak akan membiarkan kalian hidup tenang. Kalian harus membayar semuanya.


Lagi-lagi mereka dibuat bingung dengan tulisan yang berada di sana. Membayar? Hal apa memangnya yang sudah dilakukan oleh Johan dan Arum sehingga harus membayar semuanya.


__ADS_2