
Arum menatap sang suami dengan sebuah senyuman penuh arti, wanita itu menaik-turunkan kedua alisnya. Membuat Johan seketika merasakan firasat yang tak nyaman.
"Pasti bakal ngidam aneh-aneh lagi ini," batin Johan dalam hatinya.
Dan benar saja, sejurus Kemudian jari telunjuk Arum mengarah kepada sebuah pohon mangga yang ada di pinggir jalan dekat dengan mobil yang mereka tumpangi. Dahi Johan mengernyit, mengikuti ke mana arah jari telunjuk sang istri.
"Kenapa Sayang, kok kamu nunjuk-nunjuk pohon mangga itu sih?" tanya Johan pada sang istri.
Arum mendesah kesal karena sang suami tak mengerti kode yang ia berikan, tentu saja ia ingin mangga muda itu. Memangnya apa lagi yang diinginkan oleh seorang wanita yang tengah hamil muda ketika melihat pohon Mangga.
"Mas, kok kamu nggak peka banget sih! Ya aku mau mangga muda dong," rengek Arum yang sudah mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Ya udah, kalau gitu sekarang kita ke supermarket ya. Aku beliin Mangganya, sebanyak apapun yang kamu mau."
Arum buru-buru menggelengkan kepalanya setelah mendengar ucapan sang suami. Lagi-lagi Johan dibuat heran oleh tingkah konyol sang istri.
"Katanya mau Mangga muda, kok sekarang malah geleng-geleng kepala sih!" protes Johan atas tingkah sang istri.
Arum langsung menatap tajam ke arah sang suami, kenapa lelaki itu tak juga mengerti apa yang ia inginkan.
"Aku mau mangga muda yang ada di pohon itu, Mas!" ucap Arum kemudian, secara refleks Johan langsung menepuk jidatnya. Kenapa ada-ada saja permintaan wanita hamil ini.
"Sayang, pohon Mangga itu kan punya orang, dan kita nggak kenal sama pemiliknya. Jadi lebih baik kita beli aja ya di supermarket, nggak cuma Mangga. Kamu boleh beli apapun yang kamu mau." Johan mencoba untuk merayu sang istri agar mengurungkan niatnya. Namun, lagi-lagi ucapan lelaki itu mendapat balasan dengan sebuah sorot tatapan tajam dari sang istri.
__ADS_1
"Aku juga tahu kalau itu punya orang, Mas. Tapi kan, kamu bisa minta baik-baik sama orangnya. Ini yang mau anak kamu loh, bukan aku. Memangnya kamu mau kalau anak kita nanti ileran?" oceh Arum mencoba menakut-nakuti sang suami agar mau menuruti keinginannya.
Johan terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang istri. Tentu saja ia tak mau jika anaknya sampai ileran seperti yang dikatakan oleh Arum.
"Ya sudah, aku coba minta sama orangnya ya. Kamu mau ikut apa tunggu di sini aja?" tanya Johan pada sang istri.
"Ya mau ikut dong, kan aku juga mau lihat kamu manjat pohon Mangganya." Seketika Johan mengusap wajahnya kasar setelah mendengar keinginan konyol dari sang istri untuk kesekian kalinya.
"Ya ampun, Sayang. Tadi pagi aku baru aja nyabut pohon singkong, dan sekarang kamu nyuruh aku manjat pohon Mangga setinggi itu? Kalau aku jatuh gimana?" Mati-matian Johan menahan emosinya agar tak meledak saat itu juga, mencoba memaklumi jika sang istri menjadi seperti itu karena perubahan hormon kehamilannya.
"Nggak mungkin jatuh, lagian kan belum tentu dikasih sama yang punya pohon Mangga ini. Kalau nggak dikasih kan kamu juga nggak jadi manjat, kita beli aja di supermarket," balas Arum tanpa rasa bersalah, sedangkan Johan memutar bola matanya jengah. Lalu, untuk apa ia harus susah-susah minta mangga pada orang yang tidak mereka kenal, kalau pada akhirnya Arum juga mau membeli mangga itu di supermarket.
Namun, pada akhirnya Johan tetap menuruti permintaan sang istri. Lelaki itu menggandeng tangan Arum dan mengetuk pintu rumah si pemilik pohon mangga. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu dengan kedua alis yang saling bertaut. Pandangan matanya menatap bingung ke arah Arum dan Johan yang tentu saja tak pernah ia temui sebelumnya.
Johan mulai gugup, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menyusun kalimat yang akan ia ucapkan untuk mengutarakan keinginannya.
"Maaf Bu, istri saya sedang ngidam dan dia ingin mangga muda yang ada di depan rumah Ibu itu. Apa boleh kalau saya minta satu buah saja? Atau kalau nggak saya beli juga nggak apa-apa deh," ujar Johan dengan wajah gugup, wanita paruh baya itu tersenyum. Menatap Arum dan Johan secara bergantian.
"Boleh, tidak perlu beli. Silakan ambil sebanyak yang istri kamu mau," ucapnya kemudian.
Wajah Johan langsung berbinar setelah mendengar izin yang diberikan oleh si pemilik pohon mangga tersebut. Tanpa menunggu lagi, pria muda itu langsung memanjat pohon mangga dan mengambil beberapa buah untuk sang istri.
"Terima kasih ya, Bu. Kalau begitu kami permisi dulu," Johan langsung pamit setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh sang istri.
__ADS_1
"Iya sama-sama, Nak," cap wanita itu diiringi dengan sebuah senyuman ramah.
Johan kembali menggandeng tangan sang istri menuju ke mobil, lelaki itu menaruh mangga yang baru saja ia petik di kursi mobil bagian belakang. Kemudian mulai melajukan mobilnya memuju jalan pulang.
Tanpa diduga, Arum malah mengambil sebuah mangga muda dan memakannya langsung seperti sedang memakan buah apel. Membuat Johan bergidik ngeri ngeri melihatnya.
"Ya ampun, Sayang. Kok kamu makannya kayak gitu sih? Emangnya nggak asem itu mangga?" tanya Johan yang masih bergidik melihat tingkah sang istri.
"Enggak kok, ini enak. Segar banget malahan, kamu mau nyoba nggak?" Arum menyodorkan buah mangga yang baru saja ia gigit pada sang suami.
"Nggak, aku lihatnya aja udah ngeri begitu. Apalagi disuruh makan, kamu sendiri aja deh yang makan. Supaya anakku nggak ileran," tolak Johan kemudian mengembalikan fokus pandangannya pada jalanan yang ada di depan sana.
Arum tak lagi menjawab, wanita itu hanya menggedikkan kedua bahunya kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk mengunyah buah mangga yang berada di tangannya. Wanita itu terlihat begitu menikmati, seolah sedang menyantap buah yang rasanya begitu manis.
Tanpa terasa, mobil yang ditumpangi oleh keduanya telah sampai di depan rumah Arum. Wanita itu buru-buru menghentikan aktivitasnya dan membuang sisa buah mangga yang sudah ia habiskan setengahnya. Johan mengeryit, melihat Arum yang seolah sedang ketakutan.
"Kenapa? Kok buah mangganya dibuang?" tanya Johan pada sang istri.
"Nggak apa-apa, takut dimarahin sama Bi Marni," jawab Arum kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah dengan sang suami yang mengekor di belakangnya.
Lelaki itu menatap ke arah sang istri yang berjalan sembari membawa beberapa buah mangga, dan benar saja ketika Bi Marni melihat kedatangan Arum bersama mangga-mangga di tangannya. Wanita paruh baya itu langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri majikan perempuannya.
"Ya ampun, kok Non bawa mangga muda begini? Jangan-jangan, Non Arum sudah makan mangga ini ya?" tuduh Bi Marni secara langsung.
__ADS_1