
Beberapa warga Saling pandang setelah mendapat pertanyaan dari Arka. Tak ada yang berani memberikan jawaban karena takut jika lelaki itu akan merasa shock setelah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Seorang lelaki paruh baya yang merupakan RT di lingkungan tersebut mendekati Arka dan menepuk lembut pundak sebelah kiri lelaki itu. Arka menoleh, menatap lelaki paruh baya yang tengah berdiri di hadapannya dengan wajah datar.
"Pak RT, ada apa sebenarnya, Pak?" Arka mengulangi pertanyaannya tadi.
"Pak Arka tenang dulu ya. Tadi Ibu Aline terjatuh dari tangga dan mengalami pendarahan hebat. Sedangkan ambulance tadi saya yang memanggil untuk membawa Bu Aline ke rumah sakit agar bisa segera mendapat penanganan," ucap Pak RT Dengan nada rendah.
"APA?" Arka memekik setelah mendengar cerita dari Pak RT. Lelaki itu sama sekali tak menyangka jika kejadian buruk juga akam menimpa sang istri.
"Lalu, dibawa ke rumah sakit mana istri saya, Pak?" tanya Arka kemudian.
"Dibawa ke Rumah Sakit Harapan Jaya, Pak." Jawaban Pak RT membuat kening Arka mengernyit. Rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sama di mana saat ini Tirta tengah dirawat. Prasangka buruk juga ikut memenuhi pikiran Arka, lelaki ikut takut jika Tirta akan melakukan sesuatu pada istrinya.
Tanpa pamit pada Pak RT ataupun warga sekitar, Arka kembali memasuki mobilnya dan menginjak pedal gasnya dalam menuju rumah sakit tempat sang istri dirawat. Lelaki itu tak peduli dengan lampu lalu lintas yang menyala berwarna merah di beberapa perempatan jalan. Beruntung kondisi jalanan saat itu sedang sepi sehingga tak menyebabkan terjadinya kecelakaan.
Setibanya di rumah sakit, Arka segera menghampiri resepcionis yang tengah bertugas.
"Mbak pasien yang bernama Aline, seorang ibu hamil yang baru saja mengalami pendarahan karena jatuh dari tangga. Sekarang berada di mana? cecar Arka pada wanita muda berseragam perawat tersebut.
__ADS_1
"Oh Ibu Aline yang barusan masuk masih ada di ruangan UGD, Pak," jawab wanita muda itu dengan lembut.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Arka kembali melangkah lebar menuju ruangan UGD. Nampak Bu Kanti tengah duduk di kursi tunggu dengan air mata berlinang.
"Ibu," lirih suara Arka membuat wanita paruh baya itu mendongak.
"Maafkan Ibu, Arka. Ibu sudah gagal menjaga Aline," ucap bu Kanti dengan wajah bersalah.
Arka segera menggelengkan kepala, kedua tangan lelaki itu terulur memegang bahu sang Ibu, "Tidak, Bu. Ibu tidak salah, ini semua juga salah Arka yang terlalu lama meninggalkan Aline sampai bisa terjadi hal seperti ini. Tapi, bagaimana Aline bisa jatuh dari tangga, Bu?"
"Aline tadi ingin ke kamar lama kalian di lantai atas untuk mengambil sesuatu. Tapi Ibubu juga enggak tahu bagaimana ceritanya sampai dia bisa terpeleset. Tahu-tahu Aline sudah jatuh dan mengalami pendarahan. Ibu takut Arka, Ibu takut terjadi sesuatu kepada cucu dan juga menantu Ibu." Wanita itu kembali terisak, air mata menganak sungai membasahi kedua pipi yang mulai terlihat keriput karena termakan usia.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun berlalu. Hampir dua jam sudah Arka dan Bu Kanti menunggu di ruang UGD. Namun, masih belum juga ada kabar tentang bagaimana kondisi Aline saat ini. Arka yang sudah tak sabar mulai beranjak, lelaki itu berjalan mondar-mandir di depan pintu UGD.
"Arka, sabar, Nak. Duduk dulu, kita doakan supaya Aline dan bayinya baik-baij saja," nasihat Bu Kanti untuk sang putra.
Arka menurut, lelaki itu kembali terduduk. Mulutnya komat-kamit membacakan doa untuk sang istri hingga terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam. Arka segera berdiri menyongsong seorang dokter yang baru saja dari ruangan UGD. Dokter Miranda menatap Arka dengan wajah datar.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaan istri saya dan bayinya, Dok? Mereka baik-baik saja kan? Istri dan bayi saya selamatkan, Dok?" Arka memberondong sang dokter dengan berbagai pertanyaan.
"Pak Arka, pendarahan yang dialami Ibu Aline cukup banyak. Selain itu, air ketubannya juga sudah pecah, kami terpaksa harus melakukan tindakan seksio Caesar untuk menyelamatkan ibu dan bayinya. Apakah Pak Arka setuju?" Sang dokter menatap Arka dengan pandangan serius.
"Saya setuju, Dok. Lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya!" jawab Arka dengan segera.
"Kalau begitu, Pak Arka silakan ke bagian administrasi untuk menandatangani surat persetujuan." Arka mengangguk, lelaki itu segera berlari menuju ke ruang administrasi. Arka membayarkan beberapa uang untuk biaya operasi sang istri kemudian menandatangani surat persetujuan. Lalu, kembali melangkahkan kakinya lebar menuju ruangan UGD.
Beberapa menit kemudian pintu UGD kembali terbuka. Para dokter dan tenaga medis lainnya mendorong ranjang pasien Aline menuju ruangan operasi. Tanpa menunggu lama, Arka dan Bu Kanti segera mengekori sang dokter menuju ke ruang operasi. Pintu ruangan operasi telah ditutup, Arka tak diizinkan masuk karena kondisi Aline yang cukup kritis. Lelaki itu hanya bisa terus berdoa, semoga kondisi sang istri baik-baik saja.
"Arka, apa kamu nggak mau mengabari Arum dan Johan? Takutnya besok mereka menunggu kamu," ujar Bu Kanti mengingatkan sang putra.
Arka menatap benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekarang sudah hampir pukul dua belas malam, pasti Arka dan Johan juga sudah istirahat. Tak enak Jika ia harus mengganggu kedua sahabatnya itu malam-malam begini.
"Sekarang sudah sangat larut, Bu. Biar besok pagi saja Arka kabarin mereka, lagipula sekarang Arka hanya ingin fokus pada Aline dan bayinya." Arka takut kembali terjadi apa-apa pada calon bayinya. Tanpa terasa, kedua sudut mata mereka telah basah. Lelaki itu menangis, meluapkan segala rasa takut dan rasa kekhawatirannya. Jika sampai terjadi sesuatu pada Alin atau bayinya, pasti Arka tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri sampai seumur hidup.
Bu Kanti menganggukan kepala, wanita paruh baya itu mengerti apa yang tengah dirasakan oleh anaknya saat ini. Bu Kanti memeluk lengan sang anak, mengelusnya dengan lembut. Mencoba untuk memberikan kekuatan dan ketenangan meski sesungguhnya Bu Kanti juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan sang anak. Ia takut jika kembali harus kembali kehilangan cucunya. Selain dirinya, pasti Arka dan Aline akan sangat terpuruk.
__ADS_1
"Ya Tuhan, semoga menantu dan cucuku baik-baik saja berikanlah keselamatan untuk mereka berdua," harap Bu Kanti dalam hati.