
Ketiga wanita itu memasuki ruang tamu secara bersamaan. Aline langsung menghenyak di samping Arka, sedangkan Arum duduk di sebelah Bu Kanti.
"Bagaimana? Apa kalian sudah ada rencana untuk nanti malam?" tanya Aline pada kedua lelaki itu.
Arka mulai menceritakan rencana apa yang telah disusunya dengan Johan. Membuat ketiga wanita itu mengangguk menyetujui. Aline memutuskan untuk pulang ke rumah bersama Bu Kanti dengan mengendarai taksi online dan meninggalkan Arka untuk terus berada di rumah itu. Ia berharap Arka bisa membantu Johan untuk menjalankan rencana yang telah mereka susun.
"Kamu nggak apa-apa pulang sendiri?" tanya Arum saat Aline hendak masuk ke dalam taksi.
Aline tersenyum, tangannya terulur untuk memegang kedua bahu milik Arum, "Kamu tenang saja, kan ada Ibu. Di rumah juga ada beberapa begawai yang ngurus toko kue. Kamu hati-hati ya, semoga malam ini kalian berhasil."
"Ya Aline,semoga. Kamu bantu do'a ya agar semua ini cepat selesai," pinta Arum dengan wajah sendu.
"Pasti, kalau begiti aku pulang dulu ya." Aline segeraencium punggung tangan sang suami kemudian masuk ke dalam mobil takdi online tersebut.
******
Langit telah berganti gelap, dihiasi cahaya bulan sabit dan beberapa gemintang yang nampak bersembunyi di balik awan karena cuaca yang memang mendung. Seluruh ruangan di rumah Arum telah gelap gulita karena lampu yang sengaja memang sengaja dimatikan untuk menyambut kedatangan si peneror tersebut.
__ADS_1
Sementara Arka dan Johan sudah bersiap untuk melaksanakan rencana mereka.
"Sayang, apapun yang terjadi nanti, kamu jangan keluar kamar sebelum aku dan Arka menyalakan lampu. Kamu dan Bi Marni kunci pinti rapat-rapat. Jaga si kembar," pesan Johan pada sang istri yang hanya bisa mengangguk pasrah.
"Bi, kami titip Arum dan si kembar ya. Jangan sampai Arum keluar dari kamar ini," pinta Arka pada wanita paruh baya yang berdiri di samping Arum.
"Iya, Mas. Semoga kalian berhasil. Bibi bantu do'a dari sini ya," tutur lembut wanita paruh baya itu.
Johan dan Arka segera keluar dari kamar, sedangkan Arum mulai menyalakan laptop dan mengamati keadaan dari CCTV.
Kini, Arka sudah siap siaga. Lelaki itu berjaga di pos satpam kosong yang ada di dekat gerbang rumah Arum. Sementara Johan berdiri di tembok samping rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga sebelumnya, beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah Johan.
Nampak pintu mobil yang mulai terbuka. Seperti biasa, peneror tersebut datang dengan membawa sebuah kotak. Suara derit pintu pagar yang dibuka dengan pelan mulai terdengar di telinga Arum, mata wanita itu memincing. Menatap ke arah layar laptop yang menunjukkan seluruh sudut ruangan rumahnya. Di layar, nampak jelas jika Arka telah keluar dari pos satpam dengan mengendap-endap sembari membawa sebuah tongkat. Lelaki itu segera mendekat dengan langkah lebar, membuat si peneror yang merasakan kehadirannya seketika memutar badan.
Tanpa aba-aba, Arka langsung memukul si peneror tersebut dengan cukup keras hingga tersungkur ke lantai. Johan yang sejak tadi sudah berdiri di samping rumah segera berlari mendekati sahabatnya dan menutup wajah si peneror tersebut dengan sebuah kain. Kedua lelaki itu membawa masuk si peneror dengan paksa, keduanya sudah penasaran dengan siapa sebenarnya orang yang selama ini terus mengganggu ketentraman hidup keluarga Arum. Johan dan Arka bekerja sama untuk mengikat si peneror itu di sebuah kursi kemudian menyalakan lampu ruangan. Bersamaan dengan lampu yang menyala, Arum dan Bi Marni juga keluar dari kamar. Mereka juga ingin menyaksikan secara langsung terbukanya identitas peneror itu.
"Kalian tidak apa-apa kan?" Arum memastikan kondisi kedua lelaki itu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Sayang. Sekarang kita lihat siapa sebenarnya dia ya," ucap Johan seraya mengulas senyum tipis.
Arka mulai membuka kain yang menutupi wajah si peneror tersebut. Kemudian tangannya kembali terulur, hendak membuka masker dan topi yang dikenakan oleh peneror. Dari penampilannya, sudah bisa dipastikan jika ia adalah seorang lelaki. Arum langsung membekap mulutnya sendiri kala masker di wajah lelaki peneror itu telah terbuka. Ia tak menyangka jika orang yang selama ini menerornya ternyata adalah Tirta. Pantas saja jika apa yang dilakukannya sama mengerikan dengan apa yang dilakukan oleh Fitri dahulu.
"Pak Tirta, jadi selama ini Bapak yang sudah meneror keluarga saya?" heran Johan dengan tatapan tajam yang terarah pada lelaki paruh baya itu. Sementara Arka hanya diam, ia membiarkan kedua sahabatnya untuk mengintrogasi orang yang telah mengusik kebahagiaan mereka selama ini. Tirta hanya diam, lelaki itu sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Johan. Bahkan, Tirta malah menyunggingkan senyum miring, seolah merasa bangga dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Dalam hati Tirta, terbesit sebuah kekesalan karena Johan dan Arka bisa menangkapnya dengan semudah ini. Bodohnya Tirta yang tak mau belajar dari hari kemarin di mana Johan sudah memergoki dirinya. Harusnya malam ini Tirta tak datang ,dan baru kembali beberapa hari ke depan agar hal ini tak terjadi kepada dirinyam. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Kini Tirta tak bisa lagi berkutik.
"Jawab, Pak Tirta! Kenapa Bapak bisa melakukan semua ini?" Arum mengulangi pertanyaan yang diberikan oleh sang suami pada lelaki paruh baya itu.
Perlahan, Tirta mulai mengangkat wajah. Menatap Arum dan Johan secara bergantian dengan pandangan yang penuh dengan amarah bercampur dendam.
"Saya melakukan ini untuk putri saya, kalian sudah membuat dia pergi meninggalkan saya. Dan sekarang saya harus hidup seorang diri, tanpa istri dan juga tanpa anak. Saya tidak rela melihat kalian hidup bahagia di atas kesedihan dan penderitaan saya!" oceh Tirta, kedua tinjunya mengepal meluapkan emosi yang tersimpan di dalam hati. Bagi Tirta, apa yang ia lakukan selama ini belum cukup untuk membayar kematian Fitri.
"Fitri meninggal karena bunuh diri, Pak! Bukan karena Arum ataupun Johan," sahut Arka yang sedari tadi hanya diam.
Diam kamu! Kamu itu tidak tahu apa-apa! Seandainya Johan tidak menolak putri saya, pasti semua ini tidak akan terjadi!" teriak Tirta dengan dada yang kembang kempis karena emosinya sudah sampai di puncak.
__ADS_1
"Mas, sepertinya nggak ada gunanya kita bicara dengan orang ini. Lebih baik kita lakukan sesuatu kepadanya," ucap Arum dengan pandangan tajam,wanita itu teringat ketika Tirta melempar sebuah batu ke jendela kamar dan hampir saja membuat kedua bayi kembarnya itu celaka.
"Arum benar, Jo. Lebih baik kita pikirkan apa yang akan kita lakukan pada tua bangka sialan ini!"