Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 56


__ADS_3

Aline membulatkan bola matanya kala melihat Arka yang masuk bersama seseorang yangvsedang terduduk di kusri roda dengan wajah pucat. Lelaki itu mendorong kursi roda, mendekati Arum yang belum juga menyadari keberadaannya. Sementara Dokter Miranda dan Dokter Hendra mengekor di belakang Arka bersama Bi Marni.


"Bu Arum, Bu Arum harus menjalani operasi caesar secepatnya," bujuk Dokter Miranda yang sama sekali tak mendapat tanggapan dari Arum.


"Kita lakukan operasi sekarang ya, Bu. Jangan egois, keselamatan anak Bu Arum lebih penting." Suara Dokter Hendra juga hanya dianggap seperti angin lalu oleh Arum.


Aline memandang gemas pada lelaki yang kini tengah duduk di kursi roda, menunggu pria muda itu untuk segera membujuk sahabatnya. Namun, malah Arka yang mendekat ke arah Arum. Lelaki itu memegang lembut sebelah pundak Arum.


"Arum, kamu mau ya operasi sekarang juga. Apa kamu nggak sayang sama anak kamu. Johan pasti akan murka kalau melihat kamu bersikap seperti ini."


Arum menghembuskan napas kasar mendengar ucapan Arka, "Mas Johan nggak akan marah, dia saja tak peduli pada anak yang ada dalam kandunganku. Buktinya sampai sekarang dia cuma tidur."


"Aku marah melihat sikapmu begini!" Suara keras itu akhirnya membuat Arum memutar badannya.


Wanita itu mengucek matanya berkali-kali, tak langsung percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Johan tengah duduk di atas kursi roda dan menatap ke arahnya dengan sebuah senyum tipis


"Kok malah dikucek begitu matanya, kamu nggak percaya kalau ini aku? Apa kamu pikir aku ini seorang hantu?" kelakar Johan melihat tingkah sang istri.


"Mas, ini beneran kamu?" heran Arum berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Arka mendorong kursi roda itu untuk mendekat ke arah Arum agar keduanya bisa berbicara dengan lebih dekat. Arum langsung menangkup kedua pipi Johan, menatap wajah yang selama ini begitu ia rindukan dengan lekat-lekat.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar, Mas. Aku Rindu sekali denganmu." Air mata telah kembali mengalir dari kedua netra indah milik Arum.


"Iya, sebenarnya tidurku itu lelap sekali. Tapi tiba-tiba Arka datang dan memaki-maki aku. Dia bilang kalau aku ini adalah seorang pengecut karena nggak mau bangun dan menemani kamu berjuang." Senyum Johan menjeda kalimatnya.


"Bi Marni juga menangis, air matanya sampai menetes membasahi tubuhku. Dia ingin aku segera bangun dan menemani kamu berjuang. Di dalam mimpiku, aku juga bertemu dengan kedua orang tua kamu. Mereka memaksa aku untuk segera kembali dan menemani kamu melahirkan cucu-cucunya." Ocehan Johan membuat Arum semakin deras meneteskan air matanya. Namun, kali ini bukan lagi air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan karena sosok yang ia rindukan akhirnya telah kembali.


"Jadi bagaimana, Bu Arum? Sekarang sudah mau kan untuk menjalani operasi?" Suara dokter Miranda mengganggu dua sejoli yang sedang saling melepas rindu di ruang UGD tersebut.


"Iya, Dok. Saya mau untuk operasi sekarang, tapi boleh kan kalau saya ditemani oleh suami saya?" pinta Arum pada dokter perempuan itu.


"Boleh, tapi Pak Johan harus tetap berada di kursi roda karena kondisinya belum benar-benar stabil." Dokter Miranda memberikan syarat yang langsung diangguki oleh Arum.


Dokter Hendra dan Dokter Miranda meminta beberapa perawat untuk mendorong brankar Arum menuju ke ruang operasi, sedangkan Johan didorong oleh Arka dengan ditemani oleh Aline yang berjalan di sampingnya.


"Jo, aku nggak nyangka akhirnya kamu sadar juga. Kamu tahu nggak, Arum menangis sepanjang hari memikirkan keadaan kamu yang sudah berbulan-bulan tak kunjung sadar. Bahkan, aku sempat mencemburuinya karena terlalu dekat dengan suamiku," celoteh Aline sepanjang perjalanan di koridor rumah sakit itu.


"Iya Aline, mungkin karena itu juga tadi Arka memaki-maki aku. Suaranya yang jelek itu benar-benar membuatku bangun dari tidur panjangku," canda Johan menanggapi ocehan Aline.


Arum yang baru saja selesai menjalani suntik anastesi sudah berbaring di atas meja operasi. Johan menemani di sampingnya dan terus menggenggam jemari sang istri. Sesekali lelaki itu menyeka keringat yang keluar dari dahi Arum. Menunggu proses lahirnya buah hati kembar mereka.


Setelah para dokter mengerahkan segala tenaga dan pikiran mereka, akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang membuat senyum Johan dan arum mengembang, menyambut kehadiran bayi mereka.

__ADS_1


"Bapak, Ibu, selamat ya. Bayinya satu perempuan dan satu laki-laki, sempurna tanpa kekurangan satu apapun." Arum dan Johan mengucap syukur kala melihat dua wajah mungil tanpa dosa yang berada dalam gendongan perawat.


"Tapi, karena bayinya lahir prematur jadi untuk sementara harus dirawat di ruang NICU ya, Bapak, Ibu." Arum dan Johan mengangguk pelan menanggapi ucapan salah satu perawat.


Dua bayi itu langsung dibawa oleh para perawat menuju ke ruang NICU bersama Bi Marni yang berinisiatif untuk menjaga dua bayi kembar itu dari luar ruang NICU karena masih trauma dengan kejahatan yang telah dilakukan oleh Fitri pada kedua pasangan muda itu.


Sementara Arum yang sudah selesai menjalani proses operasi langsung di dorong menuju ruang rawat. Sedangkan Arka dan Aline masih setia di sana, mendorong kursi roda Johan untuk menuju ruangan baru. Lelaki itu sengaja meminta pindah menjadi satu ruangan dengan Arum agar bisa selalu menemani sang istri yang baru melahirkan.


Mata Arum menelisik ke seluruh ruangan mencari keberadaan Bi Marni yang sedari tak ia temukan.


"Aline, Bi Marni mana? Kok dari tadi aku nggak melihat dia?" tanya Arum pada wanita cantik yang tengah duduk di kursi samping ranjang.


"Bi Marni jagain si kembar di ruang NICU, katanya trauma. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua."


"Arka, Aline, terima kasih ya sudah selalu ada untuk Arum selama ini. Aku merasa berhutang budi pada kalian." Johan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pasangan suami istri itu.


"Sama-sama. Tapi, karena kamu sudah sadar, bisakah kamu menggantikan kami menjaga Arum? Aku ingin mengajak istriku pulang agar bisa beristirahat," pamit Arka pada lelaki itu.


Johan mengangguk kemudian tersenyum tipis, "Tentu saja boleh, sekarang nikmatilah waktu kalian."


Arka dan Aline segera keluar dari ruangan itu setelah mendapatkan izin dari Johan. Arka melajukan mobilnya untuk pulang, hari yang sudah mulai larut dan rasa lelah yang menyerang membuat Aline tertidur di mobil. Wanita itu bahkan belum juga bangun sampai mobil yang ia tumpangi hampir memasuki gerbang rumahnya. Namun, mata Arka memincing kala melihat seseorang yang terduduk di teras rumahnya sembari memeluk sebuah tas besar. Lelaki itu menggoyangkan pelan bahu sang istri agar terbangun sebelum membelokan mobil hitam itu untuk memasuki gerbang.

__ADS_1


__ADS_2