
Arum saling melempar pandangan dengan Bi Marni. Keduanya sama-sama penasaran dengan isi kotak itu.
"Apa isinya, Mas?" Pertanyaan itu kembali terlontar dari bibir Arum.
"Kalian lihat sendiri saja, aku menyesal sudah mengikuti saran kalian untuk membuka kotak ini," kesal Johan, sudut matanya berair menahan mual.
Perlahan, Bi Marni mendekat. Tangannya terulur membuka isi dalam kotak itu, wanita itu juga langsung memalingkan pandangan. Namun, tanpa menutup kotak hingga satu belatung berhasil melompat keluar.
"Ya Tuhan, apa itu, Bi?" pekik Arum kala melihat hewan menjijikan itu di lantai.
Segera Bi Marni mengambil hewan itu dengan sebuah tisue dan mengembalikannya ke dalam kotak. Tak lupa menutup kembali kotak itu dengan rapat.
"Lebih baik Non Arum jangan melihat. Benar kata Mas Johan, Bibi juga menyesal setelah melihat isi kotak itu, Non." Keringat dingin mulai menetes di dahi Bi Marni, pertanda jika wanita paruh baya itu tengah merasa ketakukan.
"Katakan apa isinya, Bi! Kalau tidak, biarkan aku yang membuka sendiri kotak itu."
"Dua boneka bayi yang lehernya terpotong dan sengaja dilumuri dengan darah serta belatung. Sudahlah, biar aku bakar saja kotak ini!" Johan berjalan ke halaman belakang sembari membawa kotak dan korek api di tanganya. Meninggalkan Arum yang langsung terduduk lemas di sofa.
Air mata mulai membasahi wajah ibu muda itu, ketakutan luar biasa melanda dirinya saat ini. Ia merasa jika keselamatan kedua bayi kembarnya tengah terancam. Sepertinya, orang itu memiliki dendam, tapi siapa sebenarnya manusia lagnat yang tega melakukan hal keji dan menjijikan seperti ini.
"Non, ke kamar sekarang, ya. Istirahat, jangan sampai hal ini membuat Non stres lagi seperti kemarin." Bi Marni menuntun wanita cantik itu untuk kembali ke dalan kamar, Arum hanya menurut. Menghenyak di kasur empuknya dan bersandar di kepala ranjang dengan tatapan kosong.
Johan yang baru saja selesai membakar kotak telah kembali ke dalam kamar. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar kala melihat pandangan sang istri yang kosong. Tanpa berkata apa-apa, Johan mendekat dan membawa tubuh sang istri ke dalam pelukan. Seketika itu pula air mata Arum jatuh tak terbendung. Bahu wanita itu berguncang, menangis tanpa suara di pelukan sang suami.
__ADS_1
"Mas, dia mengancam nyawa anak-anakku, Mas. Keselamatan si kembar sedang terancam saat ini, kita harus segera melakukan seauatu. Aku tak rela jika sampai terjadi sesuatu pada mereka," racau Arum di tengah tangisanya.
"Aku tahu, Sayang. Aku juga tak rela jika orang itu sampai melakukan sesuatu pada Zia dan Zio. Aku akan menyusun rencana agar bisa menangkap manusia sialan itu," geram Johan seraya mengecup puncak kepala sang istri.
Lelaki itu merebahkan tubuh Arum dan menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri kemudian memeluknya hingga terlelap. Meski nyatanya, Johan sendiri malah tak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Memikirkan rencana agar bisa menangkap peneror itu besok malam. Ia tak ingin masalah ini semakin berlarut. Apalagi ketakutan Arum sudah semakin menjadi.
Sementara di tempat lain, seorang lelaki tengah duduk menikmati sebatang rokok di depan sebuah makam. Merutuki kebodohannya hingga hampir tertangkap oleh Johan.
"Sayang, aku pasti akan membalaskan dendammu. Aku akan membuat mereka menyesal, aku akan membuat mereka seperti hidup di neraka," gumam lelaki itu. Sesekali ia tertawa kemudian menangis, merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang paling ia sayangi di dunia ini.
*******
Pagi kembali menyapa bersama udara dingin dan birunya langit, menemani sepasang suami istri yang tengah duduk di tetas sembari menjemur kedua bayi kembar mereka. Arum menatap sendu pada dua malaikat kecil yang tengah berada di dalam stroler. Berharap mereka akan selalu baik-baik saja dan dinaungi kebahagiaan.
"Mas, mereka lucu sekali ya," celetuk Arum sembari membelai lembut kedua pipi bayinya.
Pasangan suami istri itu menikmati waktu hingga sebuah mobil yang sudah sangat mereka kenali memasuki gerbang.
"Arka, kok dia bisa ke sini? Memangnya dia nggak ada kerjaan di kantor?" tanya Arum pada sang suami.
Johan tersenyum tipis, dirinya memang sengaja meminta Arka untuk datang. Namun kali ini ia bersama Aline dan juga Bu Kanti.
"Aku yang minta dia ke sini bersama Aline dan Bu Kanti, biar kamu ada teman ngobrol sayang," jawab Johan.
__ADS_1
Arka yang baru saja turun dari mobil segera menghampiri pasangan itu.
"Hallo baby twins, lagi berjemur ya kalian," sapa Arka pada kedua bayi kembar itu.
"Aku bukan berjemur, Om. Tapi aku dijemur sama Bunda," ucap Johan menirukan suara anak kecil yang membuat pecah tawa semua orang termasuk Arum.
Johan dan Arka memilih untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan kaum wanita yang sudah asyik mengobrol sembari menunggui babby twins berjemur.
Mata Aline sedari tadi tak berkedip melihat penampilan sang sahabat. Wajah kusam dengan lingkaran hitam di bawah mata, menunjukan jika Arum sedang tak baik-baik saja. Apalagi ditambah dengan pandangan mata yang kadang terlihat kosong.
"Arum, apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu seperti sedang menyimpan beban berat?" selidik Aline dengan mata memincing.
"Iya, Nak. Ibu lihat kamu seperti sedang ketakutan, ayo cerita pada kami," timpal Bu Kanti yang juga menyimpan pertanyaan sama dengan sang menantu.
Tangis Arum pecah dalam pelukan sahabat dan mantan ibu mertuanya, membayangkan setiap bahaya yang kini seolah mengintai si kembar.
"Aku takut, aku takut jika akan terjadi sesuatu pada si kembar. Si peneror itu semalam hampir tertangkap, dan kami baru menyadari kalau yang diincarnya adalah si kembar," tutur Arum di tengah suara isak tangisnya.
"Apa maksud kamu Arum? Apa semalam dia berusaha untuk mencelakai si kembar?" Tangan Aline terus mengelus lembut punggung sahabatnya.
"Semalam peneror itu mengirimkan sebuah kotak, dan asal kalian tahu. Isinya dua boneka bayi yang berlumuran darah serta belatung. Dari situ aku sadar, yang ingin ia celakai bukan aku atau Mas Johan. Tapi si kembar." Arum menceritakan kejadian semalan tanpa ada satupun yang terlewat.
"Ya Tuhan, tega sekali orang itu. Berarti batu yang ia lempar ke kaca waktu itu juga sengaja agar si kembar celaka? Benar-benar keterlaluan!" cetus Bu Kanti, wanita itu menatap iba pada sosok dua bayi kembar yang ada di dalam stroler, begitu juga dengan Aline. Sebagai seorang calon ibu, tentu ia tahu apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sudah, kamu tenang. Johan dan Arka di dalam sedang menyusun rencana. Lebih baik kita ikut bergabung bersama mereka. Lagipula matahari mulai tinggi. Kasihan kan kalau si kembar kepanasan."
Aline menuntun Arum untuk masuk ke dalam rumah bersama Bu Kanti yang mengekor di belakang sembari mendorong stroller baby kembar.