Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 64


__ADS_3

Malam telah begitu larut kala Arum merasakan tenggorokannya kering, wanita itu perlahan beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil segelas air yang langsung ditenggaknya hingga tandas. Arum segera kembali ke kamar setelah meletakkan gelas itu di wastafel. Ia khawatir jika kedua bayinya akan menangis jika terlalu lama ia tinggalkan. Namun, ketika wanita itu berjalan, sekilas terlihat bayangan yang melintas di jendela rumahnya. Dengan buru-buru, wanita itu berlari dan mengintip keluar jendela tapi tak menemukan apapun sehingga membuat arum mendesah kasar.


"Sepertinya cuman perasaan aku aja," gumam wanita itu kemudian kembali meneruskan langkah untuk menuju ke kamar.


Setibanya di kamar, ia kembali melihat ada bayangan seseorang yang mengintip dari balik korden kamar. Lagi-lagi Arum dibuat penasaran. Namun seperti sebelumnya, ia tak menemukan siapapun di balik gorden tersebut. Sejurus kemudian, baby Zio dan baby Zia menangis kencang secara bersamaan. Membuat Johan juga ikut terbangun karena mendengar suara tangisan kedua bayinya.


"Lho, Sayang. Kok kamu belum tidur?" tanya Johan yang mendapati sang istri sedang berdiri di samping jendela.


"Aku tadi habis ambil minum di dapur, Mas. Terus ... ah sudahlah, nanti saja. Sekarang aku su- suin si kembar dulu ya," ucap Arum, berusaha menepis semua pikiran buruk.


Wanita itu menghenyak di ranjang setelah mengambil baby Zio dari dalam box bayi. Sedangkan Johan dengan telaten menimang-nimang babby Zia agar tangisnya mereda sampai sang kakak selesai menyu-su.


Baby Zio telah kembali terlelap, kini giliran Arum menyusui baby Zia. Pikirannya tak bisa konsentrasi, angannya terus melayang pada sosok yang tadi terlihat berdiri di balik jendela. Membuat arum merasa begitu penasaran sekaligus cemas. Dia takut jika hal buruk kembali mengintai keluarga kecilnya itu. Bahkan, karena terlalu tenggelam dalam lamunan Arum sampai tak menyadari jika baby Zia telah kembali terlelap. Mata wanita itu terus menatap nanar ke arah dinding kamar yang berwarna putih.


Johan menghampiri sang istri dan menepuk pahanya pelan, "Sayang, itu Zia udah selesai lho nyusunya, biar aku balikin ke box ya."


Arum seketika tergagap kemudian mengangguk dan menyerahkan bayi mungil itu pada sang suami. Johan tak habis pikir, mengapa tiba-tiba wajah sang istri terlihat begitu gelisah malam ini. Padahal, tadi siang ia baik-baik saja, bahkan terlihat begitu bahagia. Lelaki itu ikut menghenyak di sebelah sang istri yang masih bersandar di kepala ranjang.


"Arum, Kamu kenapa kelihatan cemas begitu? Apa ada masalah?" tanya Johan dengan begitu lembut.

__ADS_1


Arum menghirup oksigen dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan agar segala rasa cemas yang menggerogoti hatinya segera mereda.


"Mas, aku tadi seperti melihat ada seseorang yang memata-matai kita." Dahi Johan mengernyit setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh sang istri.


"Memata-matai kita? Memangnya siapa orang yang kurang kerjaan sampai mau memata-matai kita?" Arum menggelengkan kepala, tak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.


"Entahlah, Mas. Aku juga nggak tahu, tapi tadi aku lihat ada bayangan melintas di balik jendela. Dan pas aku intip nggak ada siaoa-siapa. Di kamar juga seperti ada yang mengintip ke arah box bayi baby kembar, tapi pas aku lihat juga nggak ada apa-apa. Atau, mungkin aku yang salah lihat ya, Mas?" ujar Arum dengan wajah ragu-ragu.


Tangan Johan terulur memeluk tubuh sang istri, menyandarkan kepala Arum di dada bidangnya, mencoba memberikan ketenangan untuk sang istri.


"Ya mungkin kamu salah lihat, mungkin tadi yang lewat itu kucing," ucap Johan berusaha untuk mengusir kecemasan sang istri. Padahal, sejujurnya lelaki itu juga merasakan kegelisahan yang sama. Entah mengapa, firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk sedang mengincar keluarga kecil mereka.


"Taapi, Mas. Perasaan aku nggak enak banget, aku takut kalau Fitri kembali untuk merusak kebahagiaan kita," celetuk Arum tiba-tiba.


Johan merebahkan tubuh sang istri dan menarik selimut agar Arum bisa segera terlelap.


Pagi telah kembali berkunjung mengantarkan hawa dingin bersama bulir-bulir embun pagi yang menetes di atas dedaunan. Arum dan Johan baru saja selesai menikmati sarapan mereka kala terdengar suara bel pintu yang dipencet oleh seseorang.


Bi Marni segera melangkah lebar untuk membukakan pintu. Wanita paruh baya iti sudah menduga jika tamu yang berkunjung sepagi ini pasti adalah Aline dan Arka. Namun di luar dugaan, kala pintu terbuka ternyata tak ada seorangpun yang berdiri di sana. Membuat wanita paruh baya itu celingukan ke sana ke mari mencari keberadaan orang yang telah memencet bel rumah itu.

__ADS_1


"Kok nggak ada siapa-siapa sih? Pasti kerjaan orang iseng, tapi siapa yamg masih suka mainan bel pintu di jaman sekarang ini?" gumam wanita paruh baya itu sembari menggarik dahi yang sebenarnya sama sekali tak terasa gatal.


Bi Marni hendak memutar badannya untuk kembali masuk ke dalam rumah ketika kakinya menyenggol sesuatu yang teronggok di lantai. Dahi wanita paruh baya itu mengernyit, pandangannya tertuju pada sebuah kotak berukuran besar yang ada di depan pintu.


"Itu kotak apa ya? Atau, jangan-jangan yang memencet bel tadi adalah kurir yang mengantarkan paket ini?" batin Bi Marni bertanya-tanya.


Wanita itu segera memungut kotak berwarna hitam yang masih teronggok di lantai dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tanpa ia tahu jika ada sepasang mata yang mengawasi dari balik pagar rumah Arum dan Johan.


"Siapa Bi yang datang?" tanya Arum kala wanita paruh baya itu kembali muncul di ruang makan.


"Mungkin kurir paket, Non. Soalnya nggak ada orang, yang ada cuma kotak ini." Bi Marni menunjukkan sebuah kotak besar yang ada di tangannya.


Arum dan Johan beranjak dari kursi mereka masing-masing, melangkah mendekat ke arah wanita paruh baya itu kemudian mengambil alih kotak yang dipegangnya.


"Siapa yang mengirim kotak itu, Mas?" tanya Arum pada sang suami.


Johan memutar-mutar kotak di tangannya, berharap menemukan nama si pengirim kotak tersebut namun nihil.


"Nggak ada tulisan nama pengirimnya, mungkin nggak sih kalau Arka atau Aline yang mengirimkan ini?" tebak Johan dengan wajah ragu.

__ADS_1


"Buka aja deh, Mas! Daripada penasaran, siapa tahu di dalam ada pengirimnya," ujar Arum memberikan solusi.


Johan mengangguk kemudian membawa kotak itu dan menghenyak di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga. Dengan perlahan, Johan mulai membuka kotak besar yang berada di tangannya. Diikuti tatapan mata Arum dan Bi Marni yang juga merasa penasaran dengan isi di dalam kotak tersebut.


__ADS_2