Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 51


__ADS_3

Fokus pandangan mata Arum langsung tertuju ke arah suara Bi Marni yang terdengar histeris. Wanita muda itu segera kembali mendekat ke arah ranjang pasien di mana sang suami masih terbaring di sana. Arum begitu panik, takut jika keadaan Johan semakin mengkhawatirkan.


"Ada apa, Bi? Mas Johan kenapa?" tanya Arum pada wanita paruh baya itu.


"Ta- tadi Bibi lihat jari telunjuk Mas Johan gerak-gerak, Non. Jari telunjuk Mas Johan menyentuh tangan Bibi," jelas Bi Marni dengan sedikit tergagap.


Arka dan Aline yang mendengar hal itu juga ikut mendekat ke arah ranjang.


"Yang bener, Bi? Mas, buruan Panggil dokter, Mas!" perintah Aline pada sang suami, Arka langsung berlari untuk memanggil sang dokter yang datang beberapa menit kemudian.


"Dok, suami saya tadi tangannya gerak-gerak, Dok," ucap Arum saat sang dokter telah tiba di hadapannya.


"Baik, saya akan periksa pasien terlebih dahulu. Yang lain tolong keluar dulu ya "


Perintah dari dokter tersebut langsung mendapat anggukan dari semua orang, mereka menurut dan berjalan beriringan untuk keluar dari ruangan itu. Membiarkan sang dokter untuk menangani Johan. Arum terus gelisah, wanita itu mondar-mandir di depan pintu ruang rawat sang suami. Menunggu sang dokter keluar dengan membawa kabar bahagia untuknya, hampir tiga puluh menit menunggu akhirnya sang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu. Arum langsung menghampiri dokter muda tersebut.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya? Apa suami saya akan segera sadar, Dok?" cecar Arum pada dokter muda tersebut, sang dokter tersenyum. Menatap Arum dengan tatapan iba.


"Masih belum ada tanda-tanda perkembangan berarti dari Pak Johan, Bu," ucap sang dokter dengan berat hati.


Seketika Arum menghembuskan napas kasarnya setelah mendengar hal itu. Arum pikir Johan akan segera sadar. Namun, ternyata harapan hanya tinggal harapan meski Arum tak percaya sepenuhnya karena Bi Marni yang melihat jika Johan sempat menggerakkan jarinya.


"Tapi, tadi suami saya menggerakkan jarinya, Dok."


"Itu hanya reaksi normal dari pasien, Bu. Kita berdoa saja, semoga Pak Johan segera sadar. Saya permisi." Sang dokter berlalu setelah menepuk lembut pundak Arum sebagai tanda untuk memberikan sebuah semangat.

__ADS_1


Seketika tubuh Arum luruh, terduduk lemas di lantai dengan air mata yang mengalir, menganak sungai dari kedua sudut netra indah milik wanita itu.


"Ya Tuhan, sampai kapan Mas Johan akan seperti ini. Aku dan anak di dalam kandunganku butuh dia," racau Arum di sela-sela isak tangisnya.


Arka mendekat, membantu wanita itu untuk berdiri kemudian memeluknya. Lelaki itu mengelus lembut punggung Arum untuk memberikan dukungan dan kekuatan. Arka benar-benar tak bisa melihat Arum dalam kondisi seperti itu.


"Semangat Arum, kamu harus sabar. Aku yakin Johan akan segera sembuh. Toh masih ada aku, Aline dan juga Bi Marni yang akan selalu menemani kamu." Arka terus membisikan kata-kata motivasi untuk mantan istrinya itu.


Tanpa disadari oleh Johan dan Arum, pemandangan mengharukan tersebut telah menggores luka di hati Aline. Dengan susah payah, wanita itu menahan agar air matanya tak jatuh.


"Mas, kenapa kamu terlihat perhatian sekali dengan Arum. Apa mungkin kamu masih menyimpan cinta Untuknya?" batin Aline dalam hati.


Sesungguhnya Aline juga berharap agar Johan segera sadar, karena ia menyimpan kekhawatiran. Jika Johan terus terbaring dalam keadaan koma seperti ini, maka kemungkinan besar Arka akan kembali bersama dengan Arum. Lalu, bagaimana dengan dirinya dan bayi yang sedang berada di dalam kandungannya. Cemburu? Ya, Aline saat ini sangat cemburu melihat perlakuan suaminya pada Arum. Tapi, Aline cukup sadar dengan keadaan Arum saat ini yang begitu terpuruk. Namun, sebagai wanita normal tentu saja Aline tak rela melihat sang suami memperlakukan wanita lain dengan selembut itu.


"Mas, bisa nggak kita pulang sekarang? Kepala aku pusing banget," pinta Aline yang sudah tak tahan melihat adegan mesra di depannya. Arka yang mendengar permintaan Aline segera mengurai pelukannya di tubuh Arum. Menatap sang istri dengan pandangan bingung. Bagaimana bisa Aline mengajaknya pulang, sementara kondisi Arum sedang terpuruk seperti ini.


"Mas, tapi aku pusing banget. Aku ini lagi hamil muda. Apa kamu lupa kalau aku juga perlu istirahat?" ucap Aline dengan sedikit ketus, yang tentu saja membuat Arum sadar jika sahabatnya itu sedang merasa cemburu.


"Aline benar, sebaiknya kalian pulang biar dia bisa istirahat di rumah."


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu. Bi, kami titip Arum ya," ucap Arka pada wanita paruh baya yang berdiri di sebelahnya.


"Iya Mas, saya akan selalu menemani Non Arum di sini."


Arka dan Aline berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit itu. Sedangkan Arum kembali masuk ke dalam kamar rawat suaminya. Wanita itu memutuskan untuk merebahkan diri di ranjang pasien, tempat sang suami sedang terbaring. Memeluk erat tubuh tak berdaya yang ditempeli berbagai macam alat medis itu kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami yang sedang tak sadarkan diri. Berusaha untuk mencurahkan segala rasa rindu dan segala kesedihan dalam hatinya.

__ADS_1


"Mas, aku akan selalu menunggu sampai kamu sadar. Aku yakin kamu nggak akan pergi ninggalin aku dan anak kita," lirih Arum kemudian memejamkan matanya.


Sementara itu, Arka dan Aline tengah berada di dalam mobil. Arka melajukan mobil hitam itu menuju kediaman mereka, sesekali ekor matanya melirik ke arah Aline yang wajahnya nampak begitu masam. Wanita itu terus mengalihkan pandangan ke luar jendela tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipis itu.


"Aline, kamu kenapa dari tadi diam saja?" Suara Arka memecah keheningan yang sedari tadi tercipta di dalam mobil.


"Nggak apa-apa, Mas," jawab Aline tanpa memandang wajah sang suami.


Arka berusaha untuk mencari tahu. Apa kiranya yang membuat sang istri berubah menjadi seperti ini.


"Terus kenapa kamu ngajak pulang tadi? Memangnya kamu nggak kasihan sama Arum?" tanya Arka dengan lembut.


Seketika Aline menoleh, menatap sang suami dengan pandangan tajam, "Arum, Arum terus yang kamu pikirkan. Kamu kira aku nggak butuh diperhatikan? Kamu pikir aku nggak butuh kasih sayang? Seenaknya kamu peluk-peluk mantan istri kamu di depan aku!" omel Aline sembari menatap sang suami dengan kilatan amarah.


"Jadi, kamu cemburu sama Arum?"


"Kamu pikir dong, Mas. Bagaimana kalau kamu lihat suami kamu peluk-peluk wanita lain?" Aline masih belum bisa meredam emosinya, apalagi hormon kehamilan telah membuat perubahan emosinya tak bisa dikendalikan lagi.


Arka menghentikan mobilnya di pinggir jalan, memilih untuk berbicara dahulu dengan sang istri karena tak ingin permasalahan itu semakin berlarut


"Aline, percaya sama aku. Aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama Arum. Aku cuma cinta sama kamu dan aku melakukan itu hanya karena kasihan!"


Seketika Akine menundukkan kepala, merasa bersalah karena tak bisa mengontrol emosi dan rasa cemburunya.


"Maaf Mas, rasa cemburuku terlalu berlebihan."

__ADS_1


Arka segera merangkul tubuh sang istri ke dalam pelukannya, mengecupi puncak kepala wanita itu dengan rasa sayang. Arka sama sekali tak marah dengan sikap sang istri, ia justru bahagia karena sekarang rasa cinta yang dimiliki Aline untuknya telah kembali seutuhnya.


__ADS_2