
Arum membolak-balikan benda berbahan kain berenda yang berada di tanganya. Sebuah lingerie transparan dengan bagian berlubang di bagian ujung kedua dadanya, wanita itu bergidik ngeri kala membayangkan dirinya sendiri yang tengah mengenakan baju haram itu. Buru-buru, Arum menyimpan lingerie pemberian dari Arum ke dalam lemari dan meletakkan di tumpukkan bagian paling bawah agar tak terlihat oleh Johan.
"Gila banget ini si Aline, bisa-bisanya dia ngasih aku baju haram kayak begitu. Yang ada Johan malah mikir ke mana-mana lagi nanti," gumam Arum kemudian kembali merebahkan diri di samping sang suami untuk kembali mencoba memejamkan matanya, entah berapa lama tiba-tiba Arum sudah tenggelam di alam mimpi.
Pekatnya gulita malam telah berkunjung menggantikan sinar sang bagaskara. Menghias langit gelap dengan jutaan gemintang dan sinar rembulan. Arum dan Johan masih terlelap di tengah gelapnya kamar mereka karena lampu yang belum sempat dinyalakan. Suara ketukan di pintu yang mengusik indera pendengaran Arum membuat wanita itu perlahan membuka mata dan terkejut kala mendapati kondisi kamar yang begitu gelap. Mencari sakelar lampu dengan meraba dinding kamarnya. Arum segera membuka pintu, menghampiri Bi Marni yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu menunggu sang majikan.
"Ada apa, Bi?" tanya Arum sembari mengucek matanya yang masih sangat mengantuk.
"Non, makan malam sudah siap. Bibi sudah hangatkan semua makanan yang Non pesan tadi. Non Arum dan Mas Johan mau makan sekarang apa nanti?" balas wanita paruh baya itu dengan ramah seperti biasa.
"Saya mandi sebentar habis itu turun ya, Bi. Setelah itu kita makan malam sama-sama," ucap Arum kemudian kembali masuk ke dalam kamar.
Arum mendekat ke arah Johan yang juga masih terlelap dan menggoyangkan bahu lelaki itu secara perlahan.
"Jo, bangun. Sudah waktunya makan malam." Suara merdu Arum langsung berhasil membuat Johan membuka mata dan menyunggingkan sebuah senyuman.
"Jam berapa, Sayang? Kok udah makan malam aja sih, perasaan aku baru aja tidur siang tadi?" tanya Johan yang mulai menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sembari mengerjabkan kedua matanya untuk memulihkan kesadaran.
"Setengah tujuh malam. Aku mandi dulu ya." Johan mengangguk, membiarkan sang istri untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, Arum keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama Tom and Jerry kesangannya. Aroma harum langsung menguar di hidung Johan.
"Udah, sekarang kamu mandi gih. Aku tungguin di sini," titah Arum pada sang suami.
__ADS_1
Johan mengangguk dan segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri, keduanya segera turun untuk menikmati makan malam. Seperti biasa, suasana meja makan itu selalu dipenuhi dengan canda tawa yang membuat Arum merasa terharu. Karena di rumah Arka dahulu, hampir tak pernah ada yang mengajak dirinya bicara apa lagi sampai bercanda seperti ini.
"Alhamdulillah kenyang, sekarang biar Bibi yang beresin semuanya. Pengantin baru silahkan langsung masuk ke dalam kamar," celetuk Bi Marni setelah menghabiskan isi piringnya.
"Lhah, kita diusir. Memangnya Bibi nggak mau ditemenin nonton drama ikan terbang seperti biasa? Nanti kalau Bibi nangis sendirian gimana?" balas Arum menggoda ARTnya.
"Bibi hari ini nggak mau nonton drama ikan terbang, Non. Mau nonton opera van java aja, karena Bibi lagi bahagia melihat pernikahan kalian. Biar Non sama Mas Johan bisa cepet bikinin Bibi bayi," ucap Bi Marni kemudian terkekeh karena melihat pipi Arum yang bersemu merah.
"Ya sudah, kalau gitu saya sama Arum ke atas dulu ya, Bi. Mau bikin adek bayi dulu."
Johan langsung menggendong tubuh sang istri ala bridal style menuju ke lantai atas tanpa mempedulikan Arum yang memukuli dada bidang sang suami karena takut jatuh. Johan dengan hati-hati meletakkan tubuh ramping sang istri ke atas ranjang.
"Ya ampun, Jo. Malu tahu dilihatin sama Bi Marni juga," protes Arum yang kini telah berada di atas ranjang.
"Jo, Johan. Memangnya ada yang salah?" tanya Arum sembari mendorong tubuh sang suami menjauh.
Johan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang tak dibelikan permen, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Kita kan udah nikah, masa kamu manggil aku dengan sebutan nama. Yang mesra sedikit kenapa sih, panggil "Sayang" atau "Mas" gitu."
Tawa besar Arum seketika pecah setelah mendengar protes dari sang suami.
"Iya deh iya, aku panggil Mas Johan," ucap Arum setelah berhasil menghentikan tawa besarnya.
__ADS_1
"Nah, gitu kan enak." Johan kembali hendak memeluk tubuh sang istri, namun terlebih dahulu ditahan oleh Arum karena wanita itu merasakan sesuatu yang aneh.
"Mas, aku ke toilet sebentar ya," pamit Arum yang segera beranjak dari ranjang untuk menuju ke kamar mandi.
Johan hanya bisa mengangguk pasrah, lelaki itu menunggu sang istri dengan gelisah karena tak sabar untuk menikmati momen romantis di malam pertama mereka.
Beberapa menit kemudian Arum telah kembali keluar dari kamar mandi, Johan yang sudah tak sabar langsung mendekat dan memeluk tubuh sang istri. Arum sejenak membeku, menikmati pelukan lelaki yang paling ia cintai itu kemudian membalas pelukan yang diberikan suaminya.
"Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu," bisik Arum di telinga Johan membuat pipi wanita cantik itu bersemu merah.
Johan mengurai pelukanya, lelaki itu mulai mengikis jarak di antara keduanya. Namun, saat hendak mendaratkan kecupan di bibir ranum sang istri ia kembali mendapat penolakan. Arum meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sang suami yang membuat Johan membuang napasnya kasar.
"Ada apa sih, Sayang? Nggak boleh ya cium istri sendiri? Kan sudah halal?" protes Johan, lelaki itu memutar badannya kembali menghenyak ke ranjang.
Arum hanya diam, tak berniat menyusul sang suami. Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menyusun kalimat apa yang harus ia ucapkan pada sang suami agar tak meminta haknya malam ini juga.
"Kamu kenapa sih? Kok setelah nikah jadi aneh begini, kamu kayak jijik sama aku. Apa kamu nggak cinta sama aku? Atau kamu menyesal sudah menikah denganku?" cecar Johan kemudian mengacak rambutnya kasar, lelaki itu frustasi melihat sikap Arum yang malam ini begitu aneh.
Arum yang mengerti jika sang suami mulai tersulut emosi akibat tingkahnya mau tak mau harus jujur.
"Mas, aku itu nggak menyesal nikah sama kamu. Aku juga sangat mencintai kamu dan aku bersyukur bisa menikah dengan kamu, tapi a ...."
"Tapi apa sih? Tapi kamu belum bisa terima aku sepenuhnya?" Potong Johan sebelum sang istri menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1