Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 24


__ADS_3

"Aku mau menemui Aline di rumah sakit, tapi aku akan datang ke sana bersama Johan." Ucapan Arum langsung membuat kedua sudut bibir milik Johan tertarik, lelaki itu tak menyangka jika Arum benar-benar memikirkan perasaannya. Awalnya ia pikir Arum tak akan melibatkan dirinya dalam hal ini.


"Baiklah, kalau begitu. Kalian bisa mengikuti mobilku dari belakang," ujar Arka yang langsung menyetujui keinginan Arum.


Ketiganya beriringan keluar dari caffe itu untuk menuju ke parkiran. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Johan mengikuti mobil Arka hingga mereka tiba secara bersamaan di rumah sakit dan langsung menggunakan lift untuk menuju ruang rawat Aline yang berada di lantai tiga.


Arka terlebih dulu masuk ke dalam kamar diikuti oleh Johan dan Arum di belakangnya, terlihat Aline yang tengah menangis dengan posisi meringkuk di atas ranjang. Lelaki itu segera mendekat dan menepuk lembut bahu sang istri.


"Aline, ini ada Arum sama Johan. Katanya kamu mau ketemu sama Arum." Aline langsung menoleh setelah mendengar suara Arka.


Wajah Aline yang sembab seketika menyunggingkan senyum kala melihat kedatangan Arum yang perlahan mulai mendekat ke arahnya. Arum langsung memeluk tubuh wanita yang telah bertahun-tahun menjadi sahabatnya dan dibalas oleh Aline dengan begitu erat.


"Aline, aku turut berduka ya. Kamu harus kuat, mungkin Tuhan memang lebih menyayangi anakmu," bisik Arum kemudian mengurai pelukan itu.


Tangis Aline benar-benar pecah setelah mendengar ucapan bela sungkawa dari wanita yang sudah pernah ia lukai begitu dalam. Ternyata tebakanya salah, Arum tak mentertawakan penderitaannya sama sekali, wanita itu malah berusaha untuk menguatkan dirinya.


"Arum, kenapa kamu malah bersikap baik begini padaku? Harusnya kamu mentertawakan penderitaanku. Aku sudah merebut suamimu, dan mungkin ini adalah karma yang Tuhan berikan untukku," ucap Aline disela isak tangisnya.


Arum menghela napasnya panjang, tangannya terulur mengelus lembut bahu wanita yang masih terisak itu. Hati Arum memang sakit, tapi ia tak masih punya hati jika harus menertawakan duka orang lain.


"Semuanya sudah takdir, mungkin jodohku sama Arka hanya sebatas ini. Lagi pula, sekarang aku sudah menemukan kebahagiaanku yang lain," balas Arum tersenyum penuh arti.


"Jadi, apakah kamu sudah memaafkan aku, Rum?"


"Sudah, aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Kamu mungkin punya salah. Tapi kamu tetap sahabatku," Arum kembali merengkuh tubuh Aline ke dalam pelukannya.


Arka dan Johan yang sedari tadi menonton pemandangan itu ikut merasa terharu melihat kebaikan hati Arum. Arka bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah dua wanita itu.


"Arum, aku juga minta maaf untuk semuanya. Aku janji, mulai hari ini tidak akan mengganggu kamu lagi. Aku akan memperbaiki semuanya bersama Aline, semoga kamu benar-benar bahagia bersama Johan." Ucapan Arka kali ini berhasil membuat Aline membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


"Tunggu, apa maksudnya Arum bahagia bersama Johan?" tanya Aline dengan kedua alis mata yang saling bertaut.


Johan ikut bangkit dan mendekat, merangkul bahu Arum dengan begitu mesra. Membuat tanda tanya besar muncul di benak Aline.


"Aku dan Arum sekarang adalah pasangan kekasih," jelas Johan kemudian.


"Ya Tuhan, selamat ya kalian. Aku nggak menyangka kalau kalian bisa saling jatuh cinta. Semoga kalian juga bahagia." Ucapan Aline terdengar begitu tulus.


"Terima kasih, karena udah sore kita pamit dulu ya. Semoga kamu cepat sembuh dan semoga hubungan kalian juga semakin bahagia," pamit Johan pada pasangan suami istri itu.


Arum kembali memeluk Aline sebelum keluar dari ruangan dengan diantar oleh Arka. Setelah bertemu dengan Aline, hati Arum terasa semakin bahagia. Ternyata benar yang dikatakan Johan waktu itu, berdamai dengan masa lalu adalah penyembuh yang terbaik untuk luka hatinya.


Johan mulai melajukan mobilnya menuju ke kediaman Arum. Ekor matanya terus tertuju pada sang kekasih yang sedari tadi terus memancarkan senyuman. Kebaikan Arum untuk memaafkan Arka dan Aline membuatnya semakin jatuh cinta pada wanita di sampingnya.


"Sayang, kamu wajahnya cerah sekali setelah ketemu sama Aline. Kenapa sih?" Suara Johan memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Syukurlah kalau begitu, berarti sekarang aku yang harus fokus untuk membahagiakan kamu."


Arum tersenyum mendengar ucapan sahabat sekaligus kekasihnya ini. Mereka terus mengobrol sampai mobil yang dikemudikan oleh Johan tiba di rumah. Lelaki itu terlebih dahulu turun dan membukakan pintu untuk sang kekasih.


"Aku mampir ya, mau masakin makan malam buat kamu," celetuk Johan tiba-tiba, membuat Arum menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam rumah.


"Masak makan malam? Tapi kan udah ada Bi Marni yang masakin kita?"


"Hari ini spesial, biar aku yang masak. Yuk, kita masuk." Johan menggandeng tangan sang kekasih untuk masuk ke dalam rumah, menghampiri Bi Marni yang sedang berada di dapur.


"Bi, mau masak apa?" Suara bariton Johan membuat Bi Marni sedikit berjingkat karena kaget.


"Ya ampun, Mas Johan bikin kaget aja. Kalau Bibi jantungan gimana?" ucap Bi Marni pura-pura kesal.

__ADS_1


"Hayo lho, Bi Marni ngambek tuh gara-gara kamu kagetin," tambah Arum kemudian terkekeh geli karena tahu jika ARTnya itu hanya berpura-pura marah.


Johan mendekat dan memegang kedua bahu wanita paruh baya itu dengan wajah bersalah.


"Bi, maaf ya kalau saya udah mgagetin Bibi. Gini aja deh, sebagai tanda permintaan maaf biar saya yang masak buat makan malam ya."


Wajah Bi Marni langsung berbinar mendengar ucapan dari lelaki itu.


"Yang bener nih? Emang Mas Johan bisa masak? Nanti yang ada dapurnya meledak lagi?" canda Bi Marni seraya menaik turunkan kedua alisnya.


"Bisa dong, udah sana. Bibi sama Arum istirahat aja, biar saya yang masak."Johan mendorong tubuh kedua wanita itu untuk keluar dari dapur.


Keduanya menurut, memilih untuk duduk di ruang keluarga sembari menonton drama ikan terbang kesukaan Bi Marni. Satu setengah jam berlalu, Johan telah selesai memasak dan menata hidangannya di atas meja makan. Capcay goreng, udang goreng tepung dan ayam bakar madu menjadi menu pilihan yang dimasak oleh lelaki itu. Johan melangkah ke ruang keluarga, menghampiri Arum dan Bi Marni yang masih fokus pada layar televisi.


"Makanan sudah siap, ayo kita makan sekarang," ajak Johan pada dua wanita beda genarasi tersebut.


Arum dan Bi Marni mengangguk kemudian mengekori langkah Johan menuju ke meja makan. Keduanya saling pandang kala melihat apa yang tersaji di meja makan. Semua yang dimasak oleh Johan adalah makanan kesukaan Arum.


"Kok cuma dilihatin aja sih, nggak ada yang mau makan nih?" celetuk Johan mengagetkan dua wanita yang masih asik memandangi hidangan di atas meja.


"Mau dong, Mas. Mas Johan hebat, bisa masak semua makanan kesukaan Non Arum. Kalau begini Bibi jadi yakin, Mas Johan memang Jodoh terbaik buat Non Arum," ucap Bi Marni kemudian menghenyak di salah satu kursi.


"Sumpah, ini masakan kamu enak banget, Jo. Aku aja nggak bisa masak seenak ini." Arum memuji masakan sang kekasih setelah menelan suapan pertamanya.


"Iya dong, makanya nanti kalau kita udah nikah biar aku aja yang masak buat kamu," balas Johan menyunggingkan senyumnya.


Ketiganya menikmati makan malam dengan begitu lahap. Sesekali Bi Marni melempar candaan yang mengundang tawa dua anak muda di hadapannya itu.


"Ya Allah, semoga Mas Johan bisa benar-benar membuat Non Arum bahagia," batin Bi Marni dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2