Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 35


__ADS_3

Aline buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya meskipun sudah terlanjur dilihat oleh Bu Kanti. Wanita itu hanya diam, menunggu Arka untuk menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya tadi. Seoleh mengerti maksud sang istri, Arka segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bu Kanti.


"Nggak apa-apa kok, Bu. Aku dan Aline hanya sedang mendiskusikan sesuatu. Oh ya, Ibu mau makan dulu? Tadi kami beli makanan di luar?" tawar Arka pada sang ibu sembari memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan rencana kepindahan dirinya dari rumah itu.


"Nggak, Ibu udah makan tadi di restoran mewah. Dibayarin sama teman Ibu yang kasian karena lihat jatah bulanan Ibu dipangkas," sindir Bu Kanti dengan ekor mata yang terarah pada sang menantu.


"Bu, Arka dan Aline ingin bicara satu hal yang penting." Arka memulai inti pembicaraan tersebut.


"Bicara apa sih, Arka. Kenapa wajahmu tegang begitu."


Wanita paruh baya itu mulai menghenyak di salah satu kursi, dan Aline yakin jika setelah Arka mengutarakan keinginanya akan terjadi debat kusir yang membuat dirinya kembali dipojokan oleh sang mertua.


"Arka dan Aline mulai besok mau tinggal di rumah Aline, jadi besok kami pindah dari rumah ini, Bu," ucap Arka dengan hati-hati agar sang ibu tak tersulut emosi.


"Apa? Memangnya kamu tega meninggalkan Ibu sendiri di rumah ini? Mau jadi anak durhaka kamu? Sudah uang belanja dipangkas, sekarang juga mau meninggalkan Ibu sendiri di sini?" cecar Bu Kanti, wanita paruh baya itu sama sekali tak bisa menerima keputusan sang anak.


"Ibu tenang saja, mulai bulan ini Arka akan tambahin uang belanja Ibu. Dan nanti akan ada ART yang datang pagi dan pulang sore buat bersih-bersih dan masak untuk Ibu," bujuk Arka agar sang ibu menyetujui kepindahanya.


Bu Kanti terdiam sejenak, dahinya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Tawaran Arka sepertinya cukup baik untuk dirinya. Wanita paruh baya itu tak perlu mengomel setiap hari karena melihat Aline yang tak ia sukai. Dan ia tetap bisa bersantai dengan adanya ART yang dikirim oleh Arka. Selain itu, uang belanja yang bertambah bisa membuatnya bergaya sosialita seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Sepertinya malah bagus kalau mereka pindah dari rumah ini, tapi aku harus pura-pura sedih karena kepergian mereka," batin Bu Kanti dalam hati, wanita itu tersenyum samar sampai tak bisa dilihat oleh anak dan menantunya.


"Jadi gimana, Ibu setuju kan dengan keputusan kami?" Arka menaikan sebelah alisnya menatap ke arah sang Ibu.


"Memangnya kenapa sih kamu mau pindah, Ibu ini sudah tua. Ingin ditemani kamu, anak Ibu satu-satunya. Syukur-syukur kalau Ibu bisa segera punya cucu." Bu Kanti mulai mengeluarkan jurus air mata buaya miliknya.


"Atau jangan-jangan, Aline yang memaksa kamu untuk pindah dari sini?" tuduhnya kemudian.


Aline menghembuskan napas kasar, sesuai dengan apa yang sudah ia tebak sebelumnya. Bu Kanti akan menyalahkanya atas keputusan yang telah diambil Arka. Namun, wanita muda itu tetap diam. Tak berniat menyangkal karena sudah terlalu lelah bila harus meladeni mertuanya untuk berdebat.


"Tidak, Bu. Semua ini Arka yang mau, selain agar Aline bisa lebih leluasa membuka bisnis kuenya juga agar Ibu tidak selalu ribut dengan Aline setiap hari. Jadi, Arka mohon izinkan kami untuk pindah dari rumah ini." Lelaki itu menangkupkan kedua tanganya di depan sang ibu sebagai bentuk permohonan.


"Baiklah, kalau itu mau kalian. Ibu izinkan kalian pindah dari sini."


*******


Pagi telah berkunjung bersama sinar mentari yang memberikan kehangatan untuk dunia dengan diiringi harum aroma embun yang menetes di dedaunan. Arka dan Aline baru saja selesai sarapan dan tengah bersiap untuk segera pindah ke rumah Aline. Tak ada banyak barang yang mereka bawa, hanya beberapa koper berisi pakaian yang tengah dimasukan oleh Arka ke dalam bagasi mobil. Bu Kanti masih berpura-pura sedih kala melepas kepergian anak dan menantunya.


Aline mendekat ke arah wanita paruh baya itu, meski selama ini hubungan mereka tak pernah baik. Namun, Aline masih menghormati Bu Kanti sebagai ibu mertuanya. Wanita itu merogoh sebuah amplop berisi uang dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Bu, ini buat Ibu. Maaf kalau selama ini Aline ada banyak salah. Ibu baik-baik ya di sini, sesekali Aline dan Mas Arka juga akan mengunjungi Ibu. Atau kalau mau, Ibu bisa main juga ke rumah Aline," ujar wanita cantik itu sembari mengulurkan amplop tadi pada mertuanya.


"Apa ini, Nak. Kenapa repot, kalian yang pindah. Tapi Ibu nggak bisa kasih apa-apa untuk kalian, malah kalian yang kasih ibu." Wanita paruh baya itu masih belum mau berhenti bersandiwara.


Aline sesungguhnya tahu jika Ibu mertuanya itu hanya berpura-pura. Tapi baginya itu semua tak penting lagi, toh setelah ini ia akan hidup damai di rumahnya. Mengelola bisnis dan menjalani lembaran baru bersama Arka. Hanya satu harapan Aline, semoga setelah ini ia bisa memiliki sedikit rasa cinta untuk suaminya itu seperti dulu.


Aline dan Arka segera pamit, Bu Kanti melepas kepergian keduanya. Menatap dua mobil yang keluar dari rumahnya sampai menghilang dari pandangan, baru kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Ahh, akhirnya mereka pergi juga." Wanita paruh baya itu menghenyak di sofa, membuka amplop pemberian Aline yang ternyata berisi uang dengan nominal yang cukup banyak.


"Wah, lima juta. Lumayan ini, bisa buat bayar arisan minggu depan sekalian beli baju dan sepatu baru," ujar wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar. Menikmati hidupnya tanpa ada anak dan menantu yang menemani.


Sementara itu di tempat lain, Arka dan Aline yang baru saja sampai di rumah tengah sibuk menata baju-baju mereka ke dalam lemari. Senyum terus mengembang di wajah dua sejoli itu. Arka mendekat dan memeluk Aline dari belakang membuat hingga wanita itu menoleh.


"Mas, kalau kamu peluk aku begini. Kapan selesai ini semua?" protes Aline yang masih sibuk dengan baju dan lemari di depannya.


Arka terkekeh mendengar protes dari sang istri. Bukan apa-apa, biasanya Aline akan berlalu pergi saat sang suami mulai mendekatinya. Tapi, kali ini berbeda. Aline hanya protes di bibir tanpa meminta Arka melepaskan pelukanya.


"Bajunya nanti aja diurusin, sekarang urusin aku dulu gimana?" bisik Arka mencoba menggoda sang istri.

__ADS_1


Tanpa diduga, Aline langsung memutar badanya menghadap sang suami dan mengerlingkan matanya nakal. Persis saat seperti belum menikah dulu, Arka yang sudah mengerti apa maksud sang istri langsung menggendong tubuh ramping Aline menuju ke ranjang. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, keduanya telah menikmati pergulatan panas yang lama tak mereka lakukan sebagai pasangan suami istri. Saling berbagi peluh untuk mencapai kenikmatan.


Luka hati Aline memang belum sembuh. Namun, setidaknya wanita itu mulai bisa menerima kembali kehadiran Arka seutuhnya dan berdamai dengan masa lalu buruk mereka agar bisa mencapai kebahagiaan masa depan.


__ADS_2