
Pagi mulai berkunjung tanpa sinar mentari yangemberi kehangatan pada semesta, hanya langit mendung tertutup awan hitam yang menghias pagi ini. Seakan semesta ikut mengerti kedukaan Aru. Wanita itu masih setia menemani Johan yang kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan, masih belum ada perkembangan berarti dari kondisi Johan. Lelaki itu masih terbaring tak berdaya di rumah sakit dengan kedua mata tertutup dan beberapa alat medis yang menempek di tubuhnya.
Arum yang semalam sama sekali belum beristirahat mulai merasakan kantuk luar biasa. Hingga tanpa sadar Arum mulai memejamkan mata, wanita itu tertidur di kursi samping ranjang pasien dengan berbantal kan tangan Johan yang ditempeli dengan jarum infus. Wanita itu mulai tenggelam di alam mimpi. Entah berapa lama Arum tertidur sampai kembali mulai tersadar dari buaian alam mimpi. Sudut mata wanita itu mulai basah kala mendengar indahnya suara kicauan burung di luar sana.
Hari ini pagi Arum terasa begitu berbeda, tak ada lagi senyum bahagia Johan yang selalu menyapa dirinya. Tak ada lagi ucapan manis kata sayang, apalagi sarapan bersama sebelum mereka memulai aktivitas. Sungguh hal yang terasa begitu memilukan bagi wanita yang tengah hamil muda itu.
"Baru satu pagi kita tak sarapan bersama, dan aku sudah sangat merindukanmu. Aku harap kamu tak tertidur terlalu lama, Mas. Aku rindu kebersamaan kita," lirih Arum di telinga Johan, berharap lelaki itu akan mendengar setiap harapan yang ia ucapkan dan segera membuka matanya.
Namun, lagi-lagi Arum harus menelan pil kekecewaan karena sama sekali tak ada reaksi dari sang suami. Pandangan mata Arum kembali nanar, menatap ke arah dinding rumah sakit. Memikirkan apa yang terjadi di masa depan jika sampai Johan tetap tak bisa kembali tersadar, bahkan kemungkinan terburuk lelaki itu akan meninggalkan dia untuk selamanya.
Ceklek.
Lamunan Arum buyar kala pintu ruang rawat itu dibuka dari luar. Sosok wanita paruh baya dengan wajah teduh yang mulai keriput mendekat ke arah Arum. Bi Marni langsung memeluk erat tubuh ramping wanita yang sudah ia asuh sejak bayi.
"Non Arum yang kuat ya, pasti mas Johan akan segera sadar," ucap Bi Marni mencoba memberikan semangat untuk wanita cantik itu.
Arum mendesah kasar, rasanya mustahil semua harapan itu akan terkabul jika melihat kondisi Johan saat ini.
"Entahlah Bi, Arum nggak yakin. Arum juga nggak tahu harus bagaimana kalau sampai mas Johan nggak bisa sadar lagi."
__ADS_1
Bi Marni meletakkan jari telunjuknya di bibir Arum, "Jangan bicara seperti itu, Non. Ucapan adalah doa, jadi kita berucap yang baik-baik saja untuk Mas Johan Bibi yakin, Mas Johan akan segera sembuh."
Arum mengangguk kemudian menyunggingkan senyum tipis di tengah air mata yang tak berhenti mengalir dari kedua sudut netranya.
"Bibi bawakan makanan, sekarang Non makan dulu ya. Biar dedek bayinya juga tetap sehat."
Arum mengangguk samar, wanita itu menurut dan segera berpindah ke sofa untuk menikmati sarapan paginya yang terasa hambar tanpa Johan. Bukan tanpa Johan tepatnya, tapi tanpa kemesraan yang biasa mereka lewati bersama. Wanita itu mengunyah dengan mata yang terus tertuju pada ranjang pasien, tempat di mana lelaki pujaannya tergeletak tak berdaya di sana.
Arum baru saja menelan suapan terakhirnya saat Arka dan Aline masuk ke dalam ruang rawat Johan. Kedua sejoli itu merasa lega karena Arum masih mau mengisi perutnya, apalagi sekarang wanita itu dalam keadaan mengandung. Arum yang melihat kedatangan Arka langsung menyongsong lelaki itu hingga melupakan Aline yang juga ikut berada di samping Arka merasa terabaikan.
"Bagaimana, Mas? Apa kamu udah dapat keterangan dari polisi? Apa benar kalau Mas Johan mengemudi dalam keadaan mabuk?" cecar Arum pada mantan suaminya, Arka tersenyum kemudian menuntun wanita itu untuk duduk di sofa. Entah mengapa, Arka juga bisa melupakan keberadaan sang istri yang dari tadi ikut dengannya. Aline hanya bisa tersenyum kecut menatap dua orang yang kini sudah duduk bersama di sofa tanpa mempedulikan kehadiran dirinya.
Sejurus kemudian, Arka menyadari sesuatu. Mata lelaki itu tertuju ke arah sang istri yang tengah berdiri dengan sebuah senyum kecut yang tersungging di bibirnya.
"Ya ampun Sayang, kok kamu masih berdiri di situ? Ayo duduk, nggak baik buat ibu hamil berdiri lama-lama," ucap Arka sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Dengan langkah gontai, Aline menuju sofa yang berada di samping sang suami dan menghenyak di sana. Arka mendesah kasar, ia yakin jika saat ini Aline tengah kesal dengannya. Sejujurnya, bukan maksud Arka untuk mengabaikan keberadaan istrinya. Lelaki itu hanya sedang merasa kasihan dengan keadaan Arum yang saat ini pasti tengah terpuruk.
"Jadi gimana, Mas? Polisi bilang apa?" Arum mengulangi pertanyaannya tadi, wanita itu benar-benar tak menyadari keberadaan sang sahabat sama sekali.
__ADS_1
Arka mendesah kasar, kemudian menatap Arum dengan sorot mata yang tak bisa diartikan.
"Tadi pagi polisi sempat telepon, dan mereka bilang dari hasil pemeriksaan dokter tidak terbukti jika Johan mengemudi dalam keadaan mabuk. Mereka juga merasa ada yang janggal dengan kecelakaan ini," jelas Arka membuat Arum sedikit lega, karena seperti yang sudah Arum ketahui bahwa sang suami bukanlah penikmat Alkohol.
"Apa kamu ada mencurigai seseorang yang kemungkinan sengaja ingin mencelakai Johan, Rum?" Kali ini Aline mulai bersuara. Membuat Arum menyadari kehadiran sahabatnya itu. Wanita itu merutuki kebodohannya karena sedari tadi mengabaikan keberadaan Aline dan malah mencecar Arka dengan berbagai pertanyaan.
"Ya ampun, Aline. Maaf aku begitu panik memikirkan keadaan Mas Johan sampai aku tidak menyadari keadaan kamu. Maaf juga kalau kamu merasa tak enak hati dengan perlakuanku pada Mas Arka," ucap Arum dengan wajah bersalah, wanita itu sama sekali tak ada niat untuk menyakiti hati Aline dengan terus dekat dengan mantan suaminya sedari tadi.
"Nggak apa-apa, Arum. Aku mengerti kok," balas Aline tersenyum tipis."
Kini pandangan Arum kembali tertuju pada Arka, masih ada sesuatu yang mengganjal di hati wanita itu.
"Mas, apa polisi tidak mengecek kamera CCTV di lokasi sekitar tempat kejadian semalam?" tanya Arum pada lelaki itu.
Arka kembali mendesah kesal, "Sayangnya CCTV di sekitar tempat kejadian itu semuanya mati. Satu-satunya cara untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya hanyaenunggu Johan kembali sadar agar bisa memberikan keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi."
Pupus sudah harapan Arum untuk menjawab kecurigaannya. Hanya bisa menunggu Johan kembali tersadar dari komanya itu.
"Arum, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi? Apa kamu mencurigai seseorang? Atau kamu tahu kalau Johan punya musuh?"
__ADS_1