
Hampir satu jam menunggu, mobil Arka terlihat mulai memasuki pekarangan rumah Arum. Johan juga sudah memanggil beberapa orang untuk memperbaiki kaca jendela yang pecah karena ulah si peneror tadi pagi. Mata Arka menyipit kala turun dari mobil, menatap heran ke arah beberapa orang yang mondar-mandir di sekitaran rumah sahabatnya karena tengah memperbaiki jendela kamar.
Langkah kaki Arka mulai terayun, memasuki rumah besar tersebut. Johan yang melihat kedatangannya Arka segera menyongsong sang sahabat ke depan pintu. Dahi Arka mengernyit melihat wajah Johan yang nampaknya begitu frustasi.
"Ada apa ini, Jo? Kenapa di rumah ini banyak orang, dan kelihatannya kamu sedang banyak sekali pikiran?" tanya Arka pada sahabatnya.
Johan mendesah kasar, lelaki itu menggandeng tangan Arka untuk duduk di sofa bersama Arum dan juga Bi Marni yang tengah menggendong baby kembar. Johan mulai menceritakan apa yang ia alami beberapa hari ini, dan puncaknya teror pada pagi tadi yang berhasil memecahkan kaca jendela kamarnya. Seketika mata Arka membola, lelaki itu hampir tak percaya dengan semua yang diceritakan oleh Johan. Kenapa masih ada saja hal-hal buruk yang menimpa keluarga kecil sahabatnya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" Arka menaikkan sebelah alis, menatap lelaki yang duduk di hadapannya.
Johan menegakkan posisi duduknya, menatap Arka dengan pandangan serius, "Aku ingin kamu membantuku untuk memasang CCTV di sekitar rumah ini, agar aku bisa tahu siapa sebenarnya orang yang meneror keluargaku."
"Baiklah, aku akan telepon petugas CCTV sekarang." Arka mulai memainkan gawainya, menelepon seseorang yang terbiasa memasang CCTV di kantor lamanya dahulu. Tak perlu menunggu lama, beberapa orang kembali datang ke rumah Johan untuk memenuhi permintaan Arka.
"Selamat siang, Pak Arka," sapa seorang laki-laki bertubuh besar.
"Selamat siang, Pak Rudi. Tolong pasang CCTV di sekitaran rumah ini, kalau perlu di seluruh sudut rumah ini," perintah Arka dengan tegas.
"Baik, Pak. Akan kami laksanakan sekarang!" Rudi dan beberapa orang temanya bergegas memasang CCTV di rumah Johan.
Sedangkan Johan sendiri masih nampak termenung di hadapan Arka. Lelaki itu benar-benar penasaran, siapa sebenarnya orang yang telah mengacaukan kehidupannya selama beberapa hari ini.
"Apa kalian sudah makan siang?" tanya Arka seraya menata bergantian ketiga orang yang berada di hadapannya.
"Belum, Mas Arka. Bibi belum sempat masak karena panik," jawab Bi Marni mewakili kedua majikannya.
"Ya sudah, biar saya pesankan makanan dari caffe saja. Sekalian untuk makan orang-orang yang kerja di sini." Tanpa menunggu persetujuan, Arka langsung menelepon salah satu pegawai Cafe milik Johan. Meminta karyawan tersebut Untuk mengantarkan beberapa kotak makanan ke rumah sahabatnya, emudian kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku.
__ADS_1
Hening!
Semuanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Gurat kesedihan nampak jelas di wajah Arum, keadaan ini membuatnya terlihat begitu kacau. Bukan hanya keselamatan dirinya dan Johan yang ada di pikiran Arum, tapi keselamatan bayi kembar yang baru saja ia lahirkan beberapa hari lalu. Wanita itu takut jika sampai terjadi sesuatu pada kedua malaikat kecilnya. Mungkin, Arum tak akan bisa bertahan lagi jika sampai ia harus kehilangan dua bayi mungil yang tak berdosa itu.
Lamunan mereka buyar kala mendengar suara teriakan dari seseorang. Arka bergegas keluar menghampiri seorang karyawan karyawan Cafe yang sudah berdiri di depan pintu sembari membawa beberapa kotak makanan. Lelaki itu segera memberikan uang tips untuk karyawan tersebut dan kembali masuk dengan membawa kotak-kotak makanan di tanganya. Tak lupa untuk membagikannya pada orang-orang yang tengah bekerja memasang CCTV dan memperbaiki kaca jendela kamar Arum.
"Ayo kita makan, aku udah pesankan makanan buat kalian," ajak Arka pada sahabatnya.
"Aku nggak laper," celetuk Arum yang memang sama sekali tak merasakan lapar di perutnya. Sepertinya, rasa sedih dan rasa gelisah setelah membuatnya meras kenyang.
"Nggak bisa begitu, Non. Non Arum harus makan, kalau Non Arum nggak makan terus ASInya nggak keluar kan kasihan baby kembar," nasihat Bi Marni untuk majikan perempuannya.
Dengan terpaksa, Arum menggangguk kemudian mengambil satu kotak makanan dan menyantapnya dengan rasa malas. Makanan yang biasanya terasa enak itu mendadak terasa hambar di lidah Arum. Begitu juga dengan Johan dan Bi Marni, mereka hanya asal mengunyah dan menelan. Sama sekali tak merasakan apa yang ia makan saat ini. Sepertinya Johan tak akan pernah bisa tenang sebelum si peneror itu tertangkap.
Hari telah menjelang sore, kaca jendela kamar Arum telah selesai diperbaiki. Begitu pula dengan CCTV yang sudah terpasang rapi di setiap sudut rumah, baik bagian dalam maupun luar. Para pekerja juga sudah pulang semua setelah menyelesaikan tugas mereka, hanya tersisa Arka yang kini juga hendak pamit karena Aline sudah menunggunya untuk makan malam bersama di rumah. Sejujurnya, lelaki itu tak tega untuk meninggalkan Arum dan Johan. Namun, ia tetap harus mengutamakan sang istri yang sedang hamil besar saat ini.
"Johan, Arum, aku pamit ya. Kalian berdua tetap hati-hati, jangan lagi meletakkan box bayi kalian di dekat jendela," pesan Arka pada kedua sahabatnya itu.
"Terima kasih Arka, kamu selalu ada setiap aku dan membutuhkan," ucap Johan seraya menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu tetap waspada, sering-sering cek rekaman CCTV agar kamu bisa mengetahui siapa orang yang melakukan teror itu." Johan mengangguk, menyetujui ucapan Arka. Lelaki itu segera melangkah menuju ke mobilnya dan mulai menginjak pedal gas.
Saat Arka keluar dari pekarangan rumah Arum, terlihat sebuah mobil hitam yang masuk. Arka tak ingin ambil pusing, mungkin itu hanyalah tamu Johan karena tak mungkin Jika seorang peneror datang ke rumah itu secara terang-terangan.
Johan yang baru saja memutar badannya dan hendak kembali masuk ke dalam rumah harus menghentikan langkah karena mendengar suara mobil yang kian mendekat. Lelaki itu menoleh, Johan merasa sedikit terkejut ketika mengetahui siapa laki-laki yang baru saja turun dari dalam mobil itu. Tirta, ayah Fitri tiba-tiba datang ke kediaman mereka.
Entah mengapa, seketika perasaan Johan kembali gelisah kala menatap sorot mata tajam dari lelaki paruh baya itu. Namun, Johan tetap berusaha tersenyum untuk menyambut kedatangan tamunya.
__ADS_1
"Selamat sore, Pak Johan," sapa Tira yang kini sudah berdiri di hadapan Johan.
"Selamat sore, Pak Tirta. Ada perlu apa ya?" tanya Johan pada lelaki paruh baya itu.
Tirta tersenyum, menunjukkan beberapa paper bag yang ada di tangannya, "Saya hanya ingin memberikan hadiah kecil untuk bayi kalian yang baru saja keluar dari rumah sakit."
Seketika Johan merututi kebodohannya sendiri, bagaimana bisa ia langsung berburuk sangka kepada seorang tamu yang hendak mengunjungi bayi mereka.
"Mari, Pak. Silakan masuk." Johan mempersilahkan lelaki paruh baya itu untuk masuk ke dalam rumah, membuat Arum terperanjat karena tak menyangka jika ayah Fitri akan sudi untuk datang ke rumahnya.
"Sayang, ini ada Pak Tirta pengen jenguk baby kembar," ujar Johan pada sang istri.
Arum bangkit dari posisinya untuk bersalaman dengan pria paruh baya itu.
"Terima kasih, Pak Tirta sudah repot-repot datang ke sini. Kami juga minta maaf karena kami tidak bisa datang ke acara pemakaman Fitri." Arum mengucapkan bela sungkawa yang hany dibalas lelaki itu dengan sebuah senyum tipis namun penuh arti.
"Tidak apa-apa, ini saya ada hadiah kecil untuk kedua bayi kalian. Semoga kalian suka." Tirta meletakan beberapa paper bag yang ia bawa ke atas meja.
"Terima kasih, Pak. Mari silakan duduk." Arum mempersilahkan tamunya tersebut. Namun, Tirta sama sekali tak bergerak. Karena lelaki itu memang tak berniat untuk berlama-lama di sana.
"Maaf, saya sedang buru-buru tadi. Saya hanya mampir karena kebetulan lewat sini. Kalau tidak, pasti sampai tahun depan juga saya tidak akan bisa mengunjungi bayi kalian," ucap lelaki paruh baya itu kemudian pamit untuk kembali pulang.
Johan segera mengantarkan lelaki paruh baya itu menuju ke depan pintu dan kembali masuk setelah mobil Tirta menjauh dari rumahnya. Lelaki itu segera menghampiri sang istri yang tengah duduk mematung di sofa sembari memandangi beberapa paper bag yang tertata di atas meja. Arum masih tak habis pikir, kenapa Tirta bisa memberikan hadiah sebanyak ini untuk kedua bayinya. Bukankah harusnya lelaki itu marah kepadanya, karena ia sudah menyebabkan Fitri meninggal secara tidak langsung.
"Sayang, kok kamu ngelamun begitu?" tanya Johan pada sang istri.
Arum mendongak, menatap manik mata sang suami, "Mas, kok aneh ya. Pak Tirta sampai bawa hadiah sebanyak ini loh untuk anak-anak. Bukankah seharusnya dia marah karena Fitri meninggal setelah kita masukkan ke rumah sakit jiwa."
__ADS_1
"Mungkin karena dia juga merasa bersalah, Fitri sudah mengacaukan kebahagiaan kita. Makanya dia kasih hadiah sebanyak ini. Sudahlah, jangan mikir yang macam-macam lagi. Lebih baik sekarang kamu mandi, biar aku jagain si kembar dulu sama Bi Marni," titah Johan pada sang istri.
Arum mengangguk, wanita itu melenggang masuk menuju kamarnya untuk membersihkan diri.