Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 33


__ADS_3

Johan mengacak rambutnya kasar, entah masalah apa lagi yang akan datang kali ini. Apakah ini yang dinamakan ujian pernikahan untuk mereka berdua. Tapi baru kemarin keduanya menikah, kenapa ada saja cobaanya. Mulai dari malam pertama yang gagal, Fitri yang tiba-tiba datang mengaku sebagai kekasihnya. Lalu, sekarang siapa lagi wanita yang mencari dirinya?


"Kenapa hari ini sepertinya kamu dicariin oleh banyak wanita ya, Mas," celetuk Arum yang langsung berjalan keluar dari ruangan. Johan tak bisa menjawab pertanyaan itu, hanya memilih pasrah mengekori langkah sang istri untuk melihat siapa wanita yang mencari dirinya.


Betapa terkejutnya Arum kala melihat seorang wanita yang tengah duduk di salah satu kursi sembari menebar senyum ke arah pasangan penganti baru itu.


"ALINE?" ucap Arum dan Johan secara serempak, keduanya langsung menghenyak di dekat wanita itu.


"Duh, pengantin baru kompak banget sih. Maaf ya ganggu, aku cari ke rumah tadi. Tapi kata Bi Marni kalian lagi ke caffe. Masa baru nikah kemarin udah langsung kerja aja sih, bulan madu dulu kenapa?" cicit Aline menggoda kedua sahabatnya.


"Bulan madunya ditunda, orang malam pertama aja gagal gara-gara dia mendadak datang bulan," balas Johan tanpa rasa canggung.


"Dih, jadi sampai sekarang kamu masih perjaka, Jo?"ejek Aline kemudian tertawa bersama Arum.


"Seneng ya kalian berdua," geram Johan melihat tingkah dua wanita di hadapanya.


Arum menghentikan tawanya karena kasihan pada yang suami yang mukanya sudah memerah karena menahan malu sekaligus kesal. Wanita itu jadi teringat pada tujuan Aline mencari mereka ke caffe.


"Oh ya, Aline? Tadi ada apa kamu nyariin kita?" tanya Arum pada wanita cantik yang masih berusaha meredakan tawanya.


"Ini." Aline meletakkan sebuah paperbag ke atas meja.


Arum dan Johan menautkan alis membaca tulisan yang tertera di sana.


"ALINE CAKE'S?"

__ADS_1


"Kamu buka toko kue?" Arum menatap ke arah sahabatnya dengan wajah bingung.


"Iya, tapi masih via online. Made by order aja, dan ini aku buat khusus buat kalian," jelas Aline dengan wajah yang nampaknya begitu bahagia.


Aline sekarang memang mukai membuka toko kue online dan hanya melayani pesanan yang masuk satu hari sebelumnya. Selain untuk mengisi kesibukan juga karena Aline berencana untuk meminta pisah dari Arka sehingga mulai sekarang ia harus bisa menghasilkan uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Entah mengapa ia seperti tak lagi memiliki rasa cinta untuk sang suami. Selain karena peristiwa keguguran waktu itu, sikap Bu Kanti yang masih belum berubah juga membuat Aline merasa semakin yakin untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Aku mau cobain langsung deh ini kuenya." Arum berjalan ke pantry untuk mengambil tiga piring kecil dan meminta salah satu karyawanya membuatkan minuman untuk mereka bertiga.


Wanita itu memotong kue pemberian Aline dan memberikanya untuk Johan serta sahabatnya.


"Aku disuruh nyoba juga nih? Padahal aku sendiri yang udah ngasih kuenya," celetuk Aline sembari menerima piring kue yang diukurkan oleh Arum.


Arum mulai mengunyah red velved cake pemberian sahabatnya.


Pertanyaan Arum membuat wanita itu terdiam sejenak dan menghentikan aktivitasnya mengunyah. Haruskah Aline menceritakan semuanya pada Arum, tapi di satu sisi, Aline juga tak mungkin selamanya menyimpan ini semua seorang diri. Ia juga butuh teman untuk bercerita yang mungkin juga bisa memberikannya sebuah solusi atas semua masalah yang tengah ia hadapi saat ini. Aline menarik napasnya dalam kemudian menghembuskanya perlahan. Arum dan Johan bisa melihat jelas raut kesedihan yang berusaha disembunyikan oleh wanita itu.


"A- aku ingin berpisah dari Arka." Mata kedua sejoli itu membulat sempurna mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Aline.


Ada apa sebenarnya, dulu Aline yang merebut Arka dari Arum. Tapi, sekarang dia bilang ingin berpisah. Apakah Aline juga mengalami apa yang dulu dirasakan oleh Arum. Berbagai pertanyaan muncul di benak Arum dan Johan.


"Memangnya kenapa, Aline? Bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja, bukankah Arka sekarang juga sudah benar-benar berubah menjadi lelaki yang baik dan memprioritaskan kamu di atas segalanya?" Johan berusaha memancing agar Aline mau bercerita.


"Aku tidak bisa berdamai dengan masa lalu Arka."

__ADS_1


Lagi-lagi wanita itu memberikan jawaban yang terdengar ambigu di telinga Arum. Tidak bisa berdamai dengan masa lalu Arka? Apa yang dimaksud Aline adalah dirinya. Tapi kenapa? Arum saja sama sekali tak menjalin komunikasi dengan mantan suaminya itu. Arum tak tahan lagi untuk menanyakan semuanya pada wanita yang berstatus sebagai sahabatnya itu.


"Tunggu Aline? Tidak bisa berdamai dengan masa lalu Arka? Apa maksud kamu itu aku?" Kedua alis Arum saling bertaut, menatap Aline dengan pandangan penuh selidik. Sedangkan Aline malah terkekeh geli mendengar pertanyaan dari sahabatnya.


"Ya ampun, Arum. Tentu saja bukan, tapi masa lalu yang lain."


"Apa Arka punya selingkuhan lain?" tebak Johan yang juga tak kalah penasaran.


Aline menghela napas panjang mendengar tebakan-tebakan konyol yang dilontarkan oleh kedua sahabatnya.


"Bukan, Arka hanya pernah berselingkuh denganku," ucap Aline kemudian tersenyum kecut.


"TERUS?" todong Johan dan Arum bersamaan.


"Setelah keguguran waktu itu, perasaanku pada Arka seolah lenyap begitu saja. Bahkan, sampai sekarang, aku sama sekali tak bisa membiarkan Arka untuk menyentuhku. Hubungan ini rasanya hambar, dan aku yakin kalau Arka itu lelaki normal yang butuh kasih sayang dari istrinya. Jadi aku memutuskan untuk secepatnya meminta berpisah dari dia," jelas Aline pada akhirnya.


Arum membekap mulutnya sendiri yang menganga setelah mendengar cerita dari sahabatnya. Ternyata tebakannya selama ini tak salah, hubungan Aline dan Arka tidak baik-baik saja. Bahkan, bisa dibilang sudah berada di ujung tanduk.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Aline? Apa semuanya tidak bisa diperbaiki lagi?" tanya Arum meyakinkan keputusan sahabatnya.


"Ya Arum, apalagi kamu tahu kan bagaimana watak mantan ibu mertuamu. Meskipun tidak separah dulu tapi mulutnya benar-benar toxic dan bikin mentalku down setiap hari," tambah Aline yang diangguki oleh sahabatnya.


Memang benar, masalah terbesar dalam rumah tangga mereka hanya Bu Kanti. Meski tak lagi bisa bergaya sosialita seperti dulu karena uang jatahnya yang sudah dipangkas oleh Arka. Namun, wataknya tak berubah. Mulutnya selalu pedas dan membuat sang menantu sakit hati.


"Ya sudah, apapun keputusan kamu. Semoga itu adalah yang terbaik," pungkas Johan yang tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain.

__ADS_1


Puk!


Pundak Aline ditepuk oleh seseorang hingga membuat wanita cantik itu menoleh. Alisnya saling betaut kala mendapati Arka yang sudah berdiri di belakangnya. Entah sejak kapan lelaki itu berdiri di sana.


__ADS_2