
Johan segera bergegas membukakan pintu untuk tamunya. Senyum langsung mengembang di bibir Johan kala melihat Aline dan Arka yang tengah berdiri di depan pintu dengan sebuah senyuman tulus.
"Untung ada tamu, nggak jadi kena semprot istri ini," batin Johan kemudian tersenyum.
"Hai, Aline, Arka ayo masuk," ucap lelaki itu mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
Aline langsung menghampiri sahabatnya dan memeluk tubuh wanita muda itu. Dahi Aline mengernyit kala melihat wajah cemberut Arum yang tak seperti biasanya. Kali ini Arum tak banyak bicara, bahkan tak menyapa Aline dan Arka sama sekali. Entahlah, rasanya Arum masih sangat kesal dengan tingkah sang suami yang meminta singkong goreng miliknya barusan sampai sang sahabat harus ikut terkena imbasnya.
"Arum, kenapa kamu cemberut begitu? Ada masalah?" tanya Aline yang melihat sikap Arum tak seperti biasa.
Bukannya menjawab, Arum malah menangis kencang sembari memeluk tubuh Aline. Johan hanya bisa menepuk jidat melihat tingkah konyol sang istri.
"Lho, kok malah nangis? Johan, ini Arum kamu apain sampai menangis begini?" Mata Aline memincing menatap suami sahabatnya itu.
"Mas Johan jahat, masa dia nggak ikhlas nyabutin singkong buat aku. Malah mau minta singkong goreng punyaku segala lagi," oceh Arum membuat sang sahabat membulatkan matanya dengan sempurna.
"Singkong? Johan nyabut singkong?" Aline memastikan ucapan sahabatnya barusan, sedangkan Johan hanya bisa mendengus kesal karena merasa terpojokan.
"Jadi Arum tadi itu ngidam minta singkong goreng yang singkongnya harus aku cabutin langsung dari pohon yang ada di halaman belakang. Nah sekarang dia marah, karena aku juga pengen nyicip singkong gorengnya."
Penjelasan Johan membuat pasangan suami istri itu saling pandang. Arka tak menyangka jika saat ini mantan istrinya itu tengah hamil.
"Arum, kamu beneran hamil? Kamu mau jadi ibu?" cecar Aline sembari menangkup kedua pipi sahabatnya itu, Arum mengangguk untuk mengiyakan hal itu.
__ADS_1
"Iya, tapi aku juga belum tahu udah berapa minggu. Karena baru tes tadi pagi," jelas Arum dengan wajah berbinar.
Arka hanya diam tak menanggapi. Sedikit perih terasa di sudut hatinya. Andai anak yang sedang dikandung oleh Arum itu adalah anaknya. Namun, Arka buru-buru menepis pikiran konyolnya itu kala meliha senyum sang istri. Wanita yang kini mendampinginya meski hanya dalam status pernikahan siri.
"Semoga Aline juga bisa cepat hamil seperti Arum ya, biar kalian bisa momong bayi bareng-bareng," harap Arka diiringi satu senyuman tipis.
Aline hanya tersenyum canggung mendengar kalimat yang diucapkan oleh sang suami. Sebagai wanita normal, tebtu saja Aline juga ingin secepatnya mengandung. Namun, sepertinya Tuhan belum memberikan kepercayaan itu lagi untuknya.
"Semoga Tuhan juga segera memberi kepercayaan lagi untuk kita ya, Mas," ucap Aline membesarkan hati sang suami.
Pasangan suami istri itu memutuskan untuk segera pamit karena Johan akan pergi untuk mengantarkan Arum periksa kandungan. Seperti biasa, Johan dan Arum mengantarkan sahabatnya itu sampai ke depan pintu kemudian kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang mereka tumpangi mulai menjauh.
"Ayo sayang, kita ke dokter sekarang," ajak Johan setelah mobil Arka keluar dari gerbang rumahnya.
"Ya aku ganti baju dulu dong, Mas. Masa aku harus pakai daster begini, nanti disangka nggak diurus lagi sama kamu," ketus Arum yang hendak berjalan menaiki anak tangga, namun tangannya terlebih dahulu dicekal oleh sang suami.
"Aku sudah minta Bi Marni untuk pindahin baju-baju kita ke kamar bawah. Biar kamu nggak capek naik turun tangga," ucap Johan setelah menurunkan tubuh sang istri.
"Mas, kamu nggak perlu berlebihan begini dong. Aku ini hanya hamil, bukan orang sakit," balas Arum yang tak ingin merepotkan sang suami karena menyadari jika keinginan ngidamnya saja sudah cukup merepotkan.
"Kamu memang bukan sakit, tapi naik turun tangga itu cukup berbahaya untuk kehamilan trimester pertama. Sekarang kamu siap-siap dulu biar aku tungguin," titah Johan, Arum mengangguk dan segera mengganti bajunya. Tak lupa memoles sedikit make up di wajah cantik alami miliknya.
Sepuluh menit kemudian, Arum telah siap. Seperti sebelumnya, Johan tetap memaksa untuk menggendong tubuh sang istri. Akhirnya Arum memilih untuk pasrah menikmati perlakuan sang suami yang menjadikannya seperti seorang ratu.
__ADS_1
Mobil mulai melaju, menuju ke sebuah rumah sakit. Senyum terus tersungging di bibir pria muda itu, sesekali tanganya mengelus perut rata milik sang istri. Sementara Arum hanya bisa menikmati kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, berharap Tuhan tak akan pernah mengambil kebahagiaan yang ia milikki.
Mobil yang dikemudikan oleh Johan telah tiba di rumah sakit. Pasangan suami istri itu langsung menuju ke poli kandungan, menunggu beberapa saat sebelum nama Arum dipanggil.
"Ibu Arum Anindira, silahkan masuk," panggil seorang perawat.
Johan segera menuntun tangan sang istri untuk masuk ke ruang praktek di mana seorang dokter perempuan yang masih muda langsung menyambut mereka berdua. Dahi Johan mengernyit kala melihat dokter berhijab tersebut, karena wajahnya seperti tak asing untuk Johan.
"Lho, Mas Johan. Kamu Mas Johan kan?" ucap dokter tersebut memastikan jika pengelihatannya tidaklah salah.
"Mi- Miranda?" tebak Johan dengan ragu, sedangkan Arum hanya diam. Memandang kedua orang di hadapannya secara bergantian.
"Nah iya, masih inget kan. Aku Miranda anaknya Pak Firman yang kemarin meeting sama kamu," ujar dokter tersebut membuat Johan langsung mengingat jika ia adalah putri dari salah satu rekan kerjanya
"Oh iya, saya baru ingat. Kenalkan Dok, ini istri saya namanya Arum. Sayang, kenalkan. Dokter Miranda ini adalah anak teman bisnis aku." Johan memperkenalkan dua wanita itu.
Arum mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Miranda dengan sebuah senyuman.
"Mbak Arum, silahkan naik ke atas bed ya," titah Miranda, Arum menurut hendak naik ke atas bed. Namun, perkataan Miranda membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
"Mas Johan, istrinya dibantuin dong. Jadi suami itu harus siaga. Suami saya juga begitu meskipun saya ini dokter kandungan, tapi dia tetap siaga saat saya hamil." Sebuah nasihat dari Dokter Miranda membuat Arum yang tadinya sempat merasa cemburu langsung menyunggingkan senyuman karena ternyata wanita berhijab itu telah bersuami.
Johan segera membantu sang istri untuk naik ke atas ranjang pasien, sedangkan seorang perawat membantu mengoleskan sebuah gel ke atas perut rata milik Arum. Dokter Miranda mulai menggerak-gerakkan alat USG di atas perut Arum, dahinya yang mengernyit berhasil mengundang perhatian Johan dan sukses membuat lelaki itu merasa khawatir.
__ADS_1
"Gimana keadaan kandungan istri saya, Dok? Baik-baik saja kan?" tanya Johan pada dokter itu.
Dokter Miranda terdiam sejenak, manatap ke arah Johan kemudian kembali beralih ke layar monitornya.