
Pandangan mata Johan kini telah tertuju pada Arka, menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu.
"Mau bicara apa, Arka? Kelihatannya penting sekali?" tanya Johan dengan sebelah alis yang ia naikkan.
Arka merangkul bahu lelaki itu untuk menuju sebuah sofa yang berada di ruang keluarga, "Kita bicara di sini saja."
Johan mengangguk, menunggu Arka untuk memulai pembicaraan serius mereka.
"Jo, apa kamu tahu kalau aku yang memegang perusahaan dan juga Cafe milikmu selama kamu koma?" tanya Arka pada sahabatnya itu, Johan mengangguk mengiyakan. Tentu saja ia tahu karena Arum telah menceritakan semua kepadanya.
"Iya aku tahu, dan aku juga sudah memeriksa semua laporan keuangan. Selama kamu memegang perusahaan dan Cafe itu juga terjadi peningkatan pemasukan. Kerja kamu bagus, ada apa memangnya?" Arka tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Sekarang kan kamu sudah sadar, dan aku yakin kamu sudah bisa kembali memegang kendali atas semua usaha-usahamu itu. Apakah aku harus resign dari pekerjaanku sekarang?" Arka menanyakan hal yang selama beberapa hari ini mengganggu pikirannya.
Johan nampak berpikir sejenak, menatap wajah lelaki di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan hingga membuat Arka menjadi salah tingkah. Lelaki itu berpikir, mungkin Johan akan memilih untuk memecatnya dan kembali mengambil alih atas semua usahanya.
"Tiak Arka, justru aku ingin kamu melanjutkan pekerjaan itu," cetus Johan kemudian.
"Maksudmu? Apa kamu nggak mau kembali memegang kendali atas perusahaanmu?" Arka belum sepenuhnya percaya dengan ucapan lelaki tampan berwajah oriental itu.
Johan tersenyum, "Kamu lihat sendiri bukan, sekarang aku punya dua bayi kembar. Jadi, aku rasa lebih baik aku membantu Arum untuk mengurusi anak-anakku. Hanya sesekali aku akan mengontrol laporan keuangan, selebihnya aku serahkan semuanya padamu. Aku percaya padamu, Arka."
"Kami serius, Jo?" Arka menaikkan sebelah alis, memastikan jika Johan tidak main-main dengan ucapannya kali ini.
Johan menepuk sebelah pundak Aka dengan cukup keras hingga membuat lelaki utu sedikit meringis, "Hei, apa aku pernah bercanda soal pekerjaan? Tentu saja aku serius, aku benar-benar ingin kamu tetap memegang kendali atas semuanya."
__ADS_1
"Lalu, kamu ingin menjadi pengangguran?" cibir Arka seraya tersenyum miring, membuat Johan terkekeh mendengar candaan dari lelaki itu.
"Siapa bilang aku akan jadi pengangguran? Tentu saja aku punya pekerjaan, membantu istriku untuk mengurus anak-anak dan menjadi seorang hot daddy." Tawa keduanya pecah ke seluruh penjuru ruangan hingga membuat Aline dan Bu Kanti keluar dari kamar.
"Ya ampun, kalian berdua ini berisik sekali! Kalau si kembar bangun bagaimana?" tegur Aline pada kedua lelaki itu, seketika Arka dan Johan membekap mulut mereka masing-masing. Berusaha menghentikan tawa besar itu dengan susah payah.
"Memangnya si kembar tidur lagi?" tanya Johan setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Iya, kan mereka habis minum ASI. Jadi kenyang terus tidur lagi," jawab Aline.
"Kok mereka tidur terus sih? Memangnya mereka tidak ingin bermain bersama kita," celetuk Arka membuat Bu Kanti menghembuskan nafas kasarnya.
"Arka, mana ada bayi belum genap empat puluh hari disuruh bermain? Tentu saja pekerjaan mereka hanya minum ASI dan tidur," jelas Bu Kanti pada putranya.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang aja ya. Biar mereka juga bisa istirahat," ajak Arka pada kedua wanitanya yang langsung mengangguk setuju.
"Mereka baru aja tidur, Mas. Jangan kamu gangguin dong, aku juga pengen istirahat," rengek Arum, berusaha menghentikan ulah jahil sang suami.
Johan tersenyum kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang, "Iya, iya maaf. Habisnya Mereka terlihat lucu sekali saat tertidur seperti itu. Mana pipinya gemoy banget lagi."
Johan merengkuh tubuh sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya, menikmati setiap detik kebahagiaan yang mereka miliki saat ini. Berharap Tuhan tak pernah mengambil semuanya. Begitu juga dengan Arum, wanita itu mulai memejamkan mata dengan berbantalkan lengan kekar milik sang suami. Keduanya hanyut ke dalam alam mimpi, mengistirahatkan badan dan pikiran yang begitu lelah setelah menghadapi berbagai masalah selama beberapa bulan ini.
Hari telah beranjak sore Arum dan Johan dibangunkan oleh suara tangisan dua malaikat kecil mereka. Dengan sigap, Johan mengambil baby Zio dan memberikannya kepada Arum untuk diberikan ASI.
"Sama Zia sekalian aja, Mas. Biar mereka nyusunya barengan," pinta Arum pada sang suami.
__ADS_1
"Satu-satu saja, Sayang. Biar kamu nggak capek, Zia biar aku gendong dulu. Nanti mimiknya gantian sama kakak Zio."
Wanita itu mengangguk menyetujui ucapan sang suami, setelah tiga puluh menit menyusu. Akhirnya baby Zio kembali terlelap, dan kini giliran Johan menyerahkan baby Zia pada Arum dan meletakkan kembali baby Zio ke dalam box bayi. Lelaki itu dengan setia menunggu sampai Zia selesai menyusu. Lalu, meletakkan bayi perempuannya kembali ke dalam box bersama Zio.
"Nah, mereka kan sekarang sudah menyusui dan lagi tidur. Kamu mau mandi dulu nggak?" tawar Johan pada sang istri.
"Boleh deh, Mas. Aku mandi dulu, nanti kalau mereka bangun lagi biar dimandiin sama Bi Marni."
"Ya sudah, kamu mandi sana. Biar aku yang jagain anak-anak." Arum memgangguk dan mengayun langkah kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian, wanita itu keluar dengan tampilan yang lebih segar bersamaan dengan Bi Marni yang masuk ke dalam kamar mereka.
"Non, Bibi mau mandiin si kembar dulu ya." Bi Marni meminta izin pada Arum yangvsedang menyisir rambutnya di depan cermin.
Wanita itu menoleh dan mengulas sebuah senyuman, "Iya, Bi. Kebetulan saya juga baru selesai mandi."
Johan beranjak dari posisinya, mendekati Bi Marni, hendak membantu wanita paruh baya itu untuk memandikan kedua bayinya.
"Biar saya bantuin ya, Bi?" ucap Johan yang sydah berdiri di belakang Bi Marni.
"Memangnya Mas Johan bisa?" Wanita itu terlihat tak yakin dengan keinginan Johan.
"Ya harus bisa dong, Bi. Kan saya ayahnya mereka."
Bi Marni ersenyum dan mulai mengajarkan Johan untuk memandikan kedua bayi mungil itu. Sedangkan Arum memilih untuk menghenyak kembali di atas ranjang empuknya, menyaksikan pemandangan indah di mana Johan terlihat begitu telaten memandikan bayi mereka. Rasa Bahagia kembali membuncah di dada Arum, wanita itu merasa begitu beruntung memiliki seorang suami yang begitu mencintai dirinya dan juga begitu menyayangi anak-anaknya. Bahkan, ia tak pernah segan untuk membantunya mengurusi bayi-bayi kecil itu.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan, Kau telah memberikan kebahagiaan yang sempurna untukku. Aku mohon jaga selalu kebahagiaan ini agar tetap menaungi keluarga kecilku," harap Arum dalam hati.