Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 67


__ADS_3

Arum baru saja hendak memejamkan mata setelah selesai menyusui dan mengganti diapers kedua bayi kembarnya. Namun, mata wanita itu kembali terbuka kala mendengar suara derap langkah kaki yang berjalan mengelilingi area rumahnya. Arum segera bangkit dari ranjang, wanita itu berjalan menuju ke arah jendela. Sekelebat terlihat bayangan yang berlari menjauh dari kamarnya. Karena rasa penasaran, wanita itu memutuskan untuk keluar dari kamar. Dan benar saja, terlihat bayangan seseorang yang semakin menjauh dari pintu rumahnya. Bahkan, wanita itu mendengar suara pagar yang dibuka kemudian ditutup kembali.


"Siapa yang malam-malam begini datang ke rumah ini," gumam Arum kemudian memutar badannya untuk kembali ke kamar.


Wanita itu menghenyak di samping sang suami, berniat untuk membangunkan Johan dan menceritakan apa yang baru saja ia alami.


"Mas, bangun, Mas," panggil Arum seraya menggoyangkan bahu sang suami. Johan yang merasa tidurnya terusik, mulai membuka mata. Lelaki itu mengucek kedua matanya untuk mengusir rasa kantuk yang begitu luar biasa mendera.


"Sayang, kok kamu belum tidur.? Kenapa? Apa baby kembarnya rewel?" tanya Johan pada sang istri. Arum menggelengkan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan sang suami.


"Mas, aku barusan lihat ada seseorang yang datang ke rumah ini. Bahkan, aku dengar dia membuka pagar lalu menutupnya lagi." Arum mulai menceritakan apa yang baru saja ia alami.


"Memangnya siapa yang datang ke rumah kita tengah malam begini, Sayang?" Johan merasa tak masuk akal dengan semua cerita Arum.


"Aku nggak bohong, Mas. Aku beneran lihat, bahkan ada bayangan yang ngintip ke kamar kita dan dia buru-buru pergi setelah aku keluar," ungkap Arum.


"Sudahlah, Sayang. Mungkin kamu cuma salah lihat, ini sudah tengah malam. Sekarang lebih baik kamu tidur ya." Tangan Johan terulur untuk membelai puncak kepala sang istri.

__ADS_1


"Jadi kamu nggak percaya sama aku, Mas? Ya udahlah, percuma juga aku cerita sama kamu!" Arum segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, wanita itu memilih untuk membelakangi sang suami karena kesal dengan sikap Johan yang tak pernah mau percaya dengan semua kata-katanya.


Sementara itu, Johan hanya terdiam. Kambali merebahkan tubuhnya, namun lelaki itu tak bisa kembali terlelap. Matanya nanar menatap ke arah langit-langit kamar. Apakah benar yang dikatakan Arum barusan, Jika benar berarti memang ada orang jahat yang ingin melakukan hal buruk pada keluarga mereka. Lelaki itu memutar otak, bagaimana menangkap basah si peneror. Hingga terlintas satu ide yang akan ia sampaikan pada Arum besok pagi. Susah payah Johan memejamkan matanya hingga berhasil tenggelam ke alam mimpi.


******


Pagi telah kembali berkunjung bersama sinar mentari yang menggeser pekatnya gulita malam. Namun, terangnya cahaya mentari itu tak mampu menghapus rasa gelisah di dada Arum. Apalagi setelah melihat sikap Johan semalam, membuat rasa kesal semakin membuncah di hati wanita itu. Arum memutuskan untuk membersihkan diri kemudian berjalan keluar dari kamarnya, tanpa membangunkan sang suami seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi.


Wanita itu hanya ingin meminta Bi Marni untuk memandikan kedua bayi kembarnya. Perlahan, Arum mulai mengayunkan langkah kakinya, mendekati wanita paruh baya yang baru saja selesai memasak untuk sarapan mereka.


"Tolong bantu saya mandiin si kembar ya, Bi. Saya lelah banget, semalam nggak bisa tidur," keluh Arum pada wanita paruh baya itu.


"Non, apakah Non Arum jarang bisa tidur kalau malam?" tanya Bi Marni dengan hati-hati.


Arum mendengus kemudian menghenyak di salah satu kursi yang berada di meja makan itu.


"Kan saya harus menyusui si kembar, Bi. Ganti diapers juga kalau malam, jadi saya suka kebangun tengah malam. Makanya jadi muncul mata panda begini," ucap Arum tanpa menjelaskan alasan yang sebenarnya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu tak bisa langsung mempercayai cerita Arum begitu saja, karena ia tahu jika Johan selalu membantu wanita itu setiap malam untuk mengurusi kedua bayi kembarnya. Namun, mengapa wajah Arum terlihat begitu murung dan lelah. Berbagai tanda tanya muncul di benak Bi Marni, hingga pada akhirnya wanita paruh baya itu memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Arum.


"Non, apakah Non Arum lagi banyak pikiran? Bibi tahu kalau Non Arum nggak bisa tidur bukan hanya karena sibuk menyusui si kembar kan," tebak Bi Marni dengan hati-hati.


Arum terdiam sejenak, hingga akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Bi Marni.


"Bi, sebenarnya setiap malam aku sering melihat ada bayangan seseorang yang datang ke rumah kita secara diam-diam. Bahkan, semalam Arum sempat melihat dia keluar masuk pintu gerbang rumah kita," cerita Arum pada akhirnya.


Mata Bi Marni ikut membola setelah mendengar cerita dari majikannya. Tanpa Arum ketahui, wanita paruh baya itu juga mengalami hal yang sama selama beberapa hari ini.


"Non, apa yang Non alami itu sama seperti yang Bibi alami semalam. Bibi juga dengar ada langkah kaki yang mengelilingi rumah kita, dan Bibi juga mendengar suara pintu pagar yang dibuka dan ditutup kembali.


Deg!


Dada Arum berdetak tak karuan mendengar cerita dari Bi Marni. Jika wanita paruh baya itu juga mengalami hal yang sama, berarti memang benar ada orang yang diam-diam datang ke rumahnya. Dan apa yang dialami Arum beberapa hari ini bukan sekedar halusinasi semata. Johan harus tahu semua ini.


"Sekarang Bibi tolong pergi ke kamar saya dulu ya, mandiin si kembar. Setelah itu Bibi ceritain semua yang Bibi alami kepada Mas Johan, karena Mas Johan sama sekali nggak percaya dengan cerita aku, Bi. Dia pikir aku hanya berhalusinasi saja," pinta Arum pada asisten rumah tangganya itu.

__ADS_1


"Iya Non, saya akan ceritakan semuanya sama Mas Johan agar Mas Johan juga bisa mengambil langkah yang harus dilakukan kepada orang misterius itu. Bibi takut orang itu akan melakukan hal yang buruk terhadap keluarga ini. Bibi tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu terulang lagi," balas Bi Marni dengan wajah sendu.


Ada sebersit kekhawatiran di hati wanita paruh baya itu. Sedangkan Arum hanya diam, memikirkan siapa lagi orang yang tega meneror keluarganya setelah Fitri meninggal. Wanita itu tak lagi mempunyai musuh. Namun, entah dengan Johan, sepertinya Arum harus menanyakan hal itu pada sang suami. Bisa saja Johan memiliki saingan bisnis yang iri kepadanya dan ingin menghancurkan bisnis serta kebahagiaan keluarga mereka. Arum tak akan pernah rela jika hal itu sampai terjadi.


__ADS_2