
Arum hanya bisa nyengir, memamerkan deretan giginya yang rapi untuk menjawab pertanyaan Bi Marni. Tentu saja wanita paruh baya itu langsung mengerti apa maksud dari senyuman lebar Arum itu. Bi Marni langsung terduduk lemas di kursi sembari memijat keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut, wanita itu menatap nanar ke arah Arum yang tengah menggaruk bagian belakang kepala yang sebenarnya sama sekali tak merasa gatal. Arum juga merasa bersalah karena saat ini pasti wanita paruh baya itu tengah merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Apalagi sekarang Arum tengah hamil.
Sementara Johan hanya bisa menatap kedua wanita beda generasi itu secara bergantian dengan pandangan bingung. Tak mengerti mengapa Bi Marni bisa terlihat sepanik itu setelah tahu kalau Arum baru saja memakan mangga muda.
"Non Arum itu lagi hamil lho. Memang sih, wanita hamil itu paling suka makan mangga muda. Tapi kan, Non Arum tahu kalau Non makan mangga muda nanti perutnya jadi begah dan sakit. Belum lagi muntah-minyahnya seharuan penuh. Kasihan kan bayi yang ada di dalam kandungan Non Arum," ucap di Marni kemudian.
Johan semakin bingung dibuatnya, apa maksudnya semua ini? Apakah istrinya akan mengalami sakit perut yang parah setelah memakan mangga muda itu. Berbagai pertanyaan muncul di benak lelaki itu hingga tak bisa ditahan lagi untuk tak menanyakannya secara langsung.
"Tunggu Bi, ini maksudnya apa? Arum nggak boleh makan mangga muda gitu? Atau Arum punya alergi sama mangga muda?" tanya Johan untuk menjawab rasa penasarannya.
Bi Marni mendesah kasar menatap kedua pasangan itu secara bergantian.
"Iya Mas, Non Arum itu nggak bisa makan mangga muda. Karena setelah makan mangga muda pasti perutnya nanti bakalan kembung dan muntah-muntah. Nggak bisa makan sampai seharian."
"Ya terus gimana dong, Bi? Dia udah terlanjur makan lagi, mana udah hampir habis satu buah tadi," panik Johan setelah mendengar penjelasan dari asisten rumah tangganya. Andai ia tahu semua itu lebih awal, pasti lelaki itu tak akan mengizinkan Arum meminta mangga muda.
"Ya sudah, Mas. Mau gimana lagi. Kita berdoa saja semoga dengan adanya bayi di kandungan Non Arum, bisa jadi penawar biar Bundanya nggak sakit perut setelah makan mangga muda tadi," suara Bi Marni terdengar pasrah karena semuanya sudah terlanjur dan hanya bisa menunggu bagaimana reaksi perut Arum beberapa saat ke depan.
"Eh Bi, tapi ini perutku Nggak sakit loh. Biasanya kan aku habis makan langsung mules-mules sama mual gitu ya, tapi ini nggak kok. Sepertinya akubaik-baik saja," celetuk Arum yang memang tak merasakan apapun pada perutnya.
__ADS_1
"Ya udah. Alhamdulillah kalau gitu, karena kalau sampai Non arum nggak bisa makan kasihan dedek bayinya di dalam perut. Terus bagaimana hasil pemeriksaan dokter kandungan tadi, Non?" tanya Bi Marni yang kembali antusias karena melihat Arum baik-baik saja. Wanita itu sedari tadi menunggu kedatangan kedua majikannya karena ingin segera mengetahui kondisi kehamilan Arum.
Johan tersenyum menatap Arum kemudian beralih menatap ke arah Bi Marni. Lelaki itu berniat untuk membuat wanita paruh baya itu semakin penasaran dengan tak langsung memberitahunya.
"Bibi mau tahu aja, apa mau tahu banget nih?" goda lelaki muda itu pada ART-nya.
"Walah ya mau tahu banget toh mas, Bibi kan juga pengen ngerasain gendong Non Arum junior. Sudah nungguin kalian pulang dari tadi."
Arum terkekeh mendengar ucapan dari wanita paruh baya itu, bukan hanya akan menggendong Arum junior. Tapi, sepertinya Bi Marni juga akan menggendong Johan Junior karena Arum diperkirakan tengah mengandung bayi kembar.
"Bibi tenang aja, bukan cuma dapat Arum junior tapi nanti mungkin Bibi juga bisa menggendong Johan junior," balas Johan dengan sebuah senyum penuh arti.
Wanita itu menatap bingung ke arah kedua majikannya. Apa yang dimaksud dengan Arum junior dan Johan junior.
"Kok malah ngelamun sih, Bi? Memangnya Bibi nggak mau tahu kelanjutan ceritanya?" Arum menaik-turunkan kedua alisnya untuk menggoda wanita yang sudah ia anggap seperti Ibu kandungnya sendiri.
"Ya mau dong, kan Bibi udah penasaran banget. Nungguin dari tadi tapi malah digodain terus sama Mas Johan dan Non Arum, tega sekali sama orang tua," protes wanita paruh baya itu pura-pura merajuk.
"Ya ampun, Bi. Jangan cemberut gitu dong, nanti cantiknya hilang gimana," Arum terus menggoda Bi Marni hingga wajah yang mulai keriput itu berubah menjadi sedikit masam.
__ADS_1
"Ya memang sudah nggak nantik lagi, Non. Bibi ini udah tua kok," ucap wanita paruh baya itu kemudian pura-pura merajuk dengan memunggungi kedua majikannya.
"Ya udah, biar Johan aja yang ngasih tahu." Johan sengaja menjeda sejenak kalimatnya agar ART-nya itu menoleh.
"Ayo buruan kasih tahu, Mas!" desak Bi Marni yang sudah tak sabar menunggu kabar bahagia dari kedua anak muda itu.
Meskipun Arum hanya majikannya, tapi Bi Marni benar-benar menyayanginya seperti anak kandung karena memang wanita itu tak memiliki anak. Suaminya juga telah lama meninggal, sebelum Arum menikah dengan Arka.
"Jadi, kata dokter tadi. Arum diperkirakan sedang mengandung bayi kembar."
Penjelasan Johan membuat mulut wanita paruh baya itu menganga. Merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bi Marni langsung memeluk erat tubuh majikan wanitanya. Menciumi seluruh wajah Arum dengan penuh kasih sayang, seolah Arum adalah putri kandungnya. Arum juga tak kalah bahagia, wanita muda itu begitu terharu atas perlakuan dari Bi Marni. Meski kedua orang tuanya telah lama meninggal. Namun, Arum tetap mendapatkan limpahan kasih sayang dari Bi Marni.
"Alhamdulillah ya Allah. Lengkap sudah kebahagiaan kalian, Non Arum banyak istirahat ya. Kalau mau cek caffe juga bareng sama Mas Johan aja. Jangan menyetir sendiri." Bulir bening mulai membasahi wajah wanita paruh baya itu, tak mampu menahan rasa haru yang kini menyelimuti hatinya.
"Iya, Bi. Arum akan jaga kandungan Arum baik-baik biar bayinya juga sehat dan gemoy semua," balas Arum sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Johan juga akan jadi suami siaga buat Arum, Bi. Yang selalu menuruti keinginan ngidam istriku tercinta ini," sahut Johan sembari merangkul wanita tercintanya.
Suasana bahagia bercampur haru begitu terasa di kediaman Arum. Wanita muda itu tak pernah menyangka jika kini Tuhan memberikan calon bayi kembar di dalam rahimnya.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Aline sedang menata makan malam untuk sang suami saat merasakan kepalanya yang terasa berdenyut. Wanita itu nyaris jatuh jika sang suami tak datang di waktu yang tepat, beruntung Arka dengan sigap menangkap tubuh wanita itu sebelum terjatuh ke lantai.
"Aline-