Modalin Aku Dong, Mas

Modalin Aku Dong, Mas
Modal 76


__ADS_3

Bu Kanti yang baru saja keluar dari kamar mandi seketika menyunggingkan senyum kalah melihat sang menantu tengah menyusui bayinya dengan ditemani oleh Arum yang duduk di kursi samping ranjang. Wanita paruh baya itu segera mendekat ke arah sepasang sahabat yang tengah berbagi kebahagiaan.


"Wah, cucu eyang sudah mimik ya. Mimik yang banyak ya biar cepat besar ya, Sayang," ujar Bu Kanti seraya mengelus puncak kepala sang bayi. Kemudian, pandangan matanya beralih kepada sosok Arum.


"Arum, kamu sudah dari tadi di sinin Nak?" sapa Bu Kanti pada mantan menantunya. Arum tersenyum, kemudian meraih punggung tangan mantan Ibu mertuanya dan mengecupnya dengan takzim.


"Iya, Bu. Tadi aku datang ke sini sama Mas Johan, sekalian untuk memastikan keadaan Pak Tirta." Jawaban Arum berhasil membuat Bu Kanti menautkan kedua alisnya.


"Kalau Ibu tidak salah, Tirta itu kan ayahnya Fitri. Memangnya dia sakit juga?" Arum menggelengkan kepalanya mendengar lertanyaan yangvdilontarkan oleh mantan ibu mertuanya.


"Tidak, Bu. Dia tidak sakit, tapi dia adalah pelaku teror yang selama ini meresahkan keluarga kamu." Arum menyunggingkan senyum tipis


"Apa? Jadi dia yang sudah meneror kalian dan hampir membahayakan baby kembar? Tapi, apa tujuan dia meneror kalian? Bukankah dia juga tidak menyukai tindakan Fitri yang sudah mengacaukan kehidupan kalian?" Bu Kanti semakin penasaran setelah mendengar cerita dari Arum. Wanita paruh baya itu ingin Arum mencaritakan semua kronologi kejadian peneroran yang telah menimpanya sampai Tirta bisa tertangkap dan sekarang berada di rumah sakit.


"Iya, Bu. Tapi semua berubah setelah Fitri meninggal. Dia dendam karena memganggap kami yang menyebabkan Fitri bunuh diri di rumah sakit jiwa." Arum terus menjawab pertanyaan dari Bu Kanti dengan apa adanya, ia tahu jika mantan ibu mertuanya itu pasti merasa sangat penasaran.


"Ya Tuhan, untung saja dia sudah tertangkap. Semoga dia tidak berbuat macam-macam lagi ya, Nak." Bu Kanti menatap Arum dengan pandangan iba, merasa kasihan dengan semua masalah yang menimpa kehidupan wanita muda itu.


Bayi Aline telah selesai menyusu dan kembali terlelap, bersamaan dengan Arka dan Johan yang juga memasuki ruang rawat tersebut. Wajah Arka langsung berbinar kala melihat sang putra yang sudah keluar dari ruang bayi. Laki-laki itu melangkah lebar untuk mendekati sang istri.


"Wah, anak ganteng sudah mimik ya," ucap Arka yang langsung menghenyakan bobot tubuhnya di sisi ranjang pasien.


"Iya Mas, tadi ada perawat yang nganterin dia ke sini," jawab Aline, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan indah.


Johan ikut mendekat, menghampiri dua pasangan yang tengah merasakan kebahagiaan luar biasa karena hadirnya seorang buah hati yang sangat mereka nantikan.


"Widih, ganteng banget anaknya Pak Arka, hidungnya juga bangir banget lagi. Ngomong-ngomong udah ada namanya belum?" tanya Johan pada kedua sahabatnya.


Arka dan Aline saling melempar pandangan, kemudian kembali menyunggingkan senyum kevahagiaan.

__ADS_1


"Sudah dong, namanya Arshaka Narendra Bumi. Panggilannya Shaka." Arka memberitahukan nama putranya dengan raut kebahagiaan yang tak pernah hilang dari wajah tampan itu. Setelah sekian lama menanti, akhirnya dia bisa merasakan menjadi seorang ayah.


"Nama yang bagus, nanti kalau udah keluar dari rumah sakit main bareng sama baby kembar ya," ucap Arum, seolah sedang mengajak ngobrol bayi yang sebenarnya sama sekali belum mengerti apa-apa.


Arka mengambil alih bayinya dari pangkuan sang istri, kemudian meletakkannya kembali ke dalam box bayi yang ada di samping ranjang. Mereka terus mengobrol sampai hari beranjak siang dan Johan pamit untuk pulang.


"Arka, sepertinya sudah siang. Kita pamit dulu ya," pamit Johan seraya menepuk pelan pindak sahabatnya.


"Kok buru-buru sekali, Nak. Ibu rasanya masih ingin mengobrol dengan kalian, nanti sajalah pulangnya," cegah Bu Kanti yang masih belum rela Kehilangan momen bahagia ini.


"Iya, Bu. Sudah siang, kasihan kalau baby kembar ditinggal terlalu lama. Besok kami akan ke sini lagi." Arum menggenggam lembut jemari mantan ibu mertuanya.


"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan kalau begitu," pesan Bu Kanti pada kedua anak muda itu yang langsung mendapat sebuah anggukan dari Arum dan Johan secara bersamaan.


Seperti biasa, Arka mengantar kedua sahabatnya sampai di depan pintu ruang rawat sang istri kemudian kembali masuk. Lelaki itu melangkah mendekati box bayi, memandangi wajah mungil dan tampan yang begitu mirip dengan dipotret dirinya di masa kecil dulu.


"Kenapa, Mas? Kok kamu lihatin Shka sampai kayak gitu, malah senyum-senyum sendiri lagi. Aneh banget ih," protes Aline kala melihat tingkah absurd sang suami.


"Iya, Aline. Asal kamu tahu juga, suami kamu semalam sampai menangis saking khawatirnya," sahut Bu Kanti yang sedari tadi hanya duduk di kursi samping ranjang sembari menyimak obrolan anak dan menantunya.


"Yang bener, Bu? Mas Arka bisa nangis juga?" Aline seolah tak percaya jika lelaki bertubuh kekar itu bisa meneteskan air mata karena dirinya.


"Tentu saja bisa, Nak. Sekuat apapun laki-laki, pasti akan tetap menangis ketika ia kehilangan orang yang paling dicintainya. Termasuk Arka." Tangan Bu Kanti terulur, membelai lembut ramput panjang sangenantu.


"Iya, Bu. Tapi syukurlah, sekarang semuanya sudah berlalu. Lengkap sudah semua kebahagiaan kita. Ibu sudah berubah dan bisa tinggal bersama kami, ditambah dengan kehadiran baby Shaka. Orang yang meneror Arum dan Johan juga sudah tertangkap," tutur Aline, sudut hatinya menghangat karena kebahagiaan tak terkira yang ia dapatkan saat ini.


Namun, berbeda dengan Arka. Wajah lelaki itu seolah masih menyimpan suatu kecemasan meski tak ia utarakan secara langsung.


"Kamu kenapa, Arka? Sepertinya masih ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Bu Kanti yang bisa membaca ekspresi raut wajah sang anak.

__ADS_1


Arka menjauh dari box baby Shaka kemudian menghenyak di sisi ranjang sang istri.


"Entahlah, aku merasa kebahagiaan kita memang sudah lengkap. Tapi tidak dengan Arum dan Johan, sepertinya masalah belum sepenuhnya selesai." Lelaki itu menggigit bibir bawahnya, menyembunyikan rasa kegelisahan yang masih terus bersemayam menghantui setiap pikiran.


"Apa maksud kamu semuanya belum selesai, Mas? Bukankah si Tirta sudah ditangkap dan sekarang dia juga sedang dirawat di rumah sakit ini?" Kedua alis Aline saling bertaut menatap wajah gusar sang suami.


"Iya, Aline. Untuk sementara mungkin aman, tapi aku takut kalau Tirta juga akan disimpulkan sebagai penderita gangguan jiwa dan dia bisa bebas begitu saja dari jeratan hukum. Entah mengapa, aku merasa jika Tirta ini lebih nekat dari Fitri. Bahkan dia bisa melakukan hal yang membahayakan kedua bayi tak berdosa itu," oceh Arka panjang lebar, ia terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Mencemaskan kebahagiaan kedua sahabatnya yang mungkin akan kembali terenggut jika Tirta sampai kabur atau bebas dari jeratan hukum.


Sementara itu Arum dan Johan tengah berada di dalam mobil. Pandangan Arum terarah keluar jendela, menatap gumpalan-gumpalan awan putih yang menghiasi langit biru.


"Sayang, kamu ngelamun?" tanya Johan pada sang istri.


Arum mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara Bariton dari orang yang paling ia cintai di dunia ini.


"Tidak, Mas. Aku nggak ngelamun kok, aku cuma menikmati kebahagiaan dan ketenangan ini sebelum kembali terangkut." Kata-kata Arum membuat Johan mengerem mobilnya secara mendadak.


"Mas, kok kamu malah ngerem mendadak begini sih?" Arum memprotes tindakan sang suami.


Lelaki itu memegang kedua bahu sang istri menatap lekat-lekat wajah cantik yang tetap ia puja meski sekarang mulai terlihat kusam karena terlalu memikirkan masalah yang silih berhanti menimpa rumah tangga mereka.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Arum? Seolah-olah kebahagiaan dan ketenangan ini tak akan bertahan lama. Aku mohon, buang semua rasa khawatir dan rasa ketakutanmu. Kita sama-sama rerpikir positif, aku yakin setelah ini tak akan ada lagi yang mengganggu kebahagiaan kita," nasihat Johan untuk sang istri. Lelaki itu merengkuh tubuh ramping Arum untuk masuk ke dalam pelukannya.


Namun, Arum malah terisak di sana. Bulir-bulir bening merintik membasahi kedua pipi putih milik wanita muda itu. Johan bergeming, membiarkan wanitanya menumpahkan segala rasa sakit, kesedihan dan juga kegelisahan dalam pelukan. Wanita itu melepaskan diri dari pelukan sang suami setelah merasa dirinya mulai tenang.


"Aku takut, Mas. Aku tidak akan bisa merasa tenang sebelum memastikan jik laki-laki bernama Tirta itu dijebloskan ke dalam penjara dan mendapatkan hukuman. Dia terlalu kejam, bahkan dia lebih kejam dari Fitri. Hampir saja dia mencelakai kedua anak-anakku yang tak berdosa."


Tentu saja Johan mengerti apa yang tengah dirasakan oleh sang istri saat ini. Rasa sakit dan rasa gelisah ketika seorang ibu mengetahui bahaya yang sedang mengintai anaknya.


Johan kembali menangkup kedua pipi wanitanya, menatap wajah ayu itu dengan penuh kasih sayang, "Sudah, kamu tenang ya. Aku yakin kali ini Tirta tidak akan bisa lolos lagi."

__ADS_1


Arum mengangguk kemudian menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Sedangkan Johan kembali menginjak pedal gasnya, menjalankan mobil hitam itu menuju rumah di mana baby Zia dan baby Zio tengah menunggu bersama Bi Marni.


__ADS_2